CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 37. Masih Belum Menyadarinya


__ADS_3

Livia terbangun dengan keadaan syok dan kaget bukan main. Setan apa yang menghampiri Revan, sehingga membuat Livia bisa berada di ranjangnya, apalagi dengan keadaan tak berbusana.


Livia menangis ketakutan, ia tak pernah menyangka, jika hal seperti ini akan terjadi padanya. Kenapa bisa Livia tak menyadari jika Revan melakukan hal seperti ini padanya?


Sebenarnya, apa yang revan lakukan padanya? Kenapa Livia bisa tak sadar kala itu? Livia sadar setelah itu terbangun, hanya terbalut sebuah selimut, tanpa menggunakan pakaian apapun. 


Hal ini yang membuat Livia menangis dan memikirkan apa yang telah terjadi padanya. Livia refleks menjauh dari Revan yang tengah terkapar tanpa sadar, ia segera mengambil handuk, dan menutupi tubuh polosnya.


“Apa ini? Apa yang telah terjadi padaku? Apa yang telah Mas revan lakukan padaku? Ya Tuhan, kenapa bisa-bisanya berapa jam  aku tak menyadari hal ini? Apa yang dia lakukan padaku? Kenapa kepalaku kini jadi berat sekali? Jika dia melakukan sesuatu padaku, tak mungkin aku tak menyadarinya. Aku pasti akan sadar dan terbangun. Tetapi ini, kenapa bisa aku tak tahu sama sekali dengan kejadian yang telah menimpa diriku? Aargrgghh, apa ini, apa yang terjadi?”


Livia menangis sembari meratapi tubuhnya. Ia heran sama sekali, kenapa bisa Livia tak terusik saat Revan berbuat sesuatu? Livia yakin, Revan pasti melakukan hal aneh padanya, karena Livia pun merasakan sesuatu yang menyakitkan di bagian sensitif tubuhnya. Mungkinkah Revan melakukan hal tersebut?


Padahal, Livia seharusnya bisa merasakan apa yang Revan lakukan padanya. Namun ketika melihat beberapa obat di atas meja, sepertinya ada obat penenang yang Revan berikan pada Livia.


Sehingga Livia tak menyadari apapun yang dilakukan oleh Revan padanya. Perasaannya kini benar-benar kacau dan hancur, Livia tak basa-basi lagi, ia segera membawa semua pakaiannya dan pergi meninggalkan Revan seorang diri. 


Sesuai janjinya pada Helma, Livia harus angkat kaki dari rumah ini, sebelum Revan terbangun. Jika saja Livia tahu kejadiannya akan seperti ini, mungkin akan terasa lebih baik, jika Livia kabur sejak semalam saja.


Jika Livia pergi malam itu, mungkin Revan tak akan melakukan hal gila ini padanya. Ah, tapi Livia sudah tak peduli dengan nasib dan kehidupannya. Yang terpenting sekarang ini, Livia bisa keluar dan pergi menjauh selama-lamanya dari keluarga ini.


"Apapun yang terjadi, aku akan serahkan padaMu, Yang Maha Kuasa. Aku tak tahu apa yang telah terjadi semalam, akan tetapi, aku harap jika tak akan terjadi apapun nantinya. Aku ingin benar-benar lepas dari keluarga ini, kumohon … Ya Allah …."

__ADS_1


Livia akhirnya menghilang sebelum semua orang menyadari kepergiannya. Sesuai perintah Helma, jangan sampai ada satupun orang yang menyadari kepergiannya.


.


.


Sinar mentari yang mulai menerobos masuk di balik jendela, membuat Revan tersadar, jika hari sudah siang. Rasanya, Revan masih ingin terpejam, namun matanya memaksa untuk segera membuka kelopaknya.


Revan menggeliat, tubuhnya benar-benar remuk, sulit rasanya bagi Revan untuk bergerak bebas, karena semua tubuhnya sakit dan juga masih lemas.


Begitu pula dengan kepalanya, pusing dan sangat sulit untuk digerakkan. Revan memegangi kepalanya, karena benar-benar terasa sakit dan pengar.


Revan heran, kenapa tak juga ada jawaban. Akhirnya Revan memaksa bangun seorang diri, dan melihat keadaan sekitar kamarnya.


