CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 32. Obrolan Ringan


__ADS_3

Menghadapi manusia seperti Revan, jelas bukan hal yang mudah. Bagi Livia, Revan adalah polisi yang menangkapnya, dan rumah besar ini, adalah penjara suci baginya.


Jika Livia diam saja dan tak melakukan pergerakan apapun, jelas akan membuat Rrvan semakin mudah untuk menindasnya.


Livia rasa, ia lelah dihina dan dicaci maki oleh Revan. Kali ini, Livia ingin menunjukkan pada Revan, siapa dirinya yang sebenarnya.


Livia tak ingin harga dirinya terus diinjak Revan. Livia akan membuktikan, sekalipun dirinya adalah orang miskin, Livia memiliki kemampuan yang tak akan pernah Revan sadari.


"Kau tak akan becus melakukan pekerjaan kantor! Sok sekali kau ingin ikut denganku!" gerutu Revan dalam mobil, saat mereka tengah dalam perjalanan menuju kantor Sadewa Grup.


"Aku hanya akan membantumu membawakan beberapa tugas kantormu. Mas Revan pasti keberatan kan, karena biasanya Sendi yang membawakannya untukmu." 


"Kenapa kau harus ikut sih? Beberapa karyawanku tahu, jika kau adalah istriku! Tak sudi aku, mereka membicarakan aku tentang kau dan aku!" 


"Ya memangnya kenapa, Mas? Biarlah, biarkan mereka yang sudah tahu. Lalu, beri tahu mereka yang belum tahu!" Livia malah berbicara aneh.


"Gila kau! Aku sama sekali tak ingin menjadi suamimu! Mana mau aku mengenalkanmu pada mereka! Kau tak jauh seperti pembantuku saja di rumah pun! Jadi jangan berharap lebih!" tunjuk Revan pada Livia.


"Aku tidak berharap lebih, aku hanya bergurau saja. Jika Mas Revan tak setuju, ya tidak apa-apa. Aku hanya berniat membantumu,"


"Diamlah, jangan bicara terus. Akhir-akhir ini kau terlalu banyak bicara. Pak, tolong putar musik klasik, dan keraskan suaranya. Aku pusing mendengar wanita gila ini bicara!" tukas Revan meminta tolong pada supirnya.


"Baik, Tuan,"


Sebuah musik klasik diputar dalam mobil tersebut, dan membuat Revan perlahan memejamkan matanya, dan menikmati sensasi indah dalam alunan musik yang kali ini diputar.

__ADS_1


Musik tersebut membuat Revan rileks dan tenang dalam sekejap. Tanpa memedulikan Livia yang berada di sampingnya, Revan begitu menikmati musik hingga ia tak sadar, waktu terus berlalu dan Revan sudah sampai di kantornya.


Revan bekerja sesuai jadwal yang telah ditentukan. Ia rapat dan menghabiskan waktunya dengan beberapa dewan direksi. Livia rupanya dapat diandalkan.


Livia wanita yang cekatan, dan mengerti apa yang akan Revan inginkan saat rapat berlangsung. Keberadaan Livia berhasil membantu Revan. Hal ini membuat Revan sedikit bangga pada Livia.


Ternyata Livia tak sebodoh yang ia kira. Revan salah menilai Livia. Hanya melihat dari luarnya saja, Revan kini takjub dengan Livia yang bisa membantu pekerjaannya.


"Terima kasih, Livia! Hari ini kau hebat! Kukira, tak akan ada orang yang bisa diandalkan selain Sendi. Ternyata kau pintar juga!"


"Mas Revan belum mengenalku saja. Aku ini memang pintar dan cerdas. Di sekolah dulu, aku selalu menjadi juara umum. Aku juga mendapat beasiswa ke luar negeri, namun kutolak, karena aku tak mau meninggalkan Ibu."


"Kau bodoh! Harusnya kau terima saja beasiswa itu, jika nanti kau sukses, kan orang tuamu juga yang akan bangga!" pekik Revan.


"Mana ada seperti itu, Mas? Jika aku pergi kuliah ke luar negeri, mungkin aku tak akan pernah bisa bertemu dengan Ibu lagi. Ibu sedang sakit keras, dan jika aku pergi, mungkin nyawa Ibu akan melayang. Karena, jika aku tak menikah denganmu, Ibu tak akan bisa sembuh seperti sekarang ini. Aku memang tak mau melakukan semua ini, tapi karena melihat Ibu, aku jadi berpikir, jika apapun akan kulakukan, asal Ibu bisa kembali sembuh. Akhirnya, aku bisa mewujudkan hal itu, dengan meminjam uang pada keluarga Mas Revan. Terima kasih, ya, Mas. Semua ini tak luput dari kebaikanmu juga. Aku bersyukur, karena bisa membuat Ibu kembali seperti sedia kala lagi. Mungkin memang sudah harus seperti ini jalannya, aku tak kuliah, namun Ibu kembali sehat. Tak mengapa, aku harus menikah dini, yang terpenting hanya satu, kebahagiaan Ibu, dan kesehatannya, itu saja,"


"Kau juga telah menolongku, dari fitnah dan isu yang beredar di sekeliling orang-orangku,"


"Tentang itu ya, Mas?"


"Apa? Pria penyuka sesama? Katakan saja, tak usah ragu-ragu," tutur Revan.


"Iya, itu maksudku. Aku hanya tak enak mengatakannya padamu," Livia sedikit menunduk.


"Menurutmu, apakah aku orang yang seperti itu?" tanya Revan pada Livia.

__ADS_1


Deg. Ada sebuah perasaan tak enak, jika Livia harus jujur mengatakannya pada Revan. Tak mungkin jika Livia mengiyakan, kalau Revan seorang g*y.


Namun Livia juga merasa yakin, jika Revan bisa saja adalah orang yang seperti itu. Karena dari awal kenal saja, Revan memang kerap kali bersama teman-teman prianya.


"Apakah Mas Revan mengakuinya?"


"Tentu saja tidak. Jika aku mau, aku bisa saja menidurimu saat ini juga! Hanya saja aku tak tertarik padamu. Kau bukan kelasku,"


"Mas Revan, aku sangat bersyukur, karena aku bukan kelasmu. Jadi aku tak perlu khawatir dekat-dekat denganmu," Livia terkekeh.


"Renyah sekali tertawamu itu!"


"Mas Revan, ini sudah sore. Apa tak sebaiknya kita pulang?" ajak Livia.


"Apa kau mau makan diluar? Biar aku yang membayarnya, kau tak usah khawatir,"


"Tumben sekali, hari ini Mas Revan baik padaku,"


"Jadi kau ingin aku terus marah-marah padamu? Begitu?" Revan melotot.


"Ya enggak, Mas. Kalau aku tergantung Mas Revan saja, aku akan menurut,"


"Kita pergi ke restoran jepang! Aku ingin makan spicy tuna roll yang terkenal di sana! Ayo pergi!"


"Apa? Tuna Mas?"

__ADS_1


"Kenapa? Kau tak suka? Jangan salah, itu adalah makanan favoritku!" 


"B-baiklah, ayo pergi Mas," jawab Livia dengan ragu, karena ia hapal betul, ikan Tuna adalah musuh terbesarnya sepanjang hidupnya. 


__ADS_2