
Livia berjalan sembari menangis di pinggir pantai. Entah ke mana jalan yang harus ia tuju untuk sampai ke Villa mereka. Mana Livia sama sekali tak memegang uang.
Mau meminta tolong pada orang lain pun ia jadi segan, karena Livia tak memiliki uang sepeser pun. Livia memaksakan diri untuk tetap berjalan, walau dengan kondisi kakinya yang kesakitan, dan terlihat ada darah lagi karena luka saat tadi menginjak karang.
Seorang pria yang melihat Livia tengah kesakitan pun turun dari mobilnya, dan menghampiri Livia, karena pria itu begitu khawatir dengan keadaannya.
"Halo, Nona, apa yang terjadi padamu? Apa kau sakit?" tanyanya, memerhatikan kaki Livia yang pincang dan berdarah.
“Ah, i-ini, k-kakiku, sepertinya berdarah lagi, karena sakit sekali, aku tadi menginjak karang,” tutur Livia memegangi kakinya.
“Ya ampun, iya, ini berdarah lagi. Apa kau mau kuantar berobat ke klinik terdekat?” ajaknya.
“Ah, tak usah. Tak apa-apa, aku tak membawa uang, aku tak bisa membayar klinik,” tutur Livia mempermalukan dirinya sendiri.
“Tenang saja, kau tak usah khawatirkan itu! Biar kubantu kau masuk ke mobil, ayo, bahaya jika lukanya infeksi,” ucapnya.
“Baiklah, terima kasih banyak, maafkan aku yang merepotkanmu, karena kakiku benar-benar sakit,”ucap Livia tak enak.
“Tak apa, tak mengapa. Aku tak merasa direpotkan sama sekali, mari naik, kliniknya hanya satu kilo meter dari sini,” jawabnya.
Livia mengangguk, dan ia pun masuk ke dalam mobil pria baik hati tersebut. Livia benar-benar malu, karena ia tak memiliki uang sepeser pun untuk membayar pengobatan. Jika nanti biayanya mahal, masa Livia harus merepotkan lelaki ini?
Lima menit kemudian, Livia dan pria ini telah sampai di klinik. Pria ini membantunya untuk berjalan dan masuk ke dalam klinik. Entah mengapa, rasanya sangat canggung dan tak nyaman sekali.
“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu?”
__ADS_1
“Kakinya berdarah, karena menginjak karang, tolong segera dilihat, takutnya lukanya sudah infeksi,”
“Baika, mari masuk ke IGD, agar segera ditindak.” Perawat itu mengantar Livia menuju IGD.
Livia tengah diperiksa oleh Dokter, dan Dokter pun segera melakukan tindakan. Dokter melihat, jika Livia terlihat sekali lemas, dan kekurangan cairan. Dokter pun memutuskan untuk memberi Livia cairan infusan lewat suntikan, agar Livia bisa kembali bugar.
Setelah dilakukan pemeriksaan, kaki Livia yang terkena karang sudah infeksi, karena mungkin terlalu banyak digerakkan, dan terkena debu atau kotoran lagi. Kedua, rupanya asam lambung Livia naik, ia mengidap penyakit GERD, karena itulah Dokter memberikan infusan, agar LIvia bisa kembali bertenaga.
Dokter pun mengatakan, jika Livia harus dirawat dulu, sampai kondisi GERD-nya membaik, dan sampai dirinya terlihat tak lemas lagi. Pria yang menolong Livia pun segera mendekatinya, dan memberi tahu apa yang telah Dokter sampaikan padanya.
“Halo, bagaimana kondisimu sekarang? Ngomong-ngomong, siapa namamu, Nona? Kita belum berkenalan, aku sampai lupa,” ucapnya.
“Namaku, Livia, namamu siapa? Terima kasih telah menolongku, dan juga maaf, karena aku telah merepotkanmu,”
Deg. Makan? Kapan terakhir kali Livia makan? Bahkan, Livia sendiri tak ingat, kapan ia makan? Kalau tidak salah, ia hanya sarapan tadi pagi saja, karena saat itu Sendi memberinya sarapan. Dan untuk siang hingga malam ini? Livia belum memasukkan apapun ke dalam mulutnya.
“Ah,aku lupa makan, saking sibuknya bermain di pantai,” jawabnya.
