
Sembilan bulan yang lalu ….
POV Revan ….
Akhirnya aku lelah, aku menyerah. Aku mengangkat bendera putihku, karena semua aksesku untuk menemukanmu ditutup habis-habisan oleh keluargaku.
Aku sangat merindukanmu, Livia. Aku ingin segera menemukanmu, tapi rasanya begitu sulit untukku, ketika aku dihantam oleh keluargaku.
Mereka bedeb4h, mereka lakn4t. Mereka benar-benar monster kejam, yang memainkan pion lemah sepertiku. Tanpa kekuasaan dan harta, aku bukanlah apa-apa. Karena itulah, sulit bagiku untuk bisa menemukanmu, Livia.
Kedua tanganku ini tak ada apa-apanya, aku bodoh, aku tak bisa menemukanmu untuk kembali kepadaku. Semua sudah aku sesali habis-habisan. Aku menyerah, dan aku lelah bermain kucing-kucingan dengan keluargaku sendiri.
Akhirnya, aku menerima lagi perjodohan gila yang mereka lakukan. Aku hampir jatuh, benar-benar jatuh, jika aku tak menuruti semua keinginan keluargaku.
Aku menikah dengan seorang wanita yang telah hamil. Namun dia enggan mengatakan siapa ayah kandungnya. Dan bodohnya, aku yang harus bertanggung jawab menjadi ayah dari bayi yang dikandung itu.
Mendengar kisahnya saja, aku sudah benar-benar muak ingin muntah. Aku benci pada wanita murahan seperti ini. Namun apalah dayaku, aku tak sanggup menolaknya.
Keluarganya mampu menolong kebangkrutan perusahaanku. Oleh karena itulah, aku bersedia dijodohkan olehnya, dan aku tak memiliki pilihan lain, selain pasrah mengikuti alur yang harus kulewati.
__ADS_1
Akhirnya aku resmi menjadi suaminya, dan secara langsung, mengabarkan kehamilan tersebut. Hal itu sudah dijelaskan saat resepsi pernikahan, agar semua orang tahu, bahwa itu adalah 'anak kandungku'.
Selama sembilan bulan menikah dengannya, aku tak pernah sekalipun menyentuhnya. Aku hanya terlihat baik didepan keluarga kita saja. Selebihnya, aku sangat-sangat membenci wanita murahan ini.
Davina namanya … dia kini menjadi istriku, dan baru satu bulan melahirkan anaknya. Aku berusaha sekuat hatiku, untuk bisa menerima mereka. Namun rasanya benar-benar sulit dan canggung.
Aku hanya bisa memainkan peran seolah-olah aku menerima mereka. Padahal, aku sungguh membenci keadaan ini. Aku hanya berpura-pura baik, agar Davina tak mengidap baby blues lagi.
Huft, sungguh hidup yang malang. Jika saja aku sudah memiliki kekuasaan sendiri, maka akan kupastikan, aku akan lari meninggalkan mereka semua, bahkan meninggalkan keluargaku sendiri.
Dan kali ini, seakan keajaiban datang menghampiriku, aku benar-benar tak pernah menyangka, jika aku bisa bertemu lagi dengan wanita yang selama ini selalu aku rindukan.
Wanita yang selalu ada dalam ingatanku, wanita yang selalu aku pikirkan setiap saat, kini dia menampakkan dirinya dihadapanku, di saat-saat yang bahkan aku sendiripun tak pernah menduganya sama sekali.
Wajah yang lusuh, rambut yang acak-acakan tak terurus, perut yang buncit dan bajumu yang kotor karena debu, tetap tak menutupi kecantikanmu yang sesungguhnya.
Jika bisa, aku ingin berteriak, sujud syukur atas pertemuan ini. Aku benar-benar berterima kasih pada Tuhan, karena Dialah yang telah mempertemukan kita, Livia…
POV Revan Selesai…
__ADS_1
Lamunan Revan tiba-tiba buyar, ketika ponselnya berdering. Istrinya memanggil, dan seketika itu pula, Revan langsung tersadar, jika hidupnya sudah tak lagi sama seperti dahulu.
