CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 31. Jangan Remehkan Aku


__ADS_3

Revan sungguh tak bisa tidur, karena hati dan pikirannya terus saja tertuju pada Livia. Selama ini, Revan melupakan perasaannya yang mulai nyaman karena kehadiran Livia. Terkadang, jika sedang merenung seperti ini, barulah Revan sadar, jika Livia sebenarnya memiliki sebuah makna dalam kehidupannya.


 


Walaupun Revan selalu menampik akan hal tersebut, namun pada kenyataannya, terkadang ada sekelebat bayangan tentang Livia, hadir di dalam lamunannya. Revan melihat kearah sofa, tengah melihat Livia yang tertidur pulas, dan sepertinya Livia memang sudah berada dalam alam bawah sadarnya.


 


“Kenapa kau harus hadir dalam hidupku? Padahal dulu aku sudah berjanji pada Arra, jika aku tak akan pernah lagi mengenal seorang wanita, dan aku tak ingin lagi berhubungan dengan wanita manapun. Namun kini, kenapa tiba-tiba aku harus terjebak dalam pernikahan paksa denganmu? Kapan aku bisa menyelesaikan ini semua? Dan begitu anehnya, akhir-akhir ini aku malah nyaman ketika tengah bersama wanita uang ini! Sebenarnya kenapa aku ini? Bukankah sejak awal aku memang sangat ingin membuangnya? Kenapa kini aku malah merasakan sebuah kenyamanan, yang sebenarnya tak aku inginkan sama sekali?”


 


Revan sendiri tak mengerti, kenapa ia harus begitu pada Livia. Bukankah ini sudah menyalahi niat awalnya pada Livia? Apakah kini Revan sadar, jika Livia benar-benar begitu berarti dan Revan bisa merasakan cinta dari seorang wanita?


 


“Livia, kau hanyalah gadis norak yang miskin! Kenapa kau harus ada di sini? Kapan kau pergi? Kenapa kau malah menggangguku? Hey kau, manusia aneh! Jawab aku, jangan malah enak-enakan tidur, sementara aku di sini, tak bisa tidur karena sudah beberapa malam ini, aku selalu terbayang-bayang akan dirimu! Dasar gila, aku memang sudah gila! Kau, kau enak sekali terlelap! Bisa-bisanya terlelap anya di sebuah sofa yang sempit! Dasar orang miskin, terliat sekali jika kau memang orang miskin! Bisa tidur di mana saja, tanpa sedikitpun risau melihat sofa yang kecil itu! Jika aku yang tidur di sofa sempit itu, mungkin aku akan gelisah dan lebih memilih untuk tidak tidur! Di ranjangku yang empuk saja, aku malah kesulitan untuk memejamkan mata! Apalagi di sofa seperti itu. Dasar wanita uang, dia sudah seperti kerbau saja!”


 


Tiba-Tiba …


 


“Iya, Mas? Kenapa? Ada apa? Apa kau menginginkan aku mengambil sesuatu? Maaf, aku sangat lelah hari ini, jadi sepertinya aku ketiduran barusan,”


 


“Uhuk, uhuk … k-kau! Kau mendengar ucapanku? Sial! Kukira kau benar-benar sudah tidur!”


 


“Maafkan aku, Mas. Apa yang kau inginkan? Mau minum? Atau mengambil jus?” ucap Livia sembari masih mengucek-ngucek matanya.


 


“Sial, apakah dia mendengar semua ucapanku?” batin Revan.


 


“Tidak! Aku tak ingin apapun! Kau keterlaluan, tidurmu mendengkur, dan itu berisik sekali! Aku sungguh terganggu dengan suara dengkuranmu! Dasar jorok! Kau ini wanita, tapi kenapa bisa-bisanya mendengkur seperti kerbau!” Revan ngeles, mengalihkan pembicaraan.


 


“Hah? Apa? Aku mendengkur, Mas? Benarkah? Sungguh, aku jarang sekali mendengkur. Aku tidak mendengkur,” Livia berusaha membela diri.

__ADS_1


 


“Halah, kau kan tidur! Mana bisa mendengar dengkuranmu sendiri! Sudahlah, tidur ya tidur saja! Jangan berisik, dan jangan menggangguku! Jika kau mendengkur lagi, akan kusumpel mulutmu dengan kain pel!” tutur Revan menyebalkan.


 


“Ya ampun, Mas, tega sekali kau. Maaf, maafkan aku, jika aku mendengkur. Aku berjanji, aku akan diam, dan tak mengeluarkan suara apapun lagi. Sungguh maafkan aku,”


 


“Aku maafkan kali ini. Awas saja jika kau mengulangi kesalahan yang sama!”


