CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 44. Sebuah Kejujuran


__ADS_3

Jika dipikir,  Livia seakan begitu egois dan tak menyayangi anaknya sendiri. Tega-teganya Livia pergi dan meninggalkan bayinya.


Livia memiliki alasan hebat, mengapa bisa-bisanya ia pergi tanpa membawa sang bayi. Livia tak yakin, jika hidupnya akan baik-baik saja, jika bayi itu dibawa pergi olehnya.


Revan pasti tak akan tinggal diam, jika Livia membawa bayinya pergi. Akan berbeda jika Livia pergi sendiri, bukan?


Revan pasti tak akan terlalu marah, karena Revan pasti hanya memikirkan bayinya. Memangnya, sejak kapan Revan memiliki perasaan pada Livia?


Semua itu hanya terpaksa, Livia jelas menyadari itu. Itulah alasan, mengapa ia lebih memilih pergi sendiri, ketimbang membawa bayinya.


Meskipun hatinya teramat sakit, meninggalkan darah dagingnya sendiri. Akan tetapi, Livia yakin, jika bayinya berada di tangan Revan, dia pasti menjaganya dengan baik, dan kehidupannya pasti akan terjamin.


"Cuaca hari ini panas sekali. Aku benar-benar lelah. Jahitan diperutku juga begitu terasa sakit. Apa aku istirahat saja dulu? Tapi, stasiun juga tak terlalu jauh. Apa aku teruskan saja? Ah, Livia, kuatlah! Ayo berjalan sampai stasiun. Setelah di sana, barulah kau bisa beristirahat. Aku harus segera meninggalkan jejak, takut kalau nanti Mbak Ayu menyadarinya,"


Livia terus berjalan, sembari sesekali menyusut keringat yang membasahi wajahnya. Rasa lelah tak ia hiraukan, saking Livia ingin segera pergi ke stasiun, dan kembali meninggalkan kota ini.


Saat langkahnya mulai melemah, sebuah mobil mewah tak henti-hentinya membunyikan klakson padanya. Livia tak menyadari hal tersebut, karena ia tak menoleh ke belakang.


Beberapa saat kemudian …

__ADS_1


"Livia! Apa maksudnya ini, hah!" sentak seseorang yang sudah berada di belakang Livia.


Deg. Livia kaget bukan main. Suara itu, adalah suara yang ingin ia hindari selama ini. Tapi nyatanya, lagi-lagi suara itu sudah berada di belakangnya.


Siapa lagi kalau bukan Revan? Revan akhirnya berhasil menemukan Livia di jalanan. Usaha Livia untuk melarikan diri, tentu saja pasti akan gagal dan Revan pasti tak akan membiarkan hal itu terjadi begitu saja.


"M-Mas Revan," Livia kaget bukan main.


"Apa-apaan kau ini? Membawa tas, berjalan sendirian? Kau berniat kabur dan melarikan diri dariku hah? Iya? Kau berniat meninggalkan bayimu sendiri, Livia? Kau gila!" Revan sangat marah saat ini. 


Livia kaget dan tak percaya, kenapa bisa-bisanya Revan menemukannya, padahal Livia merasa sudah bergerak cepat.


"Auwh, sakit! Lepas!" Livia berontak, karena Revan masih saja memegangi tangannya.


Revan menyeret paksa Livia ke dalam mobil. Revan tak ingin lagi, kehilangan Livia untuk yang kedua kalinya. Jika dahulu ia lengah, karena kebodohannya, tak mungkin ia akan lengah lagi kali ini. 


"Aarggh, lepas! Sakit! Mas Revan, lepas!" Livia berusaha berontak, namun tenaganya ternyata tak akan mampu melawan Revan.


"Kau tak bisa dibiarkan! Berani-beraninya kau Livia! Aku sungguh muak padamu!" 