Ternyata Livia memang tak ada, dan kamar Revan pun masih berantakan. Kenapa bisa begini? Bukankah setiap pagi kamar Revan selalu rapi dan wangi? Sekalipun Revan belum bangun, dan masih nyaman terlelap.


"Kenapa kamarku tidak dibereskan? Kenapa bau sekali? Bau apa ini? Kenapa seperti bau alkohol? Apakah semalam aku mabuk? Dan juga, kenapa Livia tidak membereskannya? Kemana dia? Kurang ajar sekali, kenapa Livia malah menambah beban di kepalaku!" Revan mengacak-acak rambutnya, saking kesalnya pada Livia.


Setelah Revan minum air putih, keadaannya sedikit membaik, ia bisa berjalan walaupun dengan keadaan masih serba tak enak.


Revan keluar dari kamarnya, dan berusaha untuk mencari Livia. Namun, baru saja Revan membuka pintu kamarnya, Helma ibunya, sudah berada di depan pintu, dengan selembar surat yang tengah ia pegang.

__ADS_1


"Mama, sedang apa kau di depan kamarku?" tanya Revan sedikit kaget.


"Revan, gawat! Mama menemukan surat ini di depan pintu kamarmu! Mbok Ratmi tadi sedang menyapu, lalu ia melihat sepucuk surat di bawah pintu kamarmu! Kau bacalah ini, baru kau akan sadar apa maksudnya!" tutur Helma dengan ekspresi khawatir yang dibuat-buat.


Revan mengambil selembar surat tersebut. Ia membacanya dari dalam hati, betapa mengejutkannya, ketika perlahan-lahan Revan mencoba mencerna apa maksud dari surat ini.


"Sial! Apa maksudnya ini? Livia pergi? Tak mungkin! Dia tak mungkin melarikan diri, kalau bukan Mama yang mengusirnya!" Revan menyalahkan Helma.


"Revan! Jangan asal menuduh jika tak ada buktinya! Mama tak tahu apapun tentang kepergian Livia! Kenapa kau malah menuduhku seenak jidatmu? Jangan mentang-mentang aku memaksamu untuk menikah dengan putri Pak Dharma, kau jadi mengira jika aku mengusir istrimu! Mana kutahu apa yang sebenarnya terjadi, baca saja isinya! Memang dia sendiri kan yang sadar diri, dan memutuskan untuk meninggalkanmu dan rumah ini!"


"Mama cukup! Kau tak bisa terus bersilat lidah! Aku tahu, ini pasti ulahmu, kau pasti dalang di balik semua ini! Aku tak bisa membiarkan hal ini terjadi, kau sudah keterlaluan, Mama! Aku akan pergi mencari Livia, dan akan kupastikan, jika dia akan berada kembali dalam kehidupanku!" tegas Revan.


"Silakan! Silakan kau pergi dan cari dia kembali! Asalkan dengan satu syarat, kau tak boleh menggunakan fasilitas keluarga Sadewa, kau tak boleh melakukan apapun dengan uang dan fasilitas milikku! Harusnya kau sadar, Revan! Livia pergi meninggalkanmu, karena dia ingin menolong perusahaan kita. Dia mengerti, bahwa kau memang harus bersama wanita yang tepat, agar perusahaan kita bisa diselamatkan! Kenapa kau begitu bersikukuh dan tak mengerti, ha?"


"Diam, Mama! Aku akan berusaha semampuku untuk mencari Livia, dan membuatnya kembali bersamaku! Kau tak berhak mengatur hidupku!! Akan kucari dia, ke manapun dia pergi!"


Revan kembali masuk ke dalam kamarnya, dan membanting pintu dengan sekuat tenaganya, sampai Helma terkaget-kaget. Revan hancur, benar-benar hancur, karena kenyataan Livia pergi meninggalkannya.


Saat Revan berjalan melihat barang Livia yang benar-benar menghilang, anehnya, pandangannya malah tertuju pada sprei di kasurnya. Sprei berwarna coklat susu itu, terdapat sedikit bercak merah yang aneh dan membuat Revan bingung.


"Apa itu? Bercak merah di sepraiku? Darah? Apakah aku terluka? Darah apa itu?" batin Revan sembari berpikir, apa yang telah terjadi padanya.

__ADS_1


__ADS_2