 


“Iya, Mas, tak akan,” Livia memohon maaf apda Revan, lalu kembali terlelap, karena dirinya benar-benar lelah seharian ini.


 


Revan mengusap dadanya, untungnya ia bisa ngeles dan memutar balikkan kesalahan pada Livia. Revan keceplosan membicarakan rasa nyamannya pada Livia, dan Revan tak ingin hal itu diketahui oleh Livia. Ia kini lega, karena sepertinya Livia memang percaya, jika ia mendnegkur, dan Revan memfitnahnya.


.


.


 


Dengan Sendi yang dirawat di rumah sakit, tentu saja Revan kelimpungan, karena tak memiliki sekretaris yang biasa menemaninya ke kantor. Apalagi, hari ini banyak sekali proposal dan lembaran-lembaran tugas Revan, yang pecan lalu dibawa ke rumah, untuk dikerjakan di rumah.


 


Minggu ini, Revan akan melakukan persentase dengan beberapa dewan Direksi, dan Revan tentu saja harus membawa semua proposal dan lembaran tugas yang semula berada di ruang kerja rumahnya. Revan tak bisa mengandalkan siapapun, karena tak ada yang boleh menyentuh pekerjaannya selain Sendi.


 


Hanya Sendi yang Revan percaya untuk menangani urusan kantornya. Namun jika Sendi sudah jatuh sakit seperti ini, pada siapa Revan bisa meminta tolong? Beberapa staffnya sudah Revan hubungi, namun sepertinya mereka pura-pura tuli dan buta, enggan membalas ataupun mengangkat panggilan Revan jika di luar jam kerja.


 


“Arrggh, hari ini tugasku banyak sekali, dan aku tak bisa mengandalkan Sendi. Proposal banyak seperti ini, biasanya dia yang membawakannya untukkku, apakah benar-benar harus kubawa sendiri saat ini? Sial, kenapa juga dia harus sakit! Kenapa juga sulit sekali bagiku untuk bisa memiliki sekretaris cadangan, untuk menjaga kejadian tak terduga seperti ini! Aarrgghh, aku muak sekali!”


 


“Mas, apakah hari ini tugasmu banyak? Jika kau mau, aku bisa membantumu. Apakah kau ingin aku membawa proposal ini? Aku akan membawakannya untukmu,"


 

__ADS_1


“Bukan soal membawa proposal ini! Supir mamaku pun bisa membawanya! Hanya saja, yang menjadi orang penting dalam persentaseku nanti, tak bisa hadir dan aku sungguh muak!”


 


“Maksudmu, orang yang memimpin jalannya rapat nanti, Mas?”


 


“Ya jelas! Sendi selalu memimpin rapat yang akan aku selenggarakan dengan dewan direksi! Dan tak ada gantinya, jika dia sakit seperti ini!”


 


“Mas, memangnya, dalam rapat kali ini, apa yang akan kau bahas? Jika hanya untuk memimpin rapat, aku bisa menggantikan Sekretaris Sendi, dan membantumu di kantor. Hanya tinggal berikan saja rencana proposal rapat itu, aku akan mempelajarinya, dan menjadi pengganti sekretaris Sendi untukmu,” Livia menawarkan diri, karena sebenarnya, sedikit-sedikit pun Livia paham tentang ilmu bisnis dan manajemen perusahaan.


 


“Hahahahaha, kau? Kau yakin, wanita uang? Aku sungguh tak percaya padamu! Wajahmu benar-beanr mencurigakan! Mana bisa kau meminpin rapat!” Revan tertawa puas, seraya meledek Livia, dan merendahkannya.


 


“Jangan tertawakan aku dulu, sebelum melihat kinerjaku, Mas. Sini, biar kulihat proposalnya. Kau menantangku? Bagaimana jika aku sukses memimpin persentase nanti?”


 


“Sial, kau rupanya menantangku? Kau merendahkanku?” Revan emosi.


 


“Aku hanya berniat membantumu, kau bisa mencoba untuk memercayakannya padaku,”


 


“Haruskah? Mungkinkah wanita miskin sepertimu bisa membantuku? Hahahha, I cant believe it!”


 


“Allright! Let’s prove it, Sir!” Livia mengeluarkan jurus bahasa inggrisnya.


 


“Kau? Kau bisa berbahasa inggris?”


 


“Jangan meremehkan aku, Mas, kau belum tahu, siapa aku sesungguhnya …” Livia tersenyum puas, karena bisa membuat Revan kaget.

__ADS_1


__ADS_2