
"Kau kenapa?" Revan keheranan, ketika nelihat Livia menggaruk-garuk tangan dan juga kakinya.
Livia tak bisa menolak keinginan Revan, karena Revan tak memberi celah padanya untuk memesan menu makanan lain. Pada akhirnya, Livia hanya pasrah dan berdoa, agar ikan tuna itu tak akan menjadi bumerang baginya.
Semakin digaruk, semakin memerah lah tangan dan kakinya. Wajah Livia juga kini terlihat bintik-bintik merah dan bengkak. Lama-kelamaan, Revan mulai sadar, jika ada sesuatu yang tak beres pada Livia.
"Kau ini kenapa ha? Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba sekali wajah dan tanganmu memerah begini? Kau sakit Livia? Katakan padaku?"
"Maaf, Mas, sepertinya aku tak bisa terus menemanimu makan, aku ingin pulang saja, dan aku ingin tidur," jawab Livia dengan keadaan yang benar-benar menyedihkan.
"Kau ini kenapa, Ha! Katakan padaku!" Revan sedikit berteriak pada Livia.
"A-aku, a-aku, aku alergi makan ikan Tuna, Mas. Maafkan aku, maafkan aku tak bisa menemani kenikmatan memakan ikan tersebut. Padahal aku sudah berusaha memakannya, namun baru sedikit saja, rasanya tetap membuatku mual dan tubuhku tak bisa bersahabat dengannya,"
Akhirnya Livia menjelaskan alerginya pada Revan. Hal ini tentu saja membuat Revan kaget dan ia sempat khawatir. Apalagi, tangan dan kaki Livia semakin memerah dan sepertinya rasa gatal dan perih itu tak bisa tertahankan di tubuh wanita yang kini disebut istrinya itu.
"Kau bodoh! Dasar bodoh! Kenapa tak kau katakan saja sejak awal, jika kau memang alergi pada ikan tuna!" maki Revan.
"Aku tak ingin mengganggu kenikmatan makanan favoritmu. Bukankah kau tadi bilang, jika itu adalah makanan favoritmu, dan kau ingin sekali memakannya. Aku tak mungkin menolak apa yang sangat ingin sekali kau makan. Kukira alergiku itu sudah hilang, dan aku bisa bersahabat kembali dengan ikan tuna. Nyatanya, aku malah menghancurkan makan siangmu. Maafkan aku, Mas Revan. Bisakah kita pulang sekarang, Mas?"
"Dasar kau menyebalkan! Ayo ke rumah sakit! Mana mungkin aku membawamu pulang dengan keadaan seperti ini!" Revan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar makanannya.
__ADS_1
Setelah meletakkan uang itu di meja, Revan tak tega melihat Livia lemas dan tak berdaya, dan bintik merahnya yang semakin banyak.
Revan pun akhirnya memutuskan untuk membopong Livia dan memaksanya untuk mau dipangku olehnya. Livia sontak saja kaget bukan main, karena Revan tiba-tiba memegang tangannya, dan membopongnya menuju mobil.
"Aarghh, Mas Revan, apa-apaan ini? T-turunkan aku, kumohon turunkan aku. Aku berat sekali, ini tak boleh seperti ini," Livia meronta, karena ia benar-benar tak nyaman dengan keadaannya kali ini.
"Diamlah! Kau terluka! Kau harus segera mendapatkan perawatan! Jangan banyak bergerak, aku hanya khawatir pada keadaanmu!"
"Tapi ini memalukan, Mas. Kita jadi pusat perhatian orang-orang. Aku malu, benar-benar malu," Sembari menahan rasa gatal, Livia juga menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Orang-Orang melihat Revan dan Livia. Mereka nampak sekali seperti orang yang sedang jatuh cinta dan bermesraan. Revan tak peduli orang akan berkata apa, namun kali ini, entah kenapa ia malah khawatir pada kondisi yang dialami Livia.
Revan akhirnya berhasil membawa Livia ke dalam mobil. Secepat kilat, ia melajukan mobilnya untuk segera menuju rumah sakit. Livia jadi bingung, kenapa tiba-tiba Revan jadi baik seperti ini?
Livia jadi malu dan bingung bukan kepalang. Apa yang harus ia katakan pada Revan? Pria dingin dan sombong itu kini jadi lembut dan terkesan khawatir padanya.
Sesampainya di IGD, Revan berteriak-teriak memanggil Perawat dan asisten dokter IGD, karena napas Livia kini mulai terengah-engah, dan sepertinya Livia mulai sesak napas.
Akhirnya Livia segera ditangani oleh perawat dan dokter IGD. Beberapa saat kemudian, akhirnya Revan diperbolehkan masuk dan menunggu Livia di dalam bilik IGD.
"Bagaimana? Sudah mendingan?"
__ADS_1
"Sudah tidak terlalu gatal, setelah Dokter menyuntikkan obat alergi padaku. Terima kasih banyak ya, Mas. Kau telah menolongku,"
"Tapi tubuhmu masih memerah. Tandanya kau masih alergi."
"Ini akan hilang dalam dua sampai tiga hari, kok," jawab Livia.
"Kau mau makan apa? Biar kubelikan, kau pasti lapar, karena sejak tadi belum makan lagi. Kau juga hanya makan sedikit saat di restoran tadi,”
“Jika aku alergi seperti ini, aku tak boleh dulu memakan apapun, mas. Aku hanya boleh memakan sayur bening dan buah-buahan saja.”
“Ya sudah, biar kubelikan beberapa buah untukmu. Apa kau tak apa menunggu di sini?”
“Mas revan, apa itu tak merepotkanmu? Aku malu, jika harus merepotkanmu terus, Mas,”
“Aku sedang berbaik hati padamu, kenapa kau sia-siakan kebaikanku ini? Jangan sampai aku berubah pikiran karena ulahmu sendiri, ya,” ancam Revan.
“Baiklah, Mas, jika kau memang ingin membelikan buah-buahan. Aku bisa menunggu di sini sendiri,” Livia harus mengalah, karena Revan tak akan pernah bisa dilawan.
Revan pergi begitu saja meninggalkan Livia seorang diri. Kali ini sungguh Livia dibuat bingung dengan sikap dan perbuatan Revan. Kebaikannya saat ini, jelas-jelas membuat Livia bertanya-tanya, karena ia tak pernah menyangka, Revan bisa bersikap seperti itu padanya.
“Ada angin apa ini? Kenapa MAs Revan tiba-tiba jadi peduli padaku? Aku seperti melihat, bahwa itu bukan jati diri Mas Revan. Apakah dia ini sedang kesurupan ya? Bisa saja itu terjadi kan?” Livia berbicara sendiri dalam hatinya.
__ADS_1
Revan kesurupan? Mungkinkah Revan akan berubah?