__ADS_1


"Aku tak peduli, jika kau muak sekalipun padaku! Yang kuingin, kau lepaskan aku, dan biarkan aku pergi! Aku sudah merelakan anakku untukmu. Aku sudah mengikhlaskan dia. Kurang apalagi? Kau hanya tinggal besarkan dia dengan baik! Buat dia jadi anak yang sukses dan hebat! Memangnya untuk apalagi kau menahanku? Kau sudah memiliki keluarga yang lengkap! Kau sudah bahagia. Satu yang kuminta, jangan pernah sekalipun kau menyakiti hati dan perasaan anakku! Jangan pernah berani-beraninya membedakan dia dengan anak istrimu! Buatlah dia bahagia hidup denganmu, sebagai ayah kandungnya!"


"Kau! Kau akhirnya mengakui, jika itu adalah anakku! Kemarin kenapa kau mengaku sudah memiliki suami, ha?"


Revan masih enggan mengemudikan mobilnya. Ia ingin berbicara empat mata dahulu dengan Livia. Ini bukanlah perkara yang mudah untuk diselesaikan. Permasalahan hati yang begitu rumit, dan tentu saja harus mengorbankan perasaan masing-masing. 


"Aku tak ingin mengganggu kebahagiaan rumah tanggamu yang sesungguhnya. Aku hanyalah benalu yang bergantung pada kehidupanmu! Karena itulah, aku ingin melepaskan diri, dan hidup sendiri, mencari kebahagiaanku yang dulu pernah hilang. Anakku, memanglah anakmu. Karena itulah, aku serahkan padamu. Aku tak yakin bisa menghidupinya dengan layak. Jika denganmu, dia pasti akan hidup bahagia, mas. Kumohon, sayangi dia, lindungi dia. Dia pasti akan bahagia bersamamu, Mas… " Air mata Livia tak bisa ia tahan lagi. 


Air matanya pecah, ketika Livia mengucapkan kata-kata tersebut pada Revan. Sejujurnya, siapa yang tega meninggalkan darah daging sendiri? Livia jelas sangat menyayangi buah hatinya, meskipun ia harus tercipta karena sebuah keterpaksaan. 


Akan tetapi, Livia juga sadar, jika ia harus pergi menjauh dari kehidupan Revan. Jika Livia tak pergi dari kehidupan Revan, maka ibunda Revan pasti akan murka padanya. 


"Aku tak hanya menginginkan bayiku saja, tapi aku juga menginginkanmu, Livia! Kau adalah ibu dari darah dagingku, kau lah yang pantas untuk hidup dan mendampingiku. Untuk apa aku hidup dengan wanita yang jelas-jelas tak mengandung anakku? Aku akan pastikan, kau tak akan bisa lari lagi! Kau harus bersamaku, bersama anak kita, selamanya!" ucap Revan begitu tegas. 


"Tak mungkin! Tak mungkin hal itu terjadi, Mas!"


"Semua itu bisa terjadi, jika aku melepaskan semuanya. Aku akan memilih anakku dan juga kau! Aku akan meninggalkan keluarga dan kekayaanku, demi hidup bersamamu! Tak mengapa aku menjadi orang miskin. Asalkan aku bisa melihat anakku, dan ibu dari anakku hidup bahagia bersamamu! Livia, aku memang tak pernah mengatakan cinta kepadamu! Tetapi, hatiku ini sudah terpatri oleh namamu! Hatiku sudah milikmu, sejak saat kita masih bersama! Jangan lagi halangi keputusanku, karena aku sudah membulatkan tekadku, untuk meninggalkan mereka, demi kalian!"


"Mas, itu tak mungkin! Jangan sampai hal itu terjadi, kumohon Mas!"

__ADS_1


"Ikut aku, dan kita bertemu dengan kedua orang tuaku! Aku harus mengatakan semua pada mereka. Tetap pegang erat tanganku, dan jangan pernah kau lepaskan. Kumohon, Livia… "


Deg. Hati dan perasaan Livia jadi lemas tak tentu arah. Perasaannya campur aduk, ia takut, ia khawatir. Apa yang akan terjadi nantinya? 


__ADS_2