
“Ada angin apa? Kenapa tiba-tiba dia jadi aneh seperti ini? Kenapa tiba-tiba dia mau mengikuti permintaanku dan mengatur skenario dengan sedemikian rupa? Apakah dia kasihan padaku? Apakah, sebenarnya, dibalik kejamnya Mas Revan, dia memiliki sisi baik yang tak pernah aku tahu? Entahlah, hati dan pikirannya tak akan pernah bisa aku tebak sama sekali. Aku tak pernah tahu, apa yang akan dia lakukan lagi nantinya. Aku hanya berharap, jika dia tak akan berulah dihadapan keluargaku …”
Rasa takut itu menjalar dan membuat Livia begitu tak nyaman. Ia sungguh tak sanggup, memikirkan apa yang akan terjadi nantinya. Livia hanya bisa pasrah mengikuti apa yang Revan inginkan. Manusia satu ini, memang tak akan pernah bisa ditebak maunya seperti apa dan bagaimana.
“Ayo naik! Cepat pakai helm-mu!” lagi-lagi Revan mengagetkan lamunan Livia.
“Ah, i-iya Mas, baik, maaf aku tak fokus,”
Livia pun naik motor Revan dengan perasaan gugup bukan main. Bagaimana tidak gugup, ini adalah kali pertama Revan mau berada sangat dekat tapa jarak dengannya. Duduk dalam satu motor berdua itu jelas saling berdempetan dan bahkan mereka harus berpegangan.
“Kenapa kau gugup sekali? Kau malu satu motor bersamaku?”
“Tidak, Mas. Aku hanya belum terbiasa saja, maafkan aku,”
“Pegangan! Kenapa sulit sekali memegang pinggangku, kau mau jatuh, ha? Ini bukan motor matic! Ini motor sport 1000 cc, kau mau terbawa angin jika tidak memegangku, ha?”
“B-baik, Mas. Jangan kencang-kencang ya bawa motornya, jantungku selalu berdebar tak karuan, jika ngebut-ngebut,” Livia menghela napasnya.
“Mana ada motor ini pelan-pelan. Motorku sudah sekelas milik Mark Marquez tahu! Jangan berisik kau, jika memang ingin pulang!”
“Mas, tidak adakah motor matic? Aku takut,”
“Kau ini lama-lama menyebalkan sekali ya! Sudah naik, jangan banyak bicara terus! Sekali lagi kau bicara, kau jangan pulang ke rumah orang tuamu!”
“J-jangan begitu, Mas, baiklah, baiklah,” dengan terpaksa, akhirnya Livia pun memegang pinggang Revan dengan erat, karena Livia tahu, dibonceng dengan motor sport seperti ini, akan sangat menakutkan.
__ADS_1
Revan pun mulai menyalakan motornya. Motor mewah ini begitu bising sekali, hingga suara apapun tak akan terdengar, karena knalpot yang Revan gunakan, adalah knalpot racing yang berisik. Sebenarnya, tangan dan kaki Livia gemetar saat ini. Gemetar karena ia harus memegang Revan, dan rasa takut karena Revan melajukan motornya begitu kencang.
Satu jam setengah berlalu, akhirnya Revan dan Livia sampai di kediaman kedua orang tuanya. Sebelum berangkat, Livia sudah memberi pesan pada adiknya, jika ia tak boleh menganggap Revan Tuan muda. Livia meminta pada adik dan ayahnya, agar pura-pura tidak mengenal Revan, dan bersikap biasa saja.
Hal ini sudah disetujui oleh revan, karena Revan hanya ingin melihat kondisi ibunya Livia saja. Separah apa penyakitnya, hingga keluarganya tega menjual Livia padanya.
Livia membuka gerbang reyot rumahnya, dan ia perlahan masuk ke dalam, Revan masih terus menemaninya. Ada satu hal yang membuat Revan penasaran pada sosok keluarga Livia. Hal yang sebenarnya jarang sekali Revan lakukan, yaitu ikut campur pada urusan orang lain.
“Selamat siang, Ayah, Ibu, Livi pulang …” sapa Livia, begitu Lingga membukakan pintunya.
“Livia …”
Seorang wanita paruh baya yang masih duduk di kursi roda, berkaca-kaca melihat kedatangan Livia yang begitu mendadak. Dirinya tak diberi tahu, jika Livia akan pulang, karena memang Livia ingin memberikan surprise pada sang Ibu.
Livia langsung berlari masuk ke dalam, dan bersujud di kaki ibunya. Livia menangis, Livia begitu bersyukur, sujud yang begitu bermakna, karena masih bisa melihat ibunya tersenyum dan berada dihadapannya saat ini.
Perjuangannya tidak sia-sia, usaha yang ia lakukan, walau menyakitkan hati dan perasaannya, akhirnya terbayar dengan kesembuhan ibunya. Inilah yang Livia inginkan, masih bisa melihat senyuman sang ibunda, sungguh, sungguh Livia sangat bahagia dan terharu.
