
"Apa? Menjadi Ayah pengganti? Tidak! Aku tidak sudi melakukannya! Hina sekali diriku, jika aku harus melakukan hal tersebut. Lebih baik kalian bunuh saja aku, daripada aku harus melakukannya! Hidup dengan si gadis miskin ini saja, sudah membuatku pusing dan hidupku hancur! Jika kalian masih ingin melihatku berada di rumah ini, jangan pernah katakan omong kosong ini lagi, dan cukup jangan menggangguku!"
Revan pergi secepat kilat, meninggalkan kedua orang tuanya, yang telah berusaha memberikan pengertian padanya.
Ucapan kedua orang tuanya jelas tak masuk akal, karena Revan benar-benar merasa dirugikan. Revan sudah muak dengan semua permintaan dan keinginan kedua orang tuanya.
Kali ini, ia sudah tak akan bisa menoleransi lagi semua keinginan dan permintaan aneh kedua orang tuanya. Revan jelas heran dan tak mengerti, kenapa bisa-bisanya orang tuanya harus menumbalkan dirinya.
Semua masalah harus diselesaikan oleh Revan, dan tentu saja Revan benar-benar emosi bukan main. Setelah ia keluar dari kamar kedua orang tuanya, Revan mengamuk dan berteriak-teriak seorang diri. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, yang jelas Revan benar-benar muak dan tak terima.
Revan mendobrak pintu kamarnya, dan ia pun mengacak-acak rambutnya, saking emosi dengan apa yang dikatakan kedua orang tuanya. Revan yang mendobrak pintu kamar, tentu saja membuat Livia kaget bukan main.
Livia tengah membersihkan dan mengelap meja kerja Revan, ia tak sangka, jika Revan akan membuka pintu sekencang itu.
“Mas kenapa? Ada apa?” Livia berusaha menenangkan Revan.
“Kau jangan buat masalah denganku, jika kau tak ingin aku marah besar padamu!” perintah Revan.
“Baik, Mas, aku tak akan mengganggumu. Jika kau ingin sendiri, aku akan membiarkanmu sendiri, aku akan keluar dari kamar dulu,” Livia berusaha mengerti kerisauan Revan.
“Diam di sini, dan jangan pernah berani-beraninya melangkahkan kaki keluar dari kamar ini!” Revan mendelik kasar pada Livia.
Deg. Livia tahu, saat ini Revan sedang tidak baik-baik saja. Walaupun Livia sendiri tak tahu, apa sebab hal yang membuat Revan jadi semarah ini.
__ADS_1
“Baiklah, Mas. Aku akan tetap di sini.”
Livia duduk di sofa, dan berusaha menuruti keinginan Revan. Livia tak mau menambah masalah Revan, karena Livia sadar betul, jika kali ini Revan benar-benar tengah dalam kondisi yang buruk.
Tiba-Tiba saja …, keluar sebuah kata dari mulut Revan, yang mencengangkan Livia.
“Kedua orang tuaku adalah monster kejam yang hanya tahu uang dan uang saja. Jika saja membunuh orang itu tak akan membuatku berakhir di penjara, maka sudah kubunuh mereka berdua dan mereka pasti tenang di alam sana.”
“Astaga, Mas, kenapa kau ini? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau begitu marah pada Mama dan Papa?”
“Mereka bukan kedua orang tuaku, mereka hanyalah manusia yang haus dan lapar dengan uang dan kekuasaan. Aku muak pada mereka, aku sungguh ingin membunuh mereka jika aku bisa!”
“Mas, sadarlah, jangan terus-menerus seperti itu pada Mama dan Papa. Walau bagaimanapun, mereka adalah kedua orang tuamu, seburuk apapun mereka, kau harus tetap menghargai dan menghormati mereka,”
“Memangnya apa yang mereka lakukan padamu, Mas? Kenapa kau bisa semarah ini pada Mama dan Papa?"
"Dasar bodoh! Bagaimana aku tidak marah, jika mereka benar-benar mempermainkan diriku! Hidup denganmu saja, sudah menjadi beban berat untukku! Semua itu juga karena mereka! Apalagi kali ini? Mereka memintaku untuk bertanggung jawab menjadi Ayah pengganti rekan bisnis papaku yang ditinggal pergi oleh pria yang tak bertanggung jawab! Lantas kenapa harus aku yabg bertanggung jawab? Ini benar-benar gila! Aku tak habis pikir, demi menyelamatkan perusahaan, mereka harus segila ini padaku? Aarrgghh, kurang ajar!"
