
Esok hari, adalah hari ulang tahun Anggita dan Anggata, kedua adik kembar Revan. Semua persiapan telah dilakukan oleh asisten dan pelayan dari Sadewa Grup.
Termasuk juga Helma dan Roni, yang turut serta dalam acara mewah tersebut. Revan sudah diberi kabar oleh Helma, agar Revan dan Livia memberikan kado terbaik untuk kedua adik kembarnya itu.
Hal itu tentu saja mudah bagi Revan, karena ia tinggal menyuruh Sendi, untuk membelikan hadiah barang mewah dan branded. Hal itu di rasa cukup oleh Revan, karena memang ia harus selalu memberikan kado yang terbaik dan termewah untuk kedua adiknya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Helma mengetuk pintu kamar Revan. Hari ini padahal hari sabtu, hari di mana Revan libur bekerja dan tak semestinya diganggu.
Namun entah ada maksud apa, Helma sepagi ini mengetuk-ngetuk pintu kamar Revan. Tak lama, Livia pun membuka pintu, karena Helma terus saja mengetuk pintunya.
"Selamat pagi, Mama, ada apa? Ada yang bisa Livia bantu?"
"Revan sedang apa? Bolehkah aku masuk, Livia?" tanya Helma sembari celingukan melihat ke dalam kamar.
"Ah, iya, tentu saja Mama, silakan masuk. Akan tetapi, Mas Revan masih tidur, ia meminta agar tak diganggu, karena semalam suntuk ia telah bermain game online,"
"Dasar anak tak tahu diri! Ada istri didepan mata, malah main game online!" Helma geleng-geleng kepala, lalu masuk ke dalam kamar.
Helma menarik napas panjangnya. Kekhawatirannya semakin menjadi, karena Revan sepertinya memang tak tertarik pada seorang wanita.
Revan tak juga mau mendekati Livia. Helma yakin, jika mereka berdua pun sebenarnya belum pernah melakukan hubungan suami istri. Hal ini semakin membuat Helma khawatir, takutnya memang Revan ini adalah seorang pria penyuka sesama jenis.
"Revan! Bangun!" Helma membangunkan Revan.
Helma melihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, dan Revan belum juga bangun? Keterlaluan!
__ADS_1
Mentang-mentang libur, bisa seenaknya bangun siang tanpa memikirkan tanggung jawab? Helma benar-benar kesal pada Revan. Apakah ia tak tahu, jika kedua adiknya besok akan berulang tahun?
"Revandio! Bangun kau!"
Revan masih tetap tak bergeming, ia begitu pulas dan enggan membuka matanya.
"Revandio Putra Sadewa, bangunlah! Kalau kau tidak bangun sekarang juga, jangan salahkan aku, jika air dari wastafel akan membasahi tubuhmu!" Helma menarik selimut Revan, dan menggerak-gerakan tubuhnya agar Revan terbangun.
Revan menggeliat, karena ia kesal, ada yang mengganggu tidur lelapnya. Padahal, ia masih begitu ngantuk dan matanya pun begitu berat untuk terbuka.
"Aarrgghh, dasar wanita uang! Bukankah sudah kubilang, jangan berani-berani membangunkanku! Apakah kau ingin kuberi hukuman, ha?" Revan marah-marah, namun ia belum membuka matanya, jadi ia merasa jika yang membangunkannya adalah Livia.
"Kau! Kurang ajar sekali mulutmu ini! Bukan Livia yang membangunkanmu, tapi aku, Mamamu!" Helma meneriaki Revan, agar Revan segera sadar dan membuka matanya.
Sontak saja Revan terbangun dan langsung duduk, karena mendengar suara ibunya. Revan kaget, bisa-bisanya Helma masuk ke kamarnya dan membangunkannya.
"Kau! Tak sadarkah esok hari apa? Kedua adikmu akan berulang tahun besok, dan kau harus segera membeli hadiah juga mempersiapkan ulang tahun adikmu!" titah Helma.
"Aku sudah mengutus Sendi untuk membeli yang terbaik. Kenapa Mama harus memusingkan hal itu? Hanya sebatas untuk membeli kado saja? Kenapa harus dipermasalahkan?"
"Kau lihat istrimu! Antar dia berbelanja, antar dia turut memeriahkan ulang tahun adikmu! Belikan Livia hadiah untuk Anggata dan Anggita! Kau ini, ya! Tidak pernah mengerti sekali. Cepat kau bangun dan segera mandi! Setelah itu, kau harus ajak istrimu jalan-jalan, sekaligus kau pergi bersamanya mencari hadiah terbaik untuk kedua adikmu! Jangan pakai tapi, jangan pakai tidak, cepat laksanakan perintahku!" Helma terus memaksa Revan, hingga akhirnya Revan pun mau tak mau melakukannya, walau jelas tersirat, ia begitu terpaksa melakukannya.