Walaupun ia harus hidup bersama orang kejam seperti Revan, namun hal itu tidak seberapa, dengan kebahagiaan yang ia dapatkan, ketika masih bisa melihat senyum dan tangisan Isma, sang Ibu.
“Akhirnya kamu pulang juga, sayang. Ibu sangat merindukanmu, sesibuk apakah kau ini, sampai-sampai begitu teganya melupakan ibu dan lama sekali tak pulang?” suara itu begitu lirih, dan penuh harap.
“Maafkan Livia, Bu, maafkan Livia. Livia benar-benar sibuk, pekerjaan Livia tak bisa ditinggalkan. Livia tidak pulang, bukan berarti Livia tidak ingat dan lupa pada Ibu. Ibu harus tahu, setiap malam, doa selalu teriring untuk Ibu, livia selalu mendoakan yang terbaik untuk kesehatan Ibu. Ibu jangan bersedih hati, sekarang kan Livia sudah pulang untuk menengok Ibu, ibu jangan marah lagi ya. Dengan melihat Ibu sudah pulih dan sembuh pun, Livia sudah sangat bahagia. Maaf ya, Bu, Livia jarang pulang. Ibu jangan sedih lagi, ya,”
ISma Yani memeluk dan mengusap lembut punggung anak sulungnya itu. Ia kesal, memang kesal. Livia begitu mengabaikannya, dan tak mau pulang untuk menemuinya. Padahal Isma tidak tahu, apa yang sebenarnya tengah Livia lewati saat ini.
__ADS_1
Revan dipersilakan masuk, dan duduk di kursi dekat tempat Isma Yani dan Livia saling melepas kerinduan. Setelah itu berakhir, pandangan Isma Yani pun menoleh pada sosok Revan, yang terlihat trendy dan sangat tampan. Isma mengerutkan dahinya, siapa dia? Batinnya.
“Livia, siapa dia? Kau belum mengenalkannya padaku,”
Lingga dan Dodi pun saling lihat-lihatan. Mereka jelas tahu, jika pria itu adalah Tuan muda terhormat dari keluarga Sadewa. Mereka gugup dan sedikit takut, apa yang akan Livia dan Revan ceritakan pada ibunya.
“Ah, halo, Ibu, selamat siang, maaf belum mengenalkan diri, karena saya begitu terharu melihat kalian melepas rindu seperti ini. Kenalkan, saya Revan, Bu. Saya adalah rekan kerja Livia di restoran. Saya yang mengantar Livia ke sini, agar Livia sampai di rumah dengan selamat. Salam kenal ya, ini ada sedikit oleh-oleh yang kubawa untuk kalian …”
Deg. Livia benar-benar kaget. Rupanya, Revan menyimpan sesuatu dibalik jaket tebalnya saat tadi akan berangkat. Rupanya itu sebuah oleh-oleh, yang berisikan beberapa kue dan makanan.
Livia kaget bukan main. Ia dan ayahnya saling lihat-lihatan, bisa-bisanya Revan membuat drama sendiri, tanpa berkata dahulu pada Livia.
“Kau temannya? Teman apa teman? Tak usah malu, anak tampan. Katakan saja, apakah kau adalah kekasih Livia?”
“Uhuk, uhuk …” Revan dan Livia refleks tersedak bersamaan.
“Nah, kan, kalian gugup. Kau pasti adalah kekasih anakku. Terlihat sekali, wajahmu begitu hangat dan kau sepertinya memang penyayang. Siapa namamu tadi? Ah, iya, Revan … Revan, jaga Livia, ya. Lindungi dia, ingatkan dia dalam hal apapun. Kalau kau menyayanginya, kau harus menjaganya dan membuatnya nyaman berada dalam pelukanmu. Usia ayah dan ibu sudah tak lagi muda, dan mungkin tak lama lagi nyawa kita di dunia itu, untuk itu, ibu ingin ada sosok pria yang akan menyayangi dan mencintai Livia, sebagai pengganti kami. Ibu berharap, jika kau adalah orangnya. Apakah kau sanggup nak?”
“Ibu, Ibu ini bicara apa sih? Jangan ngawur, udah ah,” Livia sungguh tak nyaman dengan pembahasan sang ibu.
“Saya akan menjaga dan mencintai Livia dengan sepenuh hati, Bu. Ibu tak perlu khawatir, Livia akan bahagia bersama saya …,” Revan tersenyum, ia terlihat begitu tulus dan sangat hangat kali ini.
Deg, ada apa dengan Revan? LIvia, Lingga, dan ayahnya saling lihat-lihatan lagi. Mereka sungguh heran, dengan tingkah Revan saat ini. Kenapa bisa seperti ini?
“Apakah dia tengah kesurupan saat ini?” batin Livia, karena sungguh heran dengan perubahan sikap Revan yang tak pernah Ia sangka-sangka.
__ADS_1