
Revan menarik napas panjangnya, karena ia sungguh malas sekali, harus merayu Livia agar mau ikut turun merayakan ulang tahun adiknya.
Sebenarnya, sejak awal Revan sudah sengaja, ia mengabaikan Livia dan tak memedulikannya, karena Revan tak ingin Livia turut hadir di tengah-tengah tamu undangan.
Bagi Revan, akan sangat memalukan jika Livia turut hadir dalam pesta ulang tahun tersebut. Namun kini, Livia harus turun kebawah, dan diperkenalkan pada semua rekan-rekannya.
Ini hal yang sangat menyebalkan bagi Revan, dan Revan jelas-jelas tak bisa lagi mengelak untuk membawa Livia pada kerabatnya. Kenapa pula mereka harus menanyakan keberadaan Livia?
Revan membuka pintu kamarnya, dan Livia teramat kaget, karena Revan membuka pintu dengan sekuat tenaganya. Livia refleks berjalan mendekati Revan, karena memang sudah seperti itulah tugasnya, selalu melayani Revan dengan baik.
"Kenapa, Mas? Apa ada yang tertinggal?" tanya Livia sopan.
"Ganti pakaianmu segera! Gunakan gaun yang pantas, kau harus turun sekarang juga!"
"Apa? G-Gaun? Aku harus turun? Maafkan aku, aku tak bisa, Mas. Aku tak memiliki gaun yang bisa kugunakan untuk acara pesta," Livia menunduk.
"Gaun saja kau tidak punya? Wanita macam apa kau ini?"
"Hanya tunik ini yang aku punya, dan ini adalah pakaian terbaikku,"
"Aarrghh, sial. Kenapa juga kau menyusahkan sekali? Stylist kedua adikku sudah pulang tadi, kau kenakan gaun milik adikku saja! Cepat ambil sana!"
"Aku tak berani mengambilnya, Mas. Aku malu, dan Anggita pun pasti tak akan mengizinkan aku masuk ke dalam kamarnya. Aku tak akan ikut acara itu, aku di sini saja Mas Revan,"
Revan lagi-lagi menggaruk kepalaanya, ia pusing harus bagaimana. Livia tak mungkin membuatnya malu dihadapan orang-orang lain. Livia harus tampil cantik dan membuat semua orang bangga padanya.
Revan berpikir, haruskah ia membongkar kenangan lamanya? Ada sebuah gaun cantik yang sejak lama Revan simpan di lemari antiknya. Gaun itu adalah gaun milik seorang wanita, yang pernah hidup dalam masa lalu Revan.
__ADS_1
"Haruskah kau memakai gaun itu?" pikir Revan tiba-tiba.
"Iya Mas? Kenapa?"
Deg. Revan sendiri tak mengerti, kenapa bisa-bisanya ia berkata haruskah Livia memakai gaun itu? Gaun yang sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah Revan sentuh lagi.
Gaun yang menyisakkan luka mendalam padanya, dan luka yang sepertinya belum juga membuatnya sembuh sampai saat ini.
"Jangan banyak bertanya lagi, segera kau ambil gaun yang ada di lemari antik ruangan wardrobeku, ambil satu gaun berwarna rose gold, dan segera kau pakai! Aku tunggu dalam tiga menit dari sekarang! Cepat!" titah Revan memaksa.
"Ha? Tiga menit? Ya ampun, Mas Revan, kau tak salah?" Livia protes, karena waktu tiga menit jelas sangat sebentar sekali.
"Cepat! Lima menit!"
Livia bergegas menuju ruang wardrobe milik Revan, dan segera menuju lemari antik yang tak pernah ia sentuh sedikitpun. Revan pernah memberikan peringatan padanya, jika Livia tak boleh menyentuh lemari antik ini.
Anehnya, kali ini, Revan malah menyuruh Livia untuk membuka lemari yang sejak awal telah ia larang untuk dibuka. Ada apa memangnya di dalam lemari itu? Sebuah gaun?
Livia perlahan membuka lemari tersebut, dan terlihat sebuah gaun yang dilapisi plastik, menggantung begitu indah. Gaun berwarna rose gold yang sangat cantik dan menawan.
Sepertinya ukurannya juga pas di badan Livia, dan Livia pun memerlihatkan gaun itu ke kaca, dan memantaskannya pada tubuh rampingnya. Ternyata memang satu ukuran, dan Livia pun membuka plastik tersebut, lalu memakai gaun seperti apa yang diperintahkan oleh Revan.
Cantik, sangat cantik. Livia terlihat begitu menawan mengenakan gaun berwarna rose gold tersebut. Hanya saja, wajahnya yang pucat, kurang membuat dirinya terlihat fresh.
Livia mengambil lipstik dari dalam tas nya, lalu bibirnya dipoles dengan lipstik yang merah merona, agar dirinya terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
__ADS_1
Revan sudah menunggu dengan kesal, karena sudah lebih dari lima menit, Livia belum juga keluar dari ruang ganti.
"Livia, cepatlah! Lambat sekali, argh!" gerutu Revan lagi.
"B-baik, Baik, ini juga sudah selesai, kok," Livia pun keluar dengan mengganti sendalnya dengan high heels berukuran tiga senti meter.
Revan terkagum-kagum melihat Livia mengenakan gaun mewah tersebut. Gaun yang seharusnya ia berikan untuk wanita masa lalunya, akhirnya malah dipakai oleh Livia, untuk yang pertama kalinya.
"Bagaimana? Apakah gaun ini pas dikenakan olehku, Mas? Terima kasih, aku jadi percaya diri untuk hadir di acara ulang tahun itu. Aku sedikit heran, kenapa Mas Revan bisa-bisanya menyimpan sebuah gaun di dalam lemari?" Livia berpikir, sembari menanyakannya pada Revan.
"Itu bukan urusanmu! Kau tak berhak banyak bertanya. Hanya diam dan tutup mulut saja, itu sudah cukup! Lagipula, orang miskin sepertimu mana pantas mengenakan gaun semewah ini! Kau tetap saja terlihat norak dan kampungan!" pekik Revan.
Revan sengaja berbohong, karena ia tak mau Livia besar kepala, jika Revan jujur padanya, dan mengatakan Livia cantik, hal itu jelas akan membuat harga dirinya jatuh terluka.
"Maaf, aku memang tak pantas memakai gaun mewah ini."
"Memang iy! Kau jelas tak pantas memakainya, dasar bodoh! Sudahlah, diam dan tak perlu berbicara. Ayo turun!" perintah Revan.
"Baik, Mas,"
Revan dan Livia pun turun dari kamar, dan turut memeriahkan acara ulang tahun tersebut. Dalam hatinya, ada sebuah perasaan sedih dan terluka, karena Revan benar-benar teringat pada masa lalunya.
"Aira, gaun itu seharusnya untukmu, gaun yang ternyata kini malah dipakai oleh gadis miskin ini. Maafkan aku, karena aku tak tahu lagi harus bagaimana, mereka mendesakku membawanya ke bawah, padahal aku tak ingin memerlihatkannya. Maafkan aku, Aira …” batin Revan dalam hati.
__ADS_1