CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 46. Harus Baca Ya!


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian ….


Semua masalah satu-persatu mulai bisa Revan kendalikan. Ia tak habis pikir, kenapa tak dari dulu saja semua ini terbongkar? Kenapa Revan harus terjebak dulu dengan Davina dn anaknya?


Revan telah resmi menceraikan Davina, dan mengembalikan semua harta milik keluarga Gunadarma. Akan tetapi, keluarga Gunadarma begitu dermawan, mereka tulus membantu keluarga Sadewa, dan tak meminta imbalan kembali.


Keluarga Gunadarma malu, karena sepertinya kini Davina mengalami gangguan jiwa, sepeninggalan anaknya. Akhirnya Davina pun diasingkan, dan dibawa pergi ke luar negeri, untuk menjalani pengobatan. 


Mereka sudah memutuskan hubungan dengan semua ini, akhirnya Revan pun lega. Ia bisa memerjuangkan Livia dan anaknya tanpa khawatir akan ada yang tersakiti. Helma Sadewa tentu saja belum bisa sepenuhnya menerima Livia kembali, namun Revan sudah tak peduli. Yang terpenting, kebahagiaan Livia dan anaknya, harus menjadi priorotas utamanya.


Sebelum Revan mempersunting Livia lagi, ia berniat untuk meminta maaf kepada keluarga Livia. Revan harus berani mengakui kesalahannya, apalagi kepada ibunda Livia.


Revan sudah mencoba menghubungi ayah dan adik laki-laki Livia. Revan mengatakan, agar mereka berusaha untuk memberi tahu kebenaran yang dialami oleh Livia pada ibunya. Ibu Livia pasti tak mengetahui perjuangan dan pengorbanan Livia sampai sejauh ini.


Semua karena ulah Revan, hingga akhirnya Livia diusir dari rumah dan hidup seorang diri di sebuah kota dengan bayi yang dikandungnya. Ini adalah kesalahan fatal yang membuat Revan sangat-sangat merasa bersalah. 


Akhirnya ia memberanikan diri, membawa Livia dan anaknya  menuju ke kediaman keluarga Livia. Revan ingin menjelaskan semuanya, dan tentu saja, ia ingin meminta maaf pada ibunda Livia.


Bayi Livia sangat cantik dan manis sekali. Wajahnya kini smar-samar sudah mulai terlihat mirip dengan Livia. Sungguh wajah bayi yang lucu dan menggemaskan. Revan pun tak henti-hentinya menatap Livia dan juga buah hatinya.


Sepanjang perjalanan, Livia tak bisa diajak berbicara sedikitpun. Tubuhnya berkeringat dingin, dan wajahnya nampak pucat pasi. Livia tentu saja ketakutan, karena hari ini ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya. Hal yang sangat ingin ia lakukan sejak dulu, namun Livia takut, jika terus memaksa, pasti akan menyakiti hati dan perasaan orang tuanya.


Mungkin baru kali inilah, waktu yang tepat bagi Livia untuk bisa bertemu dengan kedua orang tuanya. Ditemani Revan, tentu saja Livia mampu berada di belakangnya, jika keluarganya marah padanya.


Saat mereka telah sampai di kediaman keluarga Livia, ada perasaan aneh yang ada pada diri mereka masing-masing. Ada rasa takut dan khawatir, jika keluarga, terutama Ibu Livia, tak bisa menerimanya dengan baik. Apalagi mereka membawa bayi mereka, yang tentu saja harus mereka lindungi.

__ADS_1


Saat Revan dan Livia mengetuk pintu, kedua orang tua Livia, sudah berada di depan pintu, dengan air mata yang sudah berlinang, dan tak bisa lagi dihentikan. Air mata itu terus mengalir. Dan mereka menatap Livia dengan penuh kesedihan yang tak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata.


"L-Livia, sayang … m-maafkan Ibu, Nak,"


Livia kaget, rupanya ibundanya menangis dan meminta maaf lebih dulu kepadanya. Livia tak pernah menyadari, ternyata ibunya telah mengetahui semua yang terjadi padanya, bahkan sejak awal Livia menikah dengan Revan.


"I-Ibu, i-ibu, maafkan Livia …"


Livia memeluk ibuya dengan hati dan perasaan yang campur aduk. Entah bagaimana ia menata hatinya saat ini, sungguh ini adalah hal yang selama ini ia nantikan.


Hidup berpisah dengan ibundanya, dan bukan itu yang Livia inginkan selama ini. Ia sudah terlalu lama menahan rasa sakit meninggalkan keluarga dan rumah ini.


Akhirnya, kebahagiaan itu datang juga. Belum sampai Livia berucap sepatah kata pun, namun pada akhirnya, sang ibunda yang menitikkan air mata terlebih dahulu.


Setelah pelukan penuh kerinduan tersebut, akhirnya Livia dan Revan masuk ke dalam rumah. Nampak sekali wajah penuh rasa bersalah terlihat di raut ibunda Livia.