“Kalau begitu kau tunggu di sini sebentar ya. Aku akan membelikanmu makan dulu, di depan klinik ini, sepertinya ada penjual soto, kau bisa makan dengan soto. Tunggu sebentar ya, Livia,” ucap Ardan sembari berlalu meninggalkan Livia.
“Eh, Ar-Ardan! Tak usah, ya ampun kenapa harus merepotkan seperti ini sih? Tubuhku juga kesulitan sekali untuk bergerak. Aarrghh, kenapa dengan perut dan ulu hatiku? Kenapa jadi tiba-tiba sakit seperti ini?”
Livia baru sadar, jika perutnya ternyata sakit, dan sejak tadi ia tak memerhatikannya sama sekali, saking cemas dan bingungnya, bagaimana Livia menemukan jalan pulang. Karena sudah ditolong oleh Ardan, Livia sedikit lega, ia bisa meminta Ardan untuk membawanya menuju villa, dan nanti Livia akan mengganti semua uang yang telah dikeluarkan oleh Ardan.
Ardan pun kembali menuju ke ruangan Livia, setelah ia membelikan soto untuknya. Pria itu terlihat begitu tulus dan hangat, berbeda sekali dengan Revan, yang kejam dan tak punya hati.
__ADS_1
“Ayo, kau makan dulu! Asam lambungmu naik, tuh. Dokter berkata, jika kau harus dirawat dulu di klinik ini, sampai keadaanmu benar-benar membaik. Ngomong-ngomong, apa kau sedang berlibur di pantai ini? Keluargamu, apa sudah kau beritahu?” tanya Ardan.
Livia terdiam. Mana mungkin ia mau memberi tahu Revan? Peduli saja tidak, bahkan Revan memang sengaja meninggalkannya. Lagipula, ponselnya mati, dan Livia sama sekali tak berniat untuk menghubungi siapapun. Masih hidup saja, ia sudah bersyukur.
“Aku sedang berlibur, namun karena ini hari ulang tahunku, aku ditinggalkan oleh suamiku, dan juga teman-temanku, lelucon yang tidak lucu,” Livia sengaja berbohong, karena sekalipun Revan sangat kejam padanya, Livia tak mungkin akan membuka aib suaminya sendiri.
“Ah, jahat sekali. Yasudah, malam ini kau dirawat di sini dulu, ya. Aku akan pulang menuju resortku, besok pagi aku akan menemuimu lagi, dan mengantarmu pulang. Apa kau tak apa-apa, sendirian di klinik? Maksudku, aku tak bisa menunggumu di sini, karena aku tak akan bisa tidur jika di tempat seperti ini,” ucap Ardan.
“Ya Allah, kenapa kau baik sekali? Ini saja sudah sangat merepotkan. Aku tak apa, kau pulang saja. Aku malu, karena terus merepotkanmu. Maafkan aku, aku sungguh tak bermaksud untuk membuatmu harus terlibat karena diriku,” Livia benar-benar merasa tak enak.
“Tak apa, aku terlibat karena Allah menggerakkan hatiku, untuk menolongmu. Kalau begitu, aku pulang dulu. Kau jaga diri baik-baik ya,”
“Terima kasih banyak atas pertolonganmu, Ardan …” Livia benar-benar tak menyangka, bisa menemukan pria sebaik Ardan.
.
.
Waktu berlalu begitu cepat, kini waktu menunjukkan pukul sebelas malam, dan Livia belum juga pulang. Revan tak bisa tidur, karena sejak tadi ia menunggu kedatangan Livia. Revan mengutus Sendi untuk terus menghubungi ponselnya, namun sialnya ponsel Livia tak aktif.
“SIal! Ke mana rupanya gadis bodoh itu? Kenapa dia belum datang juga?”
“Bukankah Tuan menginginkan dia menjauh dari kehidupanmu? “
“Ya tidak dalam kondisi seperti ini juga! Aku kan hanya bercanda, kukira dia akan pulang naik ojek atau apalah gitu! Kenapa sampai saat ini belum kembali juga? Bahaya jika Mama menanyakan kabarnya. Aku harus menjawab apa? Aarrgghh, memusingkan! Baiklah, aku akan pergi menyusulnya lagi! Berikan kunci mobil, aku akan menyusulnya ke sana! Pusing kepalaku terus memikirkannya!” Revan menggaruk-garuk kepalanya, kesal karena Livia tak kunjung tiba.
__ADS_1