CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 38. A Miracle


__ADS_3

9 Bulan Kemudian ….


POV Livia ….


Baru aku sadari, ternyata, sembilan bulan yang lalu, aku telah ditiduri olehnya. Aku tak pernah menyadari hal ini, karena aku memang tak merasakan apapun, selain bagian sensitifku yang agak ngilu, setelah aku keluar dari rumah itu.


Aku tak menyadarinya, kala itu aku mudah lelah, dan bekerja pun sungguh tak ada gairah. Sepertinya saat itu aku sakit, dan Ibu mengajakku untuk pergi berobat.


Ibuku sudah sembuh, saat aku pulang, ia sudah benar-benar seperti sedia kala. Aku sangat bahagia, dan saat aku sakit pun, Ibu begitu perhatian padaku.


Ibu memaksaku untuk pergi berobat, setelah aku berada satu bulan di rumah. Ibu kasihan padaku, karena selama satu bulan di rumah, aku juga bekerja membantu Ibu membuat kue, untuk dijual oleh Ayah.


Saat diperiksa, sang Dokter malah mengucapkan selamat padaku. Dia berkata bahwa aku hamil, dan setelah cek urine, Dokter memerlihatkan hasil yang begitu membuat jantungku dan jantung Ibu hampir copot.


Dari situlah, aku diusir dari rumah oleh Ibu. Padahal, Ayah dan adikku tahu kejadian yang sebenarnya. Ayah tak mau mengusirku, dan berniat untuk memberi tahu Ibu, perihal kejadian yang dulu menimpaku.


Ayah malah ingin meminta pertanggung jawaban pada Mas Revan dan keluarganya. Namun aku bersikeras untuk menghindar dari mereka, dan tetap menyembunyikan semua ini, termasuk pads Ibu sekalipun.


Aku melarang Ayah, aku tak ingin Ibu tahu soal pernikahan utang tersebut. Cukup aku saja yang menelan pahitnya semua itu. Hingga akhirnya, aku pergi ke luar kota, di mana tempatku dulu bekerja, sebelum aku bertemu dengan Mas Revan, si manusia gila yang paling-paling kubenci di dunia ini.


Aku yang memilih untuk pergi, karena aku tak mau keluargaku menanggung malu atas kehamilan ini. Walau sebenarnya, aku tidak hamil duluan. Aku hamil karena dihamili oleh suamiku sendiri.

__ADS_1


Hanya saja, siapapun tahu, tak mungkin bagiku untuk kembali ke sana, dan meminta pertanggung jawaban mereka. Aku sadar, jika kehamilan ini mungkin karma untukku, karena aku mempermainkan pernikahan dengan utang.


Kini, kehamilanku sudah memasuki bulan terakhir, aku diperkirakan akan melahirkan pada akhir bulan ini. Ada waktu sekitar dua minggu lagi, untukku masih berjualan, menambah biaya persalinan yang sudah aku kumpulkan beberapa bulan ini.


Aku berjualan kue kering dan kue basah, kubawa dengan menggunakan sebuah wadah tertutup dengan jinjingan. Aku bahagia dengan hidupku ini, walaupun sendiri, namun janin dalam kandunganku seakan terus menyemangatiku untuk tetap berdiri kuat.


POV Livia Selesai ….


.


.


Siang ini, terik mentari begitu kuat memancarkan sinarnya. Tetes keringat terus membasahi pipi Livia yang kemerahan bak kepiting rebus. Namun ia tetap semangat berjualan, karena masih ada beberapa kue kering yang belum habis.


"Mungkin aku terlalu lelah, jadi perutku sakit. Nak, maafkan Ibu, ya. Hari ini kita berjualan lebih ekstra dari biasanya, karena hari ini sedikit sepi, dagangan Ibu masih banyak sisa. Semoga sebentar lagi bisa cepat habis, dan kita bisa segera pulang. Sabar dulu ya," ucap Livia, sembari mengelus-elus perut buncitnya.


Livia terus berjalan menyusuri keramaian. Ia akan berjualan ke dekat stasiun kereta api. Di saat siang-siang seperti ini, biasanya akan ada banyak pengunjung stasiun yang mencari makanan.


Livia melangkahkan kaki menuju jalan raya, untuk melewati jalan pintas menuju stasiun. Saat akan menyeberang jalan, tiba-tiba perutnya terasa nyeri yang teramat sangat.


Sakit di perutnya tak bisa tertahan lagi. Livia berjalan sembari sempoyongan, menahan perut yang sakitnya tiada tara. Di tengah-tengah jalan raya, Livia sudah tak kuat lagi, dan akhirnya ia pun ambruk terjatuh. 

__ADS_1


Sebuah mobil mewah pun berhenti mendadak, karena mobil itu hampir saja menabrak Livia yang ambruk di tengah jalan. Untungnya, pengendara mobil masih bisa mengerem mendadak, agar tak menyakitinya.


"Astaga, kau ini! Kenapa menabrak orang hah? Kau tak bisa menyetir? Iya? Kenapa bisa-bisanya aku mendapat supir baru seperti ini? Dasar bodoh!" sentak pria di belakang pengemudi mobil tersebut.


"M-maaf, Tuan. Bukan salah saya, sungguh. Wanita itu menyebrang jalan, namun dia terjatuh sendiri di tengah-tengah. Saya tentu saja kaget, karena awalnya saya kira dia akan berjalan cepat untuk menyebrang," jelasnya.


"Turun dan lihat kondisinya!" 


"Baik, Tuan,"


Sopir mobil itu turun, dan melihat kondisi Livia yang tengah terkapar lemah di jalanan. Betapa kagetnya sang sopir, karena melihat ada bercak darah mengalir dari paha Livia.


"Ya Tuhan, ini seorang wanita hamil! Mungkinkah dia akan segera melahirkan? Aku harus segera memberitahu Tuan, ini adalah keadaan darurat," 


Sopir itu kembali ke mobil, untuk memberi tahu tuannya, perihal Livia yang keadaannya semakin lemah, dan sepertinya akan melahirkan.


"Tuan, itu adalah seorang wanita hamil! Sepertinya dia akan melahirkan, karena ada darah mengalir dari kakinya,"


"Ha? Melahirkan? Astaga, kau gila!" Pria tampan dan gagah itupun keluar dari mobil, untuk melihat sosok wanita yang tergeletak di depan mobilnya.


Setelah melihat keadaan wanita tersebut, pria tampan itu kaget dan syok bukan main. Ternyata …,

__ADS_1


"Astaga, k-kau, k-kau! L-Livia … K-kau L-Livia? Aarrghh, Pak, segera bawa dia ke mobil, CEPAT!" rupanya, dia adalah Revandio Putra Sadewa, pria yang memiliki keterikatan dengan Livia, yang kini tengah terkulai lemas di atas aspal.


__ADS_2