Memang sejak Livia diusir dari rumah pun, bapak dan adiknya ingin segera memberi tahu sang Ibu. Namun Livia bersikeras, memohon agar semua itu tak diberi tahu.


Livia khawatir akan kondisi kesehatan ibunya, jika mereka mengatakan tentang kejujuran biaya operasi kala itu.


Kini, kepahitan itu mulai sirna. Livia sudah menemukan jalan tengah untuk kebahagiaannya dan juga buah hatinya. Sudah ada Revan, yang berada disisinya, untuk membuatnya bahagia, walau mereka sadar, cinta itu memang belum sepenuhya hadir.


"Ibu, maafkan aku, yang begitu abai dan membiarkan kalian. Semua ini terjadi karena kesalahanku. Maaf saja sepertinya tak cukup untuk membuat kalian mau menerimaku. Namun, aku berusaha untuk mengembalikan kebahagiaan Livia yang dulu sempat sirna. Aku akan bertanggung jawab penuh, untuk kebahagiaan Livia. Ibu, Bapak, percayalah padaku. Aku mungkin berasal dari keluarga tamak dan sombong. Akan tetapi, aku berusaha semampuku, untuk bisa membuat keadaan kembali seperti sedia kala. Jangan lihat keluargaku, tapi lihatlah aku yang akan berusaha untuk membuat kalian bahagia. Bayi ini, adalah darah dagingku, yang terjadi saat aku dan Livia masih menjadi suami istri. Untuk itu, aku akan membawa bayi ini, dan juga membahagiakan Livia, dan aku ingin meminta restu pada kalian. Kumohon, maukah kalian menyetujui aku? Untuk bisa masuk kedalam kehidupan putri sulung kalian? Pak? Bu?"


Tanpa basa-basi lagi, Revan langsung bersimpuh di kedua kaki bapak dan ibu Livia. Hal ini tentu saja membuat mereka semua kaget.

__ADS_1


Termasuk Livia sendiri. Livia tak pernah tahu, jika Revan berani melakukan hal tersebut. Akhirnya, kedua orang tua Livia pun luluh.


Mereka tak sedikitpun menyimpan dendam pada keluarga Sadewa. Semua ini memang sudah menjadi takdir Tuhan, yang telah berhasil mereka lewati, dengan kesakitan dan air mata.


"Bangunlah, Nak. Kau tak pantas melakukannya. Jangan seperti ini, kau membuatku semakin merasa bersalah. Aku akan memaafkan semuanya, aku akan menerimamu, dan juga cucuku, asalkan, kau menikahi kembali anakku, dengan menggelar acara resmi, dan membuatnya benar-benar diakui, oleh seluruh orang-orang yang mengenal kalian. Aku tak ingin anakku disembunyikan. Jika memang kau menginginkannya, kau harus mengakuinya dihadapan semua orang, dengan ikrar suci, yang dahulu tak aku dengar!" tutur ibunda Livia, sembari mengusap lembut bahu besar Revan.


Revan mengangguk mantap, "aku akan membuat pesta pernikahan besar, untuk mengakui anak dan istriku dihadapan semua orang. Ini akan kulakukan, untuk kebahagiaan kita semua. Terima kasih, Bu, telah memberikanku kesempatan kedua, untuk bisa mencintai dan menyayangi Livia …"


Akhirnya, semua telah menemukan jalan akhirnya. Bayi mereka akan diakui secara hukum dan agama. Revan akan kembali menikahi Livia, dan berusaha untuk bisa membahagiakan Livia, setelah semua luka, dan kepedihan ia lewati seorang diri.


Selesai ….


Makasih temen-temen, untuk cerita ini plotnya dibuat pendek ya, karena ada tuntutan novel baru yang lagi aku garap. Untuk novel selanjutnya, pasti akan banyak episodenya, karena mengikuti aturan kontrak yang baru.


Yuk, beralih ke novel baruku man teman, judulnya "MENIKAHI ANAK SMA" Ceritanya pasti seru kok, apalagi itu novelnya tentang siswa dan guru.


Kalian bisa klik profilku, dan cari novel baruku ya gengs… Ayo, beralih ke sana ya, karena di novel baru, episodenya akan lebih panjang, dan sering update. Makasih banyaaaaak, maaf jika aku slow respon .


Mulai kedepannya, insyaAllah akan lebih sering aktif. Untuk yang mau berinteraksi dengan aku, bisa hubungi aku by WA ya, bisa kalian sharing dan curhat apapun kalau aku lagi santai.


Mana tahu ada yang punya ide baru, bisa beri aku saran untuk ide-ide di novelku. Ini nomorlku, bisa dihubungi jika kalian membutuhkannya, ya :


085559754723


Yuk, baca novel baruku. Akan update rutin mulai hari ini. Makasih gengs…..

__ADS_1



__ADS_2