CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 26. Rencana Aneh


__ADS_3

"Ibuku tidak tahu, jika aku telah menjadi wanita pelunas hutang. Aku takut, jika Mas Revan ikut, Ibu akan syok dan penyakitnya kambuh lagi. Maafkan aku, Mas. Lebih baik kau tak ikut, aku hanya ingin menemui Ibu sebentar saja. Jika aku tak boleh menginap, maka izinkan aku hanua beberapa jam saja untuk pulang. Aku tak akan macam-macam, sungguh …"


 


"Tidak ada satupun orang yang bisa memerintah diriku, selain ibuku sendiri. Tidak ada yang boleh memaksaku, untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Jika aku berkata ingin ikut, maka aku harus ikut! Aku harus memastikan jika kau tak akan melakukan kecurangan apapun. Aku tak percaya, kau akan kembali lagi ke rumah ini, setelah kau pergi! Kau bisa saja kabur, dan membawa uangku tanpa kau membayarnya! Hal itu jelas akan merugikan diriku dan keluargaku! Aku tak mungkin membiarkanmu berkeliaran bebas, apalagi dengan jarak yang lumayan jauh! Sudah, besok pagi kita berangkat! Jangan ada lagi bantahan apapun! Aku akan tetap pergi, sekalipun kau tidak mengizinkanku!"


 


"Mas, aku takut, aku takut Ibu akan berpikiran yang tidak-tidak. Aku takut, jika semua akan membuat Ibu jad—" ucapan Livia terpotong kareng Revan menutup mulut Livia dengan ibu jarinya.


 


"Sshhtt, jangan sebut namaku Revandio, jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Diamlah, aku juga tahu harus bagaimana nantinya. Jangan banyak bicara terus, sekali lagi kau bicara, maka tak akan kuizinkan kau untuk pergi ke rumah orang tuamu!" sentak Revan.


 


Revan berlalu menuju kamar mandi, dan meninggalkan Livia seorang diri. Livia langsung terbungkam mulutnya, dan tak bisa berkata apa-apa lagi.


 


Ini sungguh membuat Livia bingung bukan main. Ia jadi takut menghadapi hari esok, karena ucapan Revan yang tak bisa terbantahkan sedikitpun. Bahkan, sepertinya Livia pun tak akan bisa tidur semalaman.


.


.


Pagi ini, adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Livia. Di mana ia akan pulang dan menemui keluarganya. Banyak sekali hal yang ia pikirkan dalam otaknya, namun Livia berusaha untuk tidak memusingkannya, dan tetap fokus pada keluarganya yang akan ia jumpai sebentar lagi.


 


Livia melihat Revan sudah tak ada di ranjangnya, ketika ia beranjak keluar untuk menjemur beberapa sepatu yang telah ia cuci. Revan ke mana? Bukankah saat tadi Livia keluar kamar Revan masih ada di kamar mandi?


 

__ADS_1


Livia berjalan menuju ke taman belakang, dan bertanya pada Sendi, yang tengah membersihkan kucing kesayangan Revan. Sebagai sekretaris, Sendi pasti tahu di mana keberadaan Revan saat ini.


 


“Sekretaris Sen, apakah kau melihat Mas Revan?” tanya Livia.


 


“Tuan muda ada di garasi, Nona,”


 


“Garasi? Kenapa dia memanaskan mobil? Bukankah biasanya kau yang selalu melakukannya?”


 


“Tuan muda tidak menyalakan mobil, namun ia sedang mengecek mesin motornya. Bukankah hari ini Nona dan Tuan muda akan pergi dengan motor? Jadi sepertinya Tuan ingin mengeceknya sendiri. Saya pun tidak diperbolehkan untuk mengganggunya, ia ingin melakukan pekerjaannya sendiri.” Sendi menjelaskan pada Livia.


 


 


“Tidak, Nona, tuan tidak ingin aku ikut campur untuk hari ini. Justru, aku malah diliburkan secara paksa olenya.”


 


“Ya ampun, apa yang terjadi padanya? Kenapa dia aneh sekali?”


 


“JIka Nona penasaran, Nona segera temui Tuan muda di garasi, karena Tuan sepertinya sedang fokus dan memang akan segera berangkat,” jawab Sendi.


 

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih Sekretaris Sendi, aku akan menemui Mas Revan di gudang,”


 


Akhirnya, Livia berlari kecil menuju gudang. Livia tak mengerti dengan jalan pikiran Revan saat ini. Livia kira, Revan akan pergi naik mobil, dengan Sendi yang akan mengemudikannya. Namun Livia jadi aneh sendiri, ketika Sendi mengatakan bahwa Revan akan mengendarai motor.


 


Jika begitu, ada kemungkinan bahwa Revan akan mengemudikan motor dengan Livia, menuju ke kediaman keluarga Livia. Sesampainya di  garasi, benar saja, jika Revan tengah mengecek motor besarnya.


 


“Mas Revan,” kata Liva ketika Livia suda berada di garasi.


 


“Apa?”


 


“Kenapa kau menaiki motor?”


 


“Bukankah kau akan pulang menuju rumah keluargamu? Ya kita naik motor saja,”


 


“Kenapa naik motor? Bukankah itu sangat melelahkan?” ujar Livia/


 


“Memang dasar wanita itu serba salah! Kau bilang, kau takut ibumu tahu tentang pernikahan kita? Jika kita naik mobil, akan jadi pertanyaan besar baginya. Bukankah kau ingin terliat seperti sebelum mengenalku? Ya seperti inilah, aku mengantarmu naik motor, dan kita berpura-pura menjadi sepasang kekasih. Ah, kau memang bodoh! Rencana begini saja kau tak tahu! Sudah, cepat bersiap, ambil helm mu di dalam lemari sana! Cepat! Aku tak ingin membuang waktuku untuk hal yang tidak penting, seperti berbincang aneh dengan dirimu! Cepat! Cepatlah!”

__ADS_1


 


“B-baik, Mas, baik,” Livia akhirnya hanya bisa terdiam seribu bahasa, ia tak berani membantah semua ucapan Revan, sekalipun banyak sekali pertanyaan yang ingin Livia tanyakan pada Revan.


__ADS_2