.
.
__ADS_1
Revan dan Livia akhirnya pergi bersama ke Mall. Revan sangat malas sekali, namun ia tak bisa menolak permintaan orang tuanya. Mau tak mau, Revan harus membawa Livia pergi bersamanya, tanpa diantar oleh Sendi.
Sendi telah diminta untuk membantu pelayan lain untuk mempersiapkan acara mewah pesta ulang tahun Gata dan Gita. Helma sengaja, agar Revan tak bisa turut menarik Sendi untuk ikut bersamanya.
"Karena kehadiranmu, hidupku jadi semakin rumit saja!"
"Mas Revan tak perlu mengantarku membeli hadiah, aku bisa sendiri, kok. Seandainya kau ingin meninggalkanku pun, aku tak mengapa. Karena aku tahu jalan pulang, tidak seperti di Bali waktu itu," jawab Livia.
"Kurang ajar sekali kau ya! Kau menantangku? Dengarkan aku, wanita uang! Aku bukan tak mau meninggalkanmu, aku bahkan sangat ingin menurunkanmu dari mobilku! Tetapi aku sadar, jika hal itu pasti akan diketahui oleh mamaku, bisa habis aku nantinya. Kau pintar sekali ya meledekku! Kau masih dendam padaku akibat hal itu? Iya?"
"Mas Revan, aku tidak dendam sedikitpun. Kalau aku dendam padamu, kau sudah kulaporkan pada ibumu, jika kau berbulan madu denganku, malah mengajak serta merta teman-temanmu. Jika mamamu tahu akan hal itu, apakah telingamu akan baik-baik saja?" ujar Livia mengingatkan kembali.
"Sialan, kau! Kurang ajar sekali! Berani-Beraninya, ya! Jangan membuatku marah, kau akan dihukum jika mengatakan hal itu pada mamaku!"
"Baiklah Mas Revan, hanya tinggal antar aku membeli hadiah untuk kedua adikmu, itu saja kan? Kau tidak perlu turun dari mobil, aku juga sadar diri, jika kau pasti tak mau jalan bersamaku. Kau pasti malu, berjalan dengan orang miskin sepertiku," Livia merendah.
"Ya jelas! Jelas aku malu harus berjalan bersama wanita sepertimu! Kau butuh uang berapa? Kutahu, kau tak punya uang kan? Jangan mempermalukanku, dan belikan kedua adikku hadiah yang mahal dan mewah! Ambilah kartu ini, kau bisa menggunakannya untuk membeli barang mewah untuk mereka! Ingat, ya, untuk mereka! Jangan berani-berani, kau pakai untuk keperluan dirimu! Aku tak sudi, uangku dipakai olehmu! Camkan itu! Jika kau sembunyi-sembunyi melakukannya, tetap akan kuketahui! Aku memiliki rincian kredit yang telah digunakan. Awas saja jika kau berani memakai uangku!" Revan benar-benar serius.
Livia mengangguk, tanpa diberi tahu pun ia sudah sadar, jika Ia sama sekali tak berhak menggunakan uang Revan. Andai saja Livia diperbolehkan bekerja, mungkin Livia bisa memiliki uang sendiri, dan tak akan merepotkannya lagi.
"Baik, aku mengerti. Aku juga sadar diri, aku tak mungkin menggunakan uang yang bukan hakku. Andai saja aku diperbolehkan untuk bekerja, mungkin aku akan memiliki uang sendiri dan tak harus menyusahkanmu," ujar Livia pelan.
"Penghinaan sekali bagiku, jika kau ingin bekerja! Memangnya aku tak mampu membiayai hidupmu? Memangnya berapa yang kau inginkan, ha? Kenapa sampai hati kau meledekku dan menyindirku perihal pekerjaan? Ha? Ha?" Revan tak terima.
"Bukankah kau tak ingin uangmu terpakai untukku? Kenapa kini kau berkata, seolah kau membolehkan uangmu terpakai olehku? Kenapa kau ini tak pernah konsisten sekali, Mas? Jadi aku harus bagaimana?" tanya Livia heran.
__ADS_1
"Uhuk, uhuk, astaga, sialan, kenapa tenggorokanku ini jadi gatal sekali," Revan salah tingkah, karena ia termakan oleh ucapannya sendiri.