CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 24. Bolehkah?


__ADS_3

Sore ini ada acara makan malam dengan keluarga besar dari adik Helma. Mereka mengundang Helma dan keluarganya untuk makan malam bersama di sebuah restoran mewah.a


Karena keluarga tak akan ada di rumah malam ini, Helma memerintahkan seluruh asisten rumah tangga, untuk tidak menyiapkan makan malam. Mereka libur memasak satu malam ini, karena Helma akan pergi makan besar dengan keluarga besarnya.


Revan pun diberi tahu oleh Helma, namun Revan enggan ikut-ikutan acara makan besar seperti itu. Revan tak suka bergabung dengan keluarga besarnya.


Revan sudah positif menolak acara makan malam tersebut. Livia pun tentu saja tidak ikut, karena Revan tak ikut. Hanya tersisa Livia dan beberapa asisten di rumah ini, karena Helma dan yang lainnya sudah berangkat sore ini menuju restoran yang dituju.


Setelah keluarga Revan berlalu, selang beberapa menit kemudian, Revan dan Sendi pulang dari kantor. Sendi seperti biasa mulai mencuci mobil jika mereka sudah sampai di kediaman Revan.


Revan segera masuk ke dalam kamarnya. Kini, kamarnya memang selalu bersih dan wangi, setelah kehadiran Livia. Livia begitu menjaga kebersihan kamar Revan, sehingga Revan tak lagi memercayakan kebersihan kamarnya pada asisten lain.


Justru semakin bersih setelah Livia berada di rumah ini. Harum kamarnya pun kini selalu berbeda-beda setiap hariya.


Livia pandai membuat kamar Revan menjadi semakin nyaman ditempati. Revan sebenarnya patut berterima kasih pada Livia, namun Revan tak pernah sedikitpun mau menghargai perbuatan Livia selama ini.


Revan kira, Livia ada di dalam kamarnya, namun ternyata Livia tak ada, dan anehnya lagi, Revan malah ingin mencari Livia.


Revan mencoba menelepon ponsel Livia, namun ponselnya ada di kamarnya. Livia tak membawa ponselnya. 


"Loh, itu ponselnya! Ke mana dia pergi? Kenapa dia tak membawa ponsel jeleknya ini?" 


Revan refleks keluar dari kamarnya, dan berusaha mencari Livia. Entah kenapa Revan begiti antusias sekali ingin mencari Livia. Ini tak seperti biasanya, Revan terlihat sekali ingin menemukan Livia.


"Selamat sore, Tuan muda, apa ada yang Tuan inginkan? Tuan muda sedang mencari apa?" tanya Bik Asih sopan.

__ADS_1


"Di mana Livia?" tanyanya spontan.


"Oh, Nona Livia, ia sedang berada di dapur, Tuan. Sepertinya sedang memasak,"


"Memasak? Memasak untuk siapa?"


"Mungkin untuk dirinya sendiri, karena kan malam ini Nyonya besar tidak makan malam di rumah, dan dia berpesan pada kami, untuk tak menyiapkan makan malam, jadi mungkin Nona Livia masak sendiri untuk dirinya."


"Apa? Mama menyuruh kalian untuk tak menyiapkan makan malam? Lalu, aku makan apa malam ini?" Revan benar-benar keheranan.


"Maafkan kami, Tuan muda. Kami kira, Tuan muda akan ikut menghadiri acara itu dengan Nyonya. Jika memang tidak, kami akan memasak untuk Tuan muda sekarang. Bagaimana? Apa yang ingin Tuan muda makan untuk nanti malam?"


"Argh, terlalu lama jika aku menunggu kalian memasak!"


Sepertinya hanya masakan sederhana, tapi anehnya, mampu menggugah selera Revan saat ini. Mungkin efek ia belum makan, jadi harum masakan sederhana seperti ini saja, mampu membuatnya tergugah.


Revan melihat Livia sedang asyik di dapur, sepertinya gadis itu sedang membuat sesuatu. Benar kata Bik Asih, Livia sedang memasak. Mungkinkah itu untuk Revan? 


Tapi, bukankah Revan sempat berkata untuk melarang Livia masak? Kenapa Livia harus memasak lagi untuknya?


"Kau sedang apa?" tiba-tiba suara Revan mengagetkan Livia.


"Ya ampun, Mas Revan, aku kaget. Aku sedang masak, Mas, aku lapar …" tutur Livia.


"Masak apa?" Revan melihat kearah wajan.

__ADS_1


"Masak nasi goreng saja, yang simpel. Kebetulan kan hari ini asisten rumah ini tidak masak, jadi aku masak sendiri saja. Ngomong-Ngomong, Mas Revan kok gak ikut Mama ke restoran? Bukankah malam ini ada acara keluarga besar ya?"


"Aku malas untuk mengikuti hal yang tak penting seperti itu! Sudahlah, jangan berkata yang tidak penting, siapkan satu piring nasi goreng, dan bawa segera ke kamarku! Aku lapar!" 


Revan berlalu begitu saja, meninggalkan Livia dengan perintah yang sangat-sangat membingungkannya.


"Loh, kok? Itu tandanya dia mau makan masakanku? Begitu? Bukankah aku tak boleh memasak untuknya? Bukankah masakanku begitu tak enak? Lagipula, kenapa dia tidak pergi ke restoran saja, atau pesan delivery, agar makannya bisa nikmat dan lezat. Dia memang aneh," Livia geleng-geleng kepala saking herannya.


Livia mengambil piring, lalu melap dan menyiapkan nasi goreng buatannya untuk Revan. Setelah selesai, Livia pun menyiapkan semuanya dan membawanya menuju kamar pribadi Revan.


Waktu berlalu begitu cepat, hingga saat Livia akan memejamkan matanya, Tiba-Tiba, ponselnya berdering. Rupanya Lingga meneleponnya. Tanpa menunggu lama, Livia pun segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo, Ga, ada apa?"


"Kakak, Ibu sudah pulang, Ibu sudah di rumah sejak kemarin. Bisakah Kakak pulang sebentar untuk menyapanya? Ibu merindukan Kakak. Bisakah kau meminta izin pada suamimu untuk pulang dulu?"


Deg. Livia bingung bukan main. Semua urusan akan menjadi rumit jika itu berhubungan dengan Revan.


"Alhamdulillah, syukurlah jika Ibu sudah pulang. Kakak akan usahakan pulang, nanti kakak kabari lagi, ya, Ga …"


"Baik, Kak. Secepatnya ya, kasihan Ibu,"


"Iya, Kakak isahakan, Ga,"


Livia termenung sendiri, setelah ia menutup panggilan telepon dari adiknya. "Mungkinkah Mas Revan akan mengizinkanku untuk pulang? Ya Allah, kenapa rasanya takut sekali meminta izin padanya?"

__ADS_1


__ADS_2