Deg. Penjelasan Revan sontak saja membuat Livia terdiam seribu bahasa. Secara tidak langsung, kedua orang tua Revan menginginkan Revan untuk menikahi wanita lain bukan?
Hal ini tentu saja ada sangkut pautnya dengan Livia juga. Apakah dengan keinginan tersebut, Livia bisa bebas dan pergi dari kehidupan Revan? Kasarnya, mungkinkah mereka bisa mengakhiri hubungan ini?
"Jika itu permintaan keluargamu, dan demi menyelamatkan perusahaan, kenapa tidak Mas? Kalian harus membuat perusahaan bangkit kembali, sayang sekali jika akan bangkrut sia-sia begitu saja. Kau memang tombak utama di keluarga ini, Mas. Karena itulah kau yang harus selalu berkorban demi semuanya, Mas,"
__ADS_1
"Oh, jadi kau senang mendengar hal ini? Iya? Kau bahagia karena dengan hal ini, kau bisa terlepas dari belenggu hidupku, begitu? Ah, dasar wanita picik! Pantas saja kau begitu bersemangat mendukung dan menyetujui keinginan kedua orang tuaku, karena kau ingin lari dari tanggung jawab, begitu? Halah, kedokmu sudah kuketahui! Kau juga pasti sengaja memanfaatkan kesempatan ini, untuk lari dari hutang-hutangmu, kan?" sentak Revan, yang begitu membuat Livia ketakutan.
"Tidak, Mas, bukan begitu. Tidak seperti itu, aku hanya tak ingin perusahaan besarmu hancur. Kau dan keluarga besarmu sudah membangunnya sejak lama bukan? Sayang sekali itu Mas, aku hanya berharap keluarga kalian baik-baik saja, jika memang harus seperti itu jalannya. Aku pasti akan tetap membayar utangku, dengan uang gaji sisaku, Mas."
"Jadi kau ingin aku menikahi wanita hamil itu? Brengsek! Kau sama saja dengan mereka! Aaarrgghhh, aku sungguh muak berada di rumah ini!! Lebih baik aku pergi menenangkan diriku dan otakku! Wanita gila ini pun sama saja dengan mereka yang haus kekuasaan!"
Revan mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu ia beranjak pergi meninggalkan Livia dan menutup pintu dengan sangat keras, hingga Livia kaget lagi dan lagi.
"Mas, Mas Revan, tunggu! Maafkan aku, maaf aku salah bicara," Livia berusaha mengejar Revan, namun Revan terlanjur penuh amarah dan meninggalkan Livia tanpa menggubrisnya sedikitpun.
Livia menghela napas panjang, berusaha untuk mengingat ucapannya tadi. Apakah memang ia salah bicara? Lantas, memangnya apa yang sebenarnya Revan inginkan? Tak mungkin bukan, jika dia akan membiarkan perusahaannya hancur begitu saja?
"Ya Tuhan, kenapa dengan Mas Revan? Apakah aku salah berkata begitu? Jika aku salah, lantas apa yang dia inginkan? Apakah dia ingin tetap melanjutkan pernikahan ini denganku? Astaga, ya ampun, bicara apa aku ini! Tak mungkin, tak mungkin Mas Revan akan seperti itu!" Livia menghela napas, ia berpikir ke sana ke mari karena ulah Revan.
Saat Livia terduduk lemas di sofa, tiba-tiba asisten rumah tangga ibunya Revan mengetuk pintu, dan masuk menemui Livia.
"Ada apa Bik Inah?"
"Livia, kamu dipanggil Nyonya besar, beliau ingin berbicara sesuatu padamu," ujarnya.
Deg. Apa ini? Apa yang akan dibicarakan oleh Helma Sadewa padanya?
Jantung Livia langsung bergemuruh cepat, tangan dan kakinya juga gemetar hebat. Helma Sadewa pasti akan membicarakan hal itu, Livia bingung, tak sanggup harus bagaimana nantinya.
__ADS_1