"Halo, ada apa?"
"Sayang, kudengar kau sedang keluar kota? Kau ke kota B kan? Kenapa tak bilang padaku? Jahat sekali! Sayang, belikan aku kue susu khas dari kota itu ya! Jangan sampai lupa,"
"Ya! Jangan mengganggu, aku sibuk." Seketika itu pula, Revan langsung mematikan ponselnya, karena ia malas berinteraksi dengan Davina.
Revan kembali fokus di ruang bersalin, dan berharap, semoga segera ada kabar baik yang bisa ia dengar dari dokter kandung. Selang beberapa menit, Tiba-tiba sang Dokter pun keluar dari ruangan.
"Kami sudah mengupayakan kelahiran normal untuk saudari Livia. Akan tetapi, setelah kami periksa, sepertinya kandungannya bermasalah, dan tak mungkin bisa dipaksakan untuk melahirkan normal. Hal itu akan membahayakan bayi dan juga istri Anda, Pak. Istri Anda harus segera dilakukan operasi sesar. Mengingat, janin mengidap placenta previa, yang mana jalan lahirnya tertutup dan bayi pun terkena lilitan di lehernya. Untuk posisinya pun, sepertinya belum mapan. Bahkan, cairan ketubannya sudah keruh, kami benar-benar khawatir dengan kondisinya. Tak lama lagi, akan dilakukan operasi sesar demi keselamatan ibu dan bayinya. Untuk itu, kami harapkan, Bapak segera menandatangani persetujuan operasi Saudari Livia. Kami akan mengupayakan yang terbaik, dan terus berdoa ya, Pak. Jangan putus-putus berdoa. Semoga ibu dan bayinya baik-baik saja," jelas sang Dokter membuat Revan kaget bukan main.
"Berapapun akan kubayar kalian, asalkan selamatkan istri dan anakku sekarang juga! Jangan biarkan terjadi apapun pada mereka! Ingat itu ya! Berapapun kubayar, asal mereka harus selamat! " ucap Revan begitu lantang, saking ia kaget dan tak percaya, mendengar kondisi kehamilan Livia.
"Baik, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik. Yang sabar ya, Pak. Kami permisi masuk kembali,"
Jantung Revan lagi-lagi berdebar tak karuan. Hatinya hancur, pikirannya melayang ke mana-mana. Penyesalan itu terus menghujam dadanya, hingga rasanya begitu sesak, dan Revan kesulitan untuk bernapas dengan baik.
Penjelasan Dokter yang membuatnya lemas, benar-benar lemas. Separah itukah kondisi dan keadaan Livia? Revan merasa, jika ialah yang menjadi penyebab semua ini terjadi.
__ADS_1
Ini adalah kebodohannya, karena telah membiarkan Livia seorang diri. Rasanya, dunianya hancur seketika, saat mendengar kondisi Livia dalam bahaya. Revan tak kuasa menahan tangisnya, sungguh-sungguh tak bisa ia bayangkan, bagaimana hati dan perasaan Livia selama ini.
"Tuhan, kenapa Kau pertemukan kembali aku dengan Livia? Apa yang telah Kau rencanakan untukku? Tuhan, jika memang itu adalah anakku, kumohon sehatkan dia, kuatkan dia, biarkan dia hidup, aku ingin melihatmu, Tuhan! Aku ingin memeluknya! Kumohon, kuatkan juga Livia. Walau bagaimanapun, dia adalah wanita bodoh yang sebenarnya aku cintai! Aku mencintainya, Tuhan… kumohon selamatkan dia, aku ingin melihatnya tersenyum kembali! Aku, aku ingin menebus semua dosaku padanya. Kumohon… kabulkan permintaanku ini, Tuhan… " Revan menangis sesenggukan, ia benar-benar hancur, ia kini merasakan sebuah penyesalan terdalam, yang sepertinya tak akan pernah bisa dibayarkan oleh apapun lagi.