CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 43. Masa Depannya


__ADS_3

Livia sudah diperbolehkan pulang ke rumah, namun bayinya masih belum boleh pulang. Mengingat, jika bayi tersebut masih harus mendapatkan perawatan intensif di ruang NICU. 


Asisten yang diberikan Revan untuk Livia, tentu saja mengikuti Livia pulang ke rumahnya. Dia menjaga Livia dengan baik, sesuai dengan perintah Revan. 


Mereka sudah satu hari berada di rumah, dan kini, asisten Livia yang bernama Mbak Ayu itu, harus menjenguk sang bayi di rumah sakit.  sesuai jadwal yang Dokter katakan pada Livia, jika bayi harus dijenguk, karena pasti akan ada perlengkapan yang harus mereka beli.


“Nona, Mbak harus ke rumah sakit. perawat tadi pagi mengirim pesan, jika ada beberapa alat yang harus kita beli,” tutur Mbak Ayu.


“Berapa Mbak? Alat apa?”


“Mbak gak tahu, yang jelas alat untuk menunjang kelangsungan hidup bayi kecil Nona,”


“Aku hanya memiliki uang tiga ratus ribu, Mbak. Aku gak punya uang lagi, jika harga alatnya lebih dari itu,” ucap Livia masih lemas.


“Non gak usah khawatir. Tuan Revan sudah pernah bilang sama saya, jika ada biaya yang diperlukan, katakan saja, dia pasti akan membayarnya. Intinya, Nona jangan banyak pikiran, karena Tuan Revan pasti tak akan tinggal diam, karena dia akan bertanggung jawab penuh atas semuanya, Nona. Sebentar lagi, setelah saya menyelesaikan perlengkapan dan makan siang Nona, saya akan berangkat ke rumah sakit dulu ya, Nona,”


Livia enggan menjawab ucapan Mbak Ayu. Sepertinya ia tengah berpikir keras, tentang suatu hal. Entah apa yang ada dalam benak Livia saat ini. Yang jelas, suatu hal yang mungkin akan membuat ia dan bayinya terpisah.

__ADS_1


“Non, Non, kok Non Livia melamun sih?”


“Eh, ya ampun, iya Mbak maaf. Barusan Mbak bilang apa?” Livia menatap Mbak Ayu.


“Mbak akan pergi ke rumah sakit sebentar lagi, setelah menyiapkan perlengkapan Nona dan juga makan siang Nona. Saya tak akan lama-lama, kok. Nona di rumah sebentar gak apa-apa kan?”


“Ah, iya. Gak apa-apa Mbak Ayu. Tenang saja, karena aku juga sudah mulai bisa beraktifitas sendiri. Nanti foto dan videokan bayiku ya. Segera kirimkan videonya padaku. Aku juga ingin melihatnya,”


“Tentu saja Nona, nomer ponsel Nona sudah ada dalam ponsel Mbak, kok. Pasti akan Mbak fotokan si kecil,”


“Makasih Mbak,” ucap Livia dengan pelan.


Beberapa saat kemudian, akhirnya Mbak Ayu telah pergi meninggalkan rumah kontrakan Livia. Ia tengah pergi menuju rumah sakit, sesuai yang telah tadi ia katakan pada Livia. Livia terbangun perlahan, masih menahan rasa sakit di perutnya, akibat luka sayatan setelah melahirkan.


“Tuhan, bagaimana ini? Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Mas Revan sudah mengetahui kehadiran bayinya, tapi aku juga tak mungkin kembali padanya. Aku yakin, Mas Revan pasti telah memiliki wanita lain, sesua dengan pilihan ibunya saat dulu mengusirku. Aku tak mungkin jadi beban hidup baginya. Harus bagaimana aku? Haruskah aku pergi lagi? Tetapi, bagaimana dengan anakku? Aku sangat menyayanginya, aku ingin selalu berada disampingnya. Selama ini, dia yang selalu menguatkanku, dan berada bersamaku. Bukankah tak mungkin jika aku meninggalkannya?”


Livia berbicara sendiri, ia tengah berpikir keras, bagaimana langkah hidup yang harus ia ambil setelah ini. Livia sebenarnya sadar, jika bayinya hidup bersamanya, anak itu pasti akan menjadi orang miskin sepertinya.

__ADS_1


Anaknya tak akan bisa mendapatkan kebahagiaan seperti anak lainnya. Tak mungkin jika Livia akan membiarkan anaknya dalam kondisi kemiskinan seperti yang tengah ia alami. Livia akhirnya menghela napas panjangnya, lalu membuangnya secara perlahan. Livia berusaha untuk yakin, atas pilihan yang akan ia pilih saat ini.


Livia berjalan perlahan menuju lemari. Mengambil tas besarnya, lalu memasukkan semua barang pribadi miliknya. Livia akan pergi meninggalkan bayinya dan juga Revan. Livia telah berpikir keras, jika bayinya hidup bersama Livia, tak akan ada jaminan jika bayinya akan bahagia.


Namun jika bersama Revan. Livia yakin, Revan pasti bisa membahagiakan anaknya, walaupun tanpa sosok Ibu disampingnya. Biarlah, anak itu menjadi masalah besar di keluarga Sadewa. Yang terpenting, dia tak akan kekurangan susu dan makanan. 


“Bayi mungilku, Mama pergi ya. Mama pergi karena mama ingin kau memiliki masa depan yang cerah. Jika hidup bersama Mama, kau pasti akan kelaparan, dan entah akan menjadi apa nantinya. Kuharap kau kuat, hidup bersama keluarga ayahmu. Mama akan doakan yang terbaik untukmu, sayang …” Livia menangis lagi, ketika melihat foto dan video yang dikirimkan Mbak Ayu kepadanya.


Dengan lemah, Livia berusaha berjalan meninggalkan rumah kontrakannya. Ia berpikir, ini adalah jalan terbaik, agar anaknya bisa hidup bahagia. Sebelum Revan muncul, sebelum semuanya terlambat, Livia berusaha untuk segera menghilang, dan meninggalkan mereka semua.


Livia tak tahu harus pergi ke mana, ia tak memiliki tempat untuk ia singgah. Namun berada di tepatnya pun, rasanya tak akan mungkin. Livia akan menyewa rumah lain, di tempat yang tak akan diketahui oleh Revan.


Uang tiga ratus ribu yang ia miliki, akan ia gunakan untuk membayar sewa selama dua minggu, dan sisanya untuk memenuhi kebutuhannya. Livia hanya berharap, jika luka bekas operasi itu akan segera sembuh. Livia ingin beraktifitas dan bekerja kembali, untuk bisa mendapatkan uang.


Livia berjalan kaki menyusuri jalan raya, untuk segera menuju stasiun kereta api. Akan  lebih murah ongkosnya, jika Livia pergi menggunakan kereta api. Padahal Livia tak tahu, akan ke mana ia pergi, setelah semua ini terjadi.


Sebuah mobil mewah tengah melaju kencang di jalan raya itu, dan ternyata, itu adalah revan. Revan langsung berhenti mendadak, ketika ia merasa ada seseorang yang berjalan mirip sekali dengan Livia. Mobil itu mengerem lumayan jauh dari keberadaan Livia, namun Revan jelas merasa, jika wanita yang tengah berjalan itu, mirip sekali dengan Livia.

__ADS_1


“Astaga, Livia? Apakah wanita di belakang itu adalah Livia? Ah, tapi bukankah itu hal yang tak mungkin? Haruskah aku melihatnya?”


Tit, Tit, bunyi klakson di belakang mobil Revan begitu berisik. Dia marah dan murka, karena Revan malah berhenti mendadak, dan mengerem seenaknya di tengah jalan. Akhirnya Revan pun melajukan kembali mobilnya, karena ada beberapa mobil di belakangnya yang terus membunyikan klakson padanya. 


__ADS_2