
"Kau tahu kan, jika hubunganmu dengan keluarga ini, adalah sebuah perjanjian karena hutang?"
Kata-Kata itu mewakili pertemuan antara Livia dan Helma Sadewa. Livia sudah paham, ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung.
Helma pasti akan mengusir Livia, karena Revan akan dinikahkan dengan wanita lain, demi menyelamatkan perusahaan Sadewa.
Livia juga sadar diri, akan posisinya di keluarga ini. Ia jelas akan melakukan apapun, sesuai dengan keinginan mereka. Livia tak memiliki kekuasaan apapun, selain pasrah dan menuruti apa yang diinginkan oleh keluarga besar ini.
"Iya, Mama, aku jelas tahu hal itu," jawab Livia sembari menundukkan pandangannya.
"Ya, kau hanya seorang wanita penebus utang, karena keluargamu tak memiliki uang bukan? Jika aku meminta uang itu kembali, apakah kau bisa mengembalikannya sekarang?" tanya Helma dengan nada tinggi.
"Tidak, Ma, aku tak mungkin bisa melunasinya, aku tak memiliki uang, apa yang harus aku lakukan, Ma? Maafkan aku, aku turut bersedih mendengar kabar penipuan tersebut. Akan tetapi, aku tak bisa berbuat apa-apa, karena aku tak bisa membayar utang-utangku secepat itu," Livia semakin merasa bersalah.
"Nah, kau tahu diri juga rupanya! Dengan begitu, kau harus sadar siapa dirimu! Aku tak akan banyak basa-basi lagi, aku akan langsung to the point, mengatakan apa yang aku inginkan. Livia, aku harus melakukan sesuatu, demi memperbaiki perusahaan dan keluargaku. Karena kurasa tugasmu sudah selesai, sepertinya kau bisa kembali ke kediaman asalmu. Kau bisa mengakhiri pernikahan kontrak ini, dan kembali pada keluargamu. Namun, perlu kau tahu satu hal, aku tak akan semudah itu melepaskan utang ayahmu, aku akan tetap meminta bayaran darimu. Kau bisa mencicilnya, lalu memberikannya padaku setiap satu bulan sekali. Intinya, pernikahan ini selesai, dan kau sudah tak akan terikat apapun lagi dengan Revan. Apakah ucapanku ini bisa kau pahami? Adakah yang ingin kau tanyakan?” tutur Helma mencengangkan.
Livia menarik napas panjangnya, seakan ia bisa memahami situasi genting saat ini. Satu sisi, Livia bahagia mendengar kabar ini, karena ia bisa terlepas dari jeratan pernikahan paksa karena menjadi gadis penebus utang. Di satu sisi, Livia merasa sedih pula, karena kebersamaannya dengan keluarga ini, sudah berjalan baik hingga ia kuat bertahan sampai di titik ini.
Kisah pahitnya bersama Revan pun, kini sudah mulai berangsur membaik. Revan sudah berubah, tak jahat seperti dahulu. Revan kini sedikit lebih hangat dan perhatian pada Livia. Hal inilah yang membuat Livia sedih, karena mungkinkah percikan rasa itu sudah hadir diantara keduanya?
__ADS_1
Livia mengangguk-angguk, pertanda paham dan mengerti dengan apa yang telah dibicarakan oleh Ibu mertuanya. Tanpa harus menyanggah perkataan Helma pun, Livia sudah sadar, apa yang semestinya ia lakukan setelah ini.
“Baik, Mama, Livia mengerti. Sejak awal pun, sejak perjanjian ini terjadi, aku memang sudah berjanji, akan mematuhi semua aturan yang Mama berikan. Termasuk, jika aku harus pergi dari rumah ini. Aku memahami kondisi keluarga Mama dan Mas Revan, yang pasti memang membutuhkan uluran tangan pebisnis lain untuk kembali bangkit. Maafkan aku, yang tak bisa melakukan apapun, dan hanya menjadi beban keluarga ini saja. Secepatnya, aku akan segera meninggalkan rumah ini, dan kembali pulang kepada keluargaku. Mama tak perlu khawatir untuk utang itu, selama aku masih hidup, aku akan berusaha semampuku untuk mencari uang dan mengembalikannya pada Mama. Terima kasih banyak atas kebaikan Mama pada keluargaku, kau begitu berjasa atas kesembuhan ibuku, Ma …” ada sedikit bulir bening mengalir di pipi Livia saat ia mengatakannya.
“Bagus jika kau sadar akan hal itu. Aku tak akan banyak bicara lagi, Livia. Kurasa kau sudah mengerti dan memahami maksud dari pembicaraanku. Untuk proses perceraian, akan kuurus semuanya, nanti akan