CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 41. Meminta Izin


__ADS_3

Keesokan harinya …


Keadaan Livia sudah mulai membaik, dan ia pun sudah bisa diajak berbicara, walau masih dalam keadaan yang lemah.


Revan tetap menunggunya, ia tak meninggalkan Livia sedikitpun. Berikut juga sang bayi, yang kini tengah berada di ruang inkubator. Kondisi bayi begitu mengkhawatirkan, sehingga membutuhkan perawatan khusus.


"Kau sudah bangun …," Revan tersenyum lembut pada Livia, ketika lIvia membuka matanya.


"M-Mas Revan, s-sejak kapan kau ada di sini?" Livia kaget bukan main.


"Sejak kemarin, dan kemarin malam, aku menunggu bayimu di ruang bayi. Kasihan jika dia seorang diri. Karena itulah, aku baru sempat menemuimu,"


"Apa? Kau menunggu bayiku?" Livia benar-benar kaget dan keheranan. 


Revan mengangguk, "ya, kasihan sekali bayi mungil itu. Dia kesulitan bernapas, tubuhnya hampir keracunan ketubanmu. Untung saja kau segera dioperasi, sebelum air ketuban itu benar-benar merasuki tubuhnya. Aku sungguh heran, bisa-bisanya kau hamil, tapi kau membiarkan bayimu seperti itu!"


Livia hanya terdiam. Ia tak mampu menjawab omelan Revan. Siapa yang ingin hamil dan melahirkan bayi itu? Sekalipun Livia tak mau! Hanya karena semua sudah terjadi, mau tak mau, Livia harus menerimanya.


"Kau sudah menikah Livia? Mana ayah dari bayi itu?" tanya Revan dengan sedikit meninggi.


Deg. Pertanyaan yang amat sulit untuk Livia jawab. Ingin rasanya mulut Livia bungkam, namun Revan pasti akan terus mencecarnya dengan pertanyaan tersebut.


Revan masih menatap Livia dengan tatapan yang cukup tajam. Revan masih berpikir keras, jika Livia diam seperti ini, mungkinkah jika bayi itu adalah anaknya? Revan jadi semakin yakin, karena gelagat Livia yang terkesan kebingungan untuk menjawab.


"Apakah itu anakku, Livia?" tanya Revan dengan gemetar.

__ADS_1


Jantung Livia langsung berdebar hebat bukan main. Apa yang harus dia katakan? Tak mungkin jika Livia jujur, karena ia sudah berjanji pada ibunda Revan, jika Livia tak akan lagi mengganggu mereka.


Belum sempat Livia menjawab, tiba-tiba, sekretaris Revan datang dan masuk tanpa permisi ke dalam ruang rawat Livia.


"Ah, Tuan, maafkan aku. Maafkan aku mengganggu waktumu. Ini darurat, Nona muda dan Nyonya terus meneleponku dan memarahiku. Mereka ingin agar Tuan segera mengangkat panggilannya. Mohon Tuan, saya dimarahi oleh Nyonya karena hal ini," tiba-tiba saja Sendi berkata seperti itu.


Livia kaget, mendengar Sendi mengatakan nona muda. Itu tandanya, Revan berarti memang benar sudah menikah bukan? Niat hati ingin jujur, tapi kini sepertinya tak mungkin.


Livia tak mungkin merusak kebahagiaan keluarga Revan. Sepertinya Livia memang harus melarikan diri lagi, agar Revan kembali kehilangan jejaknya.


"Kau! Kenapa kau menggangguku? Ada apa memangnya? Ha?" Revan emosi.


"Kita bicara di luar, Tuan," Sendi merasa tak nyaman, mengingat ada Livia di ruangan ini.


"T-tapi, Tuan," Sendi benar-benar merasa keberatan.


"Katakan!"


"I-itu, itu Tuan, Den Aldrich dibawa ke rumah sakit, karena dia muntah-muntah,"


Revan langsung mengernyitkan dahinya, dan menarik napas panjang. Ia refleks menatap Livia, ketika Sendi mengatakan Den Aldrich. Revan lupa, jika kini masalahnya bukan hanya soal perusahaan saja. Akan tetapi, masalah anak Davina pun, jelas menjadi tanggung jawabnya.


"Keluarlah! Tunggu aku sepuluh menit lagi! Aku akan menyusulmu!" perintah Revan.


"Baik, Tuan," Sendi pun keluar ruangan dengan tangan dan kaki yang gemetar.

__ADS_1


Revan kembali fokus pada Livia. Berharap Livia masih memahami pembahasan mereka, sebelum datangnya Sendi.


"Livia, fokus pada pertanyaanku tadi. Apakah bayi itu adalah anakku?" tanya Revan lagi, begitu to the point.


"Aku menikah dengan mantan pacarku, Mas. Aku langsung hamil, ketika satu bulan pernikahan kami." Livia berbohong.


"Oh ya?"


"Kau juga sudah punya anak ya? Selamat ya Mas," Livia mengalihkan pembicaraan.


"Cuih, itu bukan anakku. Dia adalah anak haram yang membantuku kembali bangkit!"


"Mas, tidak boleh seperti itu!"


"Livia, aku tak mau mendengar ocehanmu lagi. Aku hanya akan mengatakan satu hal, dan meminta izin padamu. Izinkan aku mengambil sedikit sampel darah anakmu. Kumohon, izinkan aku melakukannya, ya," pinta Revan serius.


"Hah? Apa? Maksudmu?"


"Aku akan membawa sampel darah anakmu ke kotaku! Aku akan melakukan tes DNA untuk bayi itu! Aku tahu, kau pasti tak akan mengaku sampai kapanpun. Karena itulah, aku memutuskan untuk melakukan tes itu sendiri. Agar aku yakin, jika dia memanglah anakku, darah dagingku!"


Livia tertohok dengan ucapan Revan. Bisa-bisanya Revan akan melakukan tes DNA untuk anaknya. Bagaimana jika nanti ketahuan? Ini pasti akan menjadi masalah besar bagi Livia nantinya.


"Mas, tidak! Aku tak akan mengizinkannya!" sentak Livia.


"Aku tak peduli kau mengizinkan atau tidak! Yang jelas, aku sudah meminta izin padamu! Lagipula, tanpa seizinmu pun, aku akan tetap bisa mengambil sampel darah anakmu, karena setahu mereka, aku adalah suamimu, wali dari bayi itu! Ckckck, Livia aku pergi dulu ya. Kau jaga diri baik-baik. Aku sudah membawakanmu seorang asisten, yang akan membantu menjaga dan merawatmu! Aku akan kembali dalam waktu dekat, setelah hasil Tes DNA itu kudapatkan! Karena perlu kau tahu satu hal, anakmu itu sangat mirip denganku, Livia!" Revan tersenyum, lalu ia meninggalkan Livia, dan keluar dari ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2