
Revan asyik memakan makanannya, hingga ia lupa ke mana perginya Livia. Saat Livia izin untuk ke toilet, Revan merasa masa bodoh dan dan tak peduli sama sekali.
Ia terus memakan makanannya, tanpa peduli pada Livia sedikitpun. Hingga pada akhirnya, Revan mulai teringat Livia yang tak kunjung kembali.
Seperti ada yang hilang, karena Revan kini telah fokus melihat ke kursi Livia. Sebenarnya, Livia ini tak ada arti apapun di mata Revan. Hanya saja, akhir-akhir ini, setelah Revan dan Livia sering bersama, kadang Revan merasa, jika Livia tidak ada, sepertinya ada yang kurang.
Hidup Revan kini sudah bergantung pada Livia. Jika Livia hilang dari pandangannya, maka kini Revan mulai refleks teringat padanya.
Seperti saat ini, Revan malah menyusul Livia ke toilet. Saking Revan geram, karena Livia pergi terlalu lama.
Saat berada di toilet, Revan marah bukan main. Kenapa bisa-bisanya Livia berlama-lama di toilet, sementara Revan telah menunggu dirinya.
"Apa-apaan ini? Siapa kau? Kenapa kau memegang tangan Livia?" Revan mendelik kasar pada pria itu. "Livia, kenapa kau selalu saja berurusan dengan banyak pria? Apakah kau ini memang benar-benar wanita nakal, ha?"
"Kau tak tahu apa-apa, Mas Revan! Maaf, sepertinya kali ini, aku harus menyelesaikan masalahku dulu. Apakah kau mau menungguku sekitar 10 menit saja?" rayu Livia.
"Livia, kau harus katakan pada suamimu ini, tentang siapa diriku sebenarnya!"
"Memangnya siapa kau? Ha?" Revan kesal.
__ADS_1
"Aku adalah kekasih Livia, kekasih yang ditinggalkannya sejak bulan lalu, karena dia menikah denganmu! Dan aku sungguh penasaran, apa yang kau lakukan padanya, sehingga dia rela menikah denganmu dan meninggalkanku, dengan luka yang bahkan sangat membekas sampai sekarang!" Akhirnya Bayu membuka suara, karena ia benar-benar marah dan emosi pada Livia.
Livia kaget bukan main. Darimana Bayu tahu jika ia telah menikah dengan Revan? Kenapa rahasia ini bisa diketahui olehnya?
"Kak Bayu, tenanglah dulu! Nanti aku akan menemuimu, namun sebelum itu, aku akan pulang dulu bersama Mas Revan. Kumohon, kali ini lepaskan aku dulu, Kak. Aku pasti akan menjelaskannya padamu, namun tidak sekarang. Sungguh maafkan aku, maafkan aku," wajah Livia mulai pucat, terlihat sekali jika ia begitu takut dan bingung harus berbuart apa.
Revan jadi merasa iba, ia ingin marah sebenarnya, namun melihat wajah Livia yang begitu menyedihkan, Revan menarik napasnya dalam-dalam. Memerhatikan sosok Bayu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Berharap jika Livia akan memberitahu kejujuran itu pada sosok pria ini. Tak pernah Revan sangka, jika Livia rupanya memang memiliki kekasih, dan hatinya pun tentu pasti jatuh pada pria ini.
"Aku tunggu kau di meja kita! Waktumu sepuluh menit, tak lebih dari itu! Camkan itu, dan jangan buat masalah lagi!" tutur Revan pada Livia, lalu ia berlalu meninggalkan Livia dan Bayu.
"T-tapi, Mas Revan,"
Bayu merasa lega, karena Revan memberi jalan untuk dirinya berbicara dengan Livia. Ini adalah kesempatan besarnya untuk bisa menumpahkan segala sesak dan rasa sakit di dadanya.
"Jadi benar, dia adalah suamimu?"
"Ya, Kak. Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya,"
__ADS_1
"Pasti karena biaya pengobatan ibumu," tebak Bayu.
"Aku tak memiliki pilihan lain," Livia menunduk lesu, saking tak kuasanya menatap wajah Bayu.
"Lantas, kita bagaimana?"
"Aku tak tahu, aku tak tahu kapan aku bisa terlepas dari keluarga Mas Revan. Uang tujuh ratus lima puluh juta itu bukanlah uang yang sedikit, dan aku tak tahu, bagaimana aku melunasinya, sementara aku pun tidak bekerja,"
"Kau berkata seperti itu, memang kau ingin terlepas dari mereka kan Liv? Kau ingin kembali bersamaku, kan? Kau merindukanku kan? Jawab, Liv! Jawab!"
Livia terdiam, ia hanya bisa menangis menahan semua sesak di dadanya. Perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena semua hanya percuma, tak mungkin bisa membuat kesedihannya sirna.
"Aku ingin bebas dan kembali padamu, Kak! Puas kau! Tapi aku jelas tak tahu bagaimana caranya!"
"Baiklah, kita lunasi hutang itu, dan kita kembali bahagia seperti dulu. Aku akan berusaha untuk mencari uang itu, dan membuatmu terlepas dari jeratan lelaki biadab itu!" Bayu memegang tangan Livia, berusaha untuk menguatkannya, karena memang amarahnya luluh seketika oleh ucapan Livia yang memang masih menginginkan kembali padanya.
Rupanya, seseorang menyelinap dibalik tembok tinggi restoran ini. Revan ternyata tidak kembali ke mejanya, ia malah menguping pembicaraan tersebut.
Sungguh, jika saja ada sebuah benda dihadapannya saat ini, mungkin saja sudah Revan remas hingga hancur, atau ia lemparkan barang itu pada Livia dan Bayu.
__ADS_1
"Oh, kau akan kembali pada kekasihmu rupanya. Kenapa aku kesal sekali mendengarnya? Bagaimana jika aku membuat kau tak akan pernah bisa kembali pada kekasihmu itu, Livia?" batin Revan dalam hati.
Ada sebuah perasaan tak terima, karena ucapan Livia dan Bayu. Padahal sejak awal pun, bukankah Revan ingin Livia pergi dari hidupnya? Namun kini, kenapa kenyataannya berbeda? Kenapa saat jalan itu ada, Revan marah karena Livia berniat melepaskan pernikahan hutang ini?