CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 45. Mengutarakannya


__ADS_3

Kediaman keluarga Sadewa ….


Livia akhirnya menapakkan kaki kembali di rumah mewah ini. Ia sudah berontak, mengamuk dan memukuli Revan, agar tidak kembali ke rumah ini. Sayangnya, Revan terus memaksa dan memohon pada Livia, agar Livia kuat dan mampu melewati semuanya.


Entah akan bagaimana nantinya, respon keluarga Sadewa, terutama Helma Sadewa, melihat Livia kembali bersama Revan.


"Kau takut?"


"Kau jahat! Kau sama saja akan membunuhku, jika kau membawaku ke sini,"


"Jangan berpikiran seperti itu, Livia. Kita tidak tahu, apa yang Tuhan rencanakan untuk hidup kita kedepannya. Hanya kau tempatku bertahan hidup, sekalipun aku tak memiliki apa-apa. Kuharap kau mampu melewati semua ini. Demi anak kita!”


Revan tetap memegang tangan Livia dengan erat. Revan tak akan pernah melepaskan genggaman tangannya pada Livia. Livia jelas amat takut dan canggung dengan keadaan ini. Baru kali ini, Livia merasa Revan begitu hangat dan perhatian padanya.


Entah mengapa, Livia merasa memiliki pelindung, meskipun ia tak tahu, akan berakhir seperti apa kehidupannya sebentar lagi. Yang jelas, Livia hanya berharap, yang terbaik untuk kebahagiaan ia dan bayinya sendiri. 

__ADS_1


Pintu rumah mewah itu terbuka, ketika Revan melangkahkan kaki masuk ke dalam, dengan keadaan masih menggenggam tangan Livia. Semua akan Revan beritahukan kepada kedua orang tuanya, perihal apa yang akan ia lakukan nantinya.


“Mama, Papa, aku datang!” suara Revan mengagetkan Helma dan Roni, yang tengah duduk santai di ruang utama.


Deg. Betapa kagetnya Helma, melihat Revan membawa seseorang, yang selama ini tak ia harapkan kedatangannya. Helma sungguh tak percaya, ia bisa melihat lagi batang hidung Livia di rumah ini. Ingin marah, namun Helma bingung, kenapa tangan Revan harus menggenggam tangan Livia?


“Kau! Apa maksudnya ini?”


“Harusnya aku yang bertanya padamu, Ma. Apa yang dulu kau lakukan pada Livia? Sehingga ia pergi meninggalkan rumah ini, padahal kala itu ia tengah dalam kondisi hamil!” tegas Revan.


“APA? HAMIL? Tak mungkin! Karangan cerita dari mana itu, ha?”


“Kau mengusirnya, dan mengancam agar dia tak pernah kembali lagi ke rumah ini, iya kan? Padahal kau tak tahu, Mama … malam sebelum dia pergi dari rumah ini, aku dan Livia telah berhubungan! Dia hamil, dia hamil anakku, dan melahirkannya tanpa sepengetahuan diriku! Kau memang kejam, Mama!"


"Mama, apa benar begitu?" Roni Sadewa sepertinya tidak tahu kisah yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


"Mama, jangan diam saja! Kau harus bicara! Aku benar-benar tak menyangka, demi uang dan tahta, kau teganya mengusir Livia. Aku kini kembali membawa Livia. Aku tak akan pernah melepaskan dia lagi! Apalagi, kini aku sudah tahu, jika Livia telah mengandung dan melahirkan anakku sendiri!"


"Revan! Kau tidak bisa seenaknya melakukan hal tersebut! Kau sudah memiliki seorang istri dan anak, Revan! Kenapa pula kau membawa lagi sampah ini, ha?"


"Mama, tutup mulutmu!" Roni Sadewa merasa kesal mendengar ucapan Helma.


"Aku rela melepaskan jabatanku, dan aku akan meninggalkan rumah ini. Aku tak akan membawa uang sepeserpun. Aku ke sini, bukan untuk meminta restu dari kalian! Akan tetapi, aku ke sini untuk memberitahu kalian, jika aku akan melepaskan jabatanku. Termasuk dengan menceraikan Davina, dan juga segera meninggalkan rumah ini. Kalian paham kan atas keinginanku? Masih ada kedua adikku, yang bisa menggantikan posisiku! Tak perlu melarangku, karena aku tak akan pernah mendengarkan ucapan kalian sedikitpun!"


"Revan! Kau harus dikurung agar kau tak berulah!" Helma benar-benar marah.


"Revan, kau tak seharusnya begitu!" Roni tak percaya dengan keputusan Revan saat ini.


Tiba-tiba …


"Tuan, Nyonya, bayi Nona Davina dikabarkan meninggal. Bayinya ternyata mengidap penyakit mematikan sejak dalam kandungan, dan ia meninggal tepat di usia dua bulan kelahirannya …" ucap sekretaris Roni Sadewa, menggegerkan Revan dan juga keluarganya.

__ADS_1


Revan terdiam sejenak, jika anak Davina meninggal, untuk apa ia masih mempertahankan rumah tangganya? Bukanlah lebih baik Revan kembali pada Livia?


"Tuhan telah membuktikan KuasaNya! Anak Davina meninggal, setelah aku menemukan istri dan anakku yang sesungguhnya. Bukankah ini adalah jalanku untuk kembali dengan Livia, Mama? Kuharap akal sehatmu masih bisa berpikir jernih, karena semua ini sudah jelas, merupakan takdir Tuhan yang telah digariskan untukku!" tegas Revan pada ibunya sendiri.


__ADS_2