
Lingga akhirnya duduk berdua dengan pria yang datang menghampirinya. Lingga tak bisa lagi menghindar, karena pria itu terus saja menanyakan kabar kakaknya.
Padahal, Lingga sudah berjanji dengan Dodi, jika mereka tak akan pernah memberi tahu siapapun perihal pernikahan Livia.
Mereka akan menyembunyikan rapat-rapat, semua yang berhubungan dengan Livia. Akan tetapi, saat Lingga berbohong jika Livia tengah bekerja di luar kota, rupanya pria ini adalah pria yang berasal dari luar kota juga.
Lingga tak pernah menyangka, jika Livia sebenarnya memiliki seorang kekasih. Lingga jadi merasa tak enak, karena ia tak pernah berani membicarakan tentang Livia pada siapapun.
Dodi dan Lingga sudah saling berjanji, jika ada yang menanyakan kabar Livia, mereka akan menjawab jika Livia bekerja di luar kota. Namun kali ini, Lingga jelas tak bisa berbohong pada pria di depannya ini.
"Aku adalah kekasihnya. Aku sudah satu bulan pacaran dengannya. Namun saat ia berkata akan cuti dan pulang dulu, sudah hampir dua bulan lamanya, kini dia tak jua kembali. Aku bingung, sebenarnya di mana dia? Kuharap kau tak membohongiku, karena aku sudah lelah dibohongi olehnya." Bayu ingin kejelasan tentang keberadaan Livia.
Lingga bingung harus menjawab apa, karena ia sendiri sudah berjanji tak akan pernah membicarakan tentang Livia pada siapapun.
"Intinya dia bekerja sangat jauh!"
"Tak perlu berbohong. Aku tak akan menuntutnya, aku hanya ingin tahu saja, di mana dia sekarang? Aku tak akan mengganggunya, hanya ingin tahu saja, sebenarnya apa yang terjadi pada Livia?" ucapnya dengan memelas.
Lingga jadi tak tega, menyembunyikan sesuatu dari pria itu. Sepertinya dia memang sungguh-sungguh ingin mencari Livia. Haruskah Lingga memberi tahunya?
"Kau tak usah mengganggu Kak Livia lagi, dia sudah tak mungkin kembali padamu,"
__ADS_1
"Kenapa? Memangnya apa yang terjadi? Kumohon katakan padaku, jangan menyembunyikan apapun dariku, kumohon,"
Lingga menghela napas panjangnya, mungkinkah ia harus mengatakan hal yang sebenarnya? Lingga hanya takut, jika pria didepannya ini tak terima, dan malah emosi.
"Jangan takut. Aku takkan marah, aku takkan kenapa-kenapa, katakan saja semuanya dengan jujur, karena aku tak ingin ada satupun hal yang kau sembunyikan dariku. aku yakin, jika kau mengetahui Apapun yang terjadi pada kakakmu sendiri. tak usah merasa tak enak lagi, karena aku ingin memutuskan Apakah hubunganku Dan Dia memang berakhir, ataukah masih bisa aku perjuangkan?" ucap pria yang bernama Bayu itu.
"Sejujurnya, kakakku telah menikah. Kau tak perlu lagi mengganggunya,bkarena tak akan ada lagi kesempatan untukmu bisa kembali pada kakakku. Kakakku Tak memiliki pilihan lain, selain menikah dengannya. Kuharap, kau tak mengganggunya dan biarkan kakakku bahagia dengan suaminya. "
"Apa? Livia sudah menikah? Kau yakin? "
"Aku sangat yakin, karena memang itulah yang terjadi padanya. Kuharap kau tak lagi menaruh apapun kepadanya, karena aku yakin, dia takkan bisa kembali kepadamu. Kau jangan terlalu berharap, karena Kakakku sudah berada pada orang yang tepat dan dia tak akan bisa untuk bersamamu lagi. Jangan menggangguku ataupun Keluargaku, itu adalah peringatan untukmu. Jika kau tak terima akan hal ini, kau tenangkanlah dirimu dan jangan sampai merugikan keluargaku!"
Lingga segera berlalu, meninggalkan Bayu yang terlihat kaget atas apa yang telah Ia ucapkan. Lingga sudah tak peduli, karena memang Sampai kapan masalah ini akan terus dia rahasiakan? Lambat laun, semua orang juga pasti akan tahu, kalau Livia telah menikah dan menjadi Gadis Penjual utang yang dijual oleh ayahnya sendiri.
.
.
Revan dan Livia akhirnya telah sampai di rumah keluarga besar Sadewa. Mereka telah selesai berlibur ke Bali, dan kini waktunya mereka untuk benar-benar istirahat, dari perjalanan jauh yang melelahkan.
Seperti biasa, Revan telah merebahkan tubuhnya di kasur, sedangkan Livia, seperti biasa ia harus melayani Revan, sebelum suaminya itu benar-benar terlelap.
__ADS_1
"Apa kau ingin makan mas Revan"
"Tidak! Aku pegal-pegal, aku tak lapar!"
"Baiklah, akan ku panggilkan tukang pijat profesional, ya." Livia beranjak untuk keluar kamar Revan.
"Kenapa harus memanggil tukang pijat?" tanya Revan asal.
"Bukankah kau memang sakit dan pegal? Biar dipijat kan? Ya tentu saja aku akan memanggilkannya untukmu," tutur Livia sopan.
"Aku tak menyuruhmu memanggil tukang pijat sama sekali! Kenapa kau berani-beraninya memanggil tukang pijat tanpa aku suruh, ha?" lagi-lagi Revan meninggikan suaranya.
"Maaf, lalu apa yang harus aku lakukan? Kau bilang pegal, kan? Makanya aku berinisiatif untuk menghubungi tukang pijat, apakah aku salah?" Livia menegaskan.
"Aku ingin kau yang memijatku, bukan tukang pijat!"
"Hah? Apa?"
"Kau tuli? Pijat aku sekarang! Dengan kedua tanganmu!" tegas Revan sedikit meninggikan suaranya.
Deg. Jantung Livia berdebar amat kencang mendengar apa yang diperintahkan Revan.
__ADS_1
Livia menelan ludahnya, Revan benar-benar manusia gila yang seenaknya. Mana bisa Livia memijat seseorang? Apalagi memijat Revan yang rewel dan banyak maunya?
"H-haruskah aku menyentuhnya dan memijat manusia aneh ini?" batin Livia sembari membayangkan hal yang aneh.