CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 28. Melihatnya


__ADS_3

"Mas Revan, untuk apa kau melakukan semua ini? Kenapa kau harus berbohong pada ibuku?"


"Jika aku tidak berbohong, dia pasti akan hancur melihat putrinya menjadi wanit pelunas hutang, akibat penyakit dirinya! Kau gila apa? Kau mau menyia-nyiakan kesempatan hidup ibumu? Jangan sampai dia tahu tentang kehidupanmu saat ini!"


Livia terdiam, ia masih bingung harus membalas ucapan Revan seperti apa. Kenapa pula Revan harus repot-repot ikut campur urusan keluarganya? Padahal, jika ia tak ikut dan berbohong seperti ini pun, semuanya akan baik-baik saja.


Revan tak usah turut andil dalam kejadian ini. Namun ini sangat aneh, ketika Revan mau-maunya turun dan menemui ibunya Livia. Ini sangat tak masuk akal bagi Livia. Kenapa hal ini harus ia lakukan?


"Maaf Mas Revan, bukan maksudku menyangkal ucapanmu. Akan tetapi, aku sebenarnya bingung sekali, kenapa kau mau menyertakan dirimu saat ini? Bukankah, jika kau tak ada pun, aku akan tetap bisa membuat dramaku sendiri? Kenapa kau malah membantuku membuat drama? Kenapa, Mas?"


"Kau! Kau jangan geer dan besar kepala, ya! Kau harus sadar, jangan berani-beraninya mengira jika aku peduli padamu, atau aku telah luluh padamu! Tidak seperti itu, Livia! Aku melakukannya, karena aku hanya ingin melihat ibumu, itu saja! Aku sempat gagal menolong seseorang, hingga ia meninggal dan tak bisa tertolong lagi. Dan, jika kau berhasil menolong ibumu, aku ikut senang! Karena itulah aku ingin melihatnya, dan membantumu membuat drama, agar ia tak curiga! Sudahlah, kau tak sampai pada pikiranku! Kau jangan terlalu senang begitu, aku melakukan hal ini bukan karenamu! Aku hanya senang, jika ada orang yang bisa bertahan hidup dan kuat melawan penyakitnya!"


Terdengar sekali beberapa penekanan kata yang Revan ucapkan pada Livia. Seperti ada sebuah penyesalan yang tak bisa Revan maafkan pada dirinya sendiri.


Namun Livia sendiri tak tahu apa itu, karena hidup Revan benar-benar penuh misteri dan Livia sendiri tak bisa menebaknya. Livia hanya bisa menghela napas dan berpikir sendiri, tanpa bertanya apapun lagi pada Revan.


"Baiklah, aku tak akan banyak bertanya lagi. Aku hanya akan berterima kasih padamu, karena kau telah membantuku berbicara pada Ibu, dan membuat Ibu percaya padaku …"


"Ya tentu saja! Tentu saja kau harus berterima kasih padaku! Tak tahu diri namanya, kalau kau tidak berterima kasih atas apa yang aku lakukan barusan!"

__ADS_1


Lagi-Lagi, Revan selalu menyebalkan dan tak pernah mau merendahkan dirinya.


"Dasar manusia sombong!" batin Livia dalam hati.


"Apa katamu? Kau mengumpati aku? Iya?"


"Deg. Ya Ampun, kenapa dia bisa tahu?" ucap Livia dalam hati lagi.


"Tidak, Mas. Aku tak mungkin berani melakukan hal itu!"


"Dasar pembohong! Memangnya aku tak tahu, sorot matamu berbicara, dan mengumpati aku, tuh! Jika kau memang tak ingin aku ketahui, biasa saja matamu, jangan kau buat seperti itu! Dasar wanita uang!"


"Mas Revan, sudahlah, aku lelah berdebat denganmu. Lebih baik kita pulang saja sekarang, ya?" Livia mengalah, karena ia sadar betul, sampai kapanpun ia tak akan pernah menang melawan Revan.


"Sejak tadi pun aku memang sudah ingin pulang! Sumpek sekali berada di rumahmu! Untung sekarang kita sudah berada di pinggir jalan raya, kalau tidak, aku bisa sesak napas, jika terus saja berlama-lama berada di dalam rumahmu!" maki Revan secara tak sadar.


"Aku kan tidak menyuruhmu untuk ikut dan berpura-pura sampai sejauh ini, Mas. Kau sendiri yang ingin terlibat dengan rumahku, dan juga keluargaku. Ya kurasa, kau tak perlu mengeluh, apalagi memaki rumahku dengan kata-kata yang menyakitkan seperti itu!"


"Waduh, wanita uang ini! Kau mulai berani ya, mulai berani melawanku sekaeang!"

__ADS_1


"Aku tak berani, hanya saja aku kesal, kenapa rumah kebanggaanku harus kau hina dengan mudahnya, padahal aku bahagia sekali tinggal di rumah kecil itu. Jika saja kini aku bisa memilih, aku memilih untuk tetap tinggal di rumah, dan tak ikut lagi denganmu. Namun aku sadar, ada sebuah tanggung jawab yang tak bisa aku tinggalkan."


"Itu kau tahu! Ya sudah jangan banyak bicara, kau hanya harus patuh dan menurut padaku. Karena kau memiliki hutang yang sangat besaelr dan tak mungkin bisa kau bayar dengan sekejap!" Revan menyeringai.


"Perlahan akan aku bayar dan kulunasi. Aku juga ingin bahagia, dan terlepas dari jeratan keluarga kaya seperti kalian," tutur Livia.


"Hey, kau! Jangan asal bicara ya! Memangnya kau tak bahagia tinggal di rumah mewahku? Harusnya kau bersyukur, kau kini tinggal di rumah besar! Makananmu enak, dan kau bisa menjadi orang sepertiku! Dasar tak tahu diri!"


"Tapi hatiku tidak bahagia, aku lebih baik menikmati hidup dengan kesederhanaan, asalkan bisa tetap bersama keluargaku,"


"Kau pikir, aku tidak bisa membahagiakanmu, ha? Jika pun aku ingin, aku pasti bisa membahagiakanmu! Aku bisa membuatmu bahagia berada di sampingku! Namun, hal itu terjadi jika aku ingin! Nyatanya, aku enggan dan tak ingin melakukan hal tersebut! Aku justru malas, dan tak ingin terlibat terus denganmu!" Revan mendelik.


"Oh ya, kalau begitu, jika kau tak ingin terlibay denganku, kenapa kau harus repot-repot mengantarku dan ikut campur dengan urusanku seperti ini?" tantang Livia.


"Uhuk, uhuk, sialan kau!" Revan tersedak, ia benar-benar tak menyangka, jika Livia akan berkata seperti itu padanya.


Saat perdebatan itu tengah terjadi, rupanya seorang pria tengah mengamati mereka berdua dari seberang jalan yang terhalangi sebuah pohon besar.


Pria itu mengepalkan tangannya. Nampak sekali guratan tangannya muncul. Sepertinya ia sangat emosi, melihat Livia tengah bersama seseorang.

__ADS_1


"Oh, jadi begitu? Livia, apa maksudnya semua ini? Kau menghilang begitu saja, dan kini? Ketika aku melihatmu, kau tengah bersama lelaki lain! Lihat saja nanti, akan kubalas kau, Livia!" kepalan tangan itu akhirnya menonjok batang pohon yang besar, hingga jari jemarinya terluka, saking emosinya tak bisa tertahankan. 


__ADS_2