CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 17. Ajaklah Istrimu


__ADS_3

Hari ini, adalah hari ulang tahun Anggita dan Anggata. Semua teman dan kerabat SMA mereka pun turut datang. Tentu saja, kebanyakan teman Anggata dan Anggita juga merupakan anak orang-orang kaya.


Acara ini sungguh meriah, dan luar biasa mewah. Semuanya tampak bahagia dalam acara ini. Terutama Gita dan Gata, yang begitu ceria di malam ini.


Revan sudah keluar bersama Sendi, karena ada sebagian teman kerjanya yang juga turut menghadiri pesta ulang tahun adiknya. Revan tentu saja harus menyambut kedatangan rekan kerjanya.


Revan melupakan Livia, saking ia sibuk harus bertemu dengan beberapa rekan kerjanya. Livia masih terdiam di kamar Revan, ia bingung, entah harus bagaimana turun ke bawah.


Masalahnya, Livia tak memiliki gaun cantik yang bisa ia gunakan dalam pesta ulang tahun ini. Dilihat di lemari pun, keluarga Revan hanya menyediakan pakaian sehari-hari saja.


Ditambah lagi, Livia tidak memiliki gaun yang bisa ia pakai malam ini. Berkata pada Revan pun, rasanya tak mungkin, karena Revan terlihat begitu sibuk dan mengabaikannya.


Tak lama kemudian, datang seorang pelayan rumah tangga, yang akan membawa beberapa piring kotor dan membersihkan kamar. Dia adalah Mbak Ani, kepala pelayan yang boleh memasuki kamar Revan.


"Loh, Nona, kok masih di sini? Kenapa Nona tidak segera turun? Bukankah acara sudah dimulai? Turunlah, agar Nyonya besar tak marah," ucap Ani.


"Aku bingung, aku tak memiliki gaun untuk turut serta dalam acara ulang tahun tersebut. Sementara aku minder, melihat mereka yang begitu cantik dengan dress-dress yang mereka kenakan. Aku tak mungkin hanya memakai pakaian seperti ini,"


Livia hanya terlihat mengenakan sebuah tunik yang memang cantik dikenakannya, namun tetap saja tunik tak akan cocok jika dipakai dalam acara ulang tahun.


Apalagi, ulang tahun mewah anak bungsu Sadewa Grup. Livia tentu saja minder, ditambah lagi, ia sempat mengintip beberapa tamu yang datang. Pakaiannya benar-benar luar biasa.

__ADS_1


Jika Livia ada di sana hanya dengan mengenakan tunik saja, ia pasti akan menjasi bahan tertawaan semua orang. Dan keluarga besar Sadewa pasti akan malu padanya.


"Ya ampun, mungkin Nyonya lupa membelikan kau gaun. Maafkan aku, nanti akan kusampaikan padanya. Aduh, sekarang bagaimana ya? Aku juga tidak memiliki gaun atau apapun. Kalau kukatakan pada Nyonya, dia kinu sedang sibuk. Aku telah datang kemari, padahal tadi stylist keluarga Sadewa baru saja pergi. Kenapa kau tak bilang pada Tuan muda, jika kau tak memiliki gaun?" Ani tampak kebingungan.


"Dia tak mau berbicara padaku, karena kemarin aku melakukan kesalahan. Ketika dia pergi pun, tak ada sepatah kata apapun dia ucapkan padaku,"


"Ya ampun, lalu bagaimana kau, Nona? Kau harus ikut memeriahkan acara itu, kau juga merupakan bagian dari keluarga ini. Kau harus menghadirinya," jawab Ani.


"Tak perlu, Mbak Ani. Memangnya aku siapa? Tak akan ada yang menanyakan keberadaanku, aku juga tahu diri, jika aku tak mungkin pantas berada di tengah-tengah mereka. Aku malu, tak ada yang menganggapku di sana,"


"Sabar ya, Nona. Hidup di dalam keluarga ini jelas sangat sulit. Kau pasti akan mendapatkan kebahagiaanmu nantinya. Semoga nanti Tuan Muda akan menyadari, jika mengabaikanmu terlalu lama, adalah sebuah kesalahan besar yang nantinya mungkin akan dia sesali," ucap Ani menguatkan Livia.


Livia hanya mengangguk, sembari tersenyum atas kebaikan yang Ani ucapkan padanya. Livia juga sadar, jika dirinya tak mungkin bisa membuat Revan menerimanya.


.


.


Revan dan rekan kerjanya tengah berbincang bersama. Mereka terlihat enjoy dan tak ada satupun orang yang yang menanyakan keberadaan Livia.


Namun saat kebersamaan itu berlangsung, tiba-tiba saja ada seseorang teman bisnis Revan, yang menanyakan di mana keberadaan Livia. Dia adalah Dirga Atmaja.

__ADS_1


Dirga Atmaja adalah salah seorang musuh dalam selimut bagi Revan. Di depan, mereka terlihat baik-baik saja, namun di belakang, mereka sebenarnya saling menjatuhkan.


"Revandio! Bravo! Apa kabarmu?"


"Halo, Dirga, baik, kabarku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa," balas Revan pada Dirga.


"Tentu saja kabarku baik. Ngomong-Ngomong, bukankah kau sudah menikah, Revan? Ke mana istrimu? Kenapa dia tak menemanimu?" sindir Dirga Atmaja.


Deg. Revan baru sadar, kemungkinan besar Dirga pasti akan memberikan pertanyaan itu pada dirinya. Revan lupa, jika Dirga pasti menanyakan hal tersebut pada Revan.


"Memangnya kenapa? Dia ada di kamar, dia tengah membetulkan hiasan rambutnya," jawab Revan sedikit gugup.


"Ajaah dia kemari! Kala kau menikah, aku tak hadir, karena sedang di luar negeri. Aku ingin menyapanya, dan berkenalan dengan istrimu. Bisakah kau mengajaknya ke sini?" pinta Dirga.


Revan benar-benar ingin marah dan tak menyangka, jika Dirga akan mengatakan hal itu padanya. Karena Dirga yang memancing, tentu saja rekan-rekan Revan yang lain pun turut mendengar hal tersebut.


"Iya, Van, benar sekali. Ke mana istrimu? Bukankah kita belum melihatnya sejak tadi? Ayo, ajak dia ke mari! Aku ingin bertemu dengannya," tambah Vania, pemilik perusahaan Citra Utama Grup.


"Iya, Van, ajaklah istrimu! Kau takut ya, kita merebutnya?" Gio terkekeh.


"Ah, tidak, tidak, bukan seperti itu. Baiklah, tunggu, tunggu sebentar. Akan kupanggilkan dia, dan membawanya kehadapan kalian," dengan gelagapan, akhirnya Revan pun berlalu, berniat untuk mengajak Livia turun.

__ADS_1


Dirga tertawa puas, karena inilah yang ia harapkan. Dirga memang sengaja membuat Revan kesal, karena Dirga tahu, jika Revan sebenarnya tak mencintai istrinya.


"Revan, Revan, kau tak tahu, siapa dalang dibalik fitnahmu tentang foto tanpa busanamu dengan pria bule itu! Akulah orangnya, akulah orangnya, Revan! Jika kau seperti ini pada istrimu, itu berarti semua yang kulihat bukan sebuah fitnah. Apa kau memang tak menyukai wanita? Dasar pria bodoh!" Batin Dirga dalam hati.


__ADS_2