CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 39. Lupa Karena Melihatnya


__ADS_3

Livia menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Ia sadar, ia melihat Revan saat tengah terkulai lemas di tengah jalan.


Namun lidahnya kelu, mulutnya tak bisa bersuara sedikitpun, karena Livia begitu lemas, menahan sakitnya kontraksi yang sungguh luar biasa.


Ingin rasanya berlari dan menjauhi Revan, namun apalah dayanya? Tubuhnya begitu lemas, sulit untuk digerakkan, karena sakit di perutnya yang tak bisa tertahankan.


Akhirnya Revan membawa Livia masuk ke dalam mobilnya, dan memerintahkan supir barunya untuk segera membawanya ke rumah sakit.


Perasaan syok sekaligus tak percaya, melihat Livia berbadan dua, dan sebentar lagi sepertinya akan segera melahirkan. 


Revan bingung, selama ini ia mencari Livia, tak pernah jua bertemu, dan ketika Tuhan mempertemukan mereka lagi, kenapa harus dalam keadaan Livia tengah mengandung?


Pikiran Revan kacau balau, otaknya tengah bekerja begitu keras, mencari tahu jalan keluar dari semua pertanyaan yang ingin ia ketahui dari Livia.


"Sabar, kau harus kuat. Kukira bukan kau, Livia! Aku sungguh-sungguh tak percaya, t-ternyata, k-kau hamil, Livia?" 


Ada sebuah keyakinan, jika Livia bisa saja hamil anaknya. Akan tetapi, Revan juga tak berani berspekulasi banyak, karena ia takut salah. Mengingat, mereka sudah lama sekali tidak bertemu.


Pasti ada banyak kejadian yang terjadi, tanpa sepengetahuan Revan. Hal inilah yang membuat Revan mengerem pertanyaannya, dan tidak memberikan banyak pertanyaan pada Livia. Revan tak tega, melihat kondisinya saat ini.

__ADS_1


"S-sakiiiiit, aauwwhh, i-ini sangat menyakitkan … aarrgghhh," Livia mengaduh kesakitan dan terus saja memegangi perut bawahnya.


Revan semakin cemas tak karuan. Keadaan ini benar-benar darurat baginya. Melihat Livia mengaduh dan kesakitan, sangatlah membuat Revan khawatir dan tak kuasa melihatnya.


Entah ini adalah sebuah kebetulan, atau memang sudah rencana tuhan. Revan dan Livia bisa dipertemukan kembali, dalam keadaan yang sama sekali tak pernah mereka duga.


Keadaan yang tepat, begitu Livia akan melahirkan, dan Revan muncul begitu saja dihadapannya. Tuhan mungkin memiliki sebuah alasan, kenapa Revan dan Livia harus dipertemukan dalam keadaan genting seperti ini.


"T-tuan, maaf," ucap sang supir pada Revan.


"Apa? Ada apa?"


"Astaga, Tuhan, kenapa aku bisa lupa? Hari ini, aku datang ke kota ini, memang untuk bertemu dengan klien. Tapi, kali ini keadaannya darurat. Aku tak mungkin membiarkan dia sendirian. Aku akan menemaninya. Pak Ridwan, kau katakan pada Sendi, biar dia yang mengurus semuanya. Dia tak perlu menungguku, karena aku tak akan datang. Lakukan saja yang terbaik, dan katakan, aku memohon maaf pada pihak Bumi Utama, karena tak bisa hadir dalam meeting kali ini!" perintah Revan pada supirnya.


"B-baik, Tuan," 


Revan lebih memilih menolong Livia. Keadaannya kali ini, benar-benar darurat, dan Livia sepertinya memang akan melahirkan sebentar lagi. Revan sadar, mungkin Tuhan memang menjadikan dirinya penyelamat untuk Livia, di saat-saat seperti ini.


Beberapa saat kemudian, Livia sampai di rumah sakit. Ia segera dibawa ke ruang IGD, setelah itu, ia dibawa ke ruang bersalin. Memang benar, Dokter berkata, jika Livia akan segera melahirkan, mengingat, sudah ada pembukaan yang akan mengawali jalannya persalinan.

__ADS_1


"Sudah pembukaan tiga menuju empat, Pak. Kami akan membawanya menuju ruangan bersalin. Mohon menunggu dan doakan yang terbaik untuk istrinya, ya," tutur sang perawat, sembari tersenyum dan berlalu meninggalkan Revan.


"Uhuk, uhuk … ah, iya, silakan," mendengar kata istri, membuat Revan jadi salah tingkah.


Entah kenapa, rasanya bahagia sekali, ketika perawat tersebut mengatakan, jika Livia adalah istrinya. Revan jadi senyam-senyum sendiri, selepas kepergian perawat tersebut.


"Ckck, istri katanya. Sok tahu sekali dia! Lebih tepatnya mantan istri, bukan istri," Revan tersenyum sendiri.


Revan menunggu di luar dengan perasaan tak menentu. Semua urusan dan hal lain yang ada di pikirannya, Revan abaikan begitu saja. Hati dan pikirannya terus saja tertuju pada Livia. 


Tiba-Tiba …, ketika Revan tengah menunggu di depan ruang persalinan, sebuah panggilan masuk membuyarkan pikiran dan kebahagiaannya saat ini.


"My Davina is calling …"


Deg ….


"Astaga, Davina! Bisa-Bisanya aku melupakannya. Tuhan, bagaimana ini?"


Irama jantung Revan berdetak lebih kencang, sungguh Revan tak bisa mengontrol debaran jantungnya saat ini. Revan lupa, ia bahkan tak ingat sedikitpun, jika saat ini, sebenarnya ia sudah memiliki seorang istri, yaitu Davina … pewaris tahta keluarga Gunadarma, yang dahulu dijodohkan lagi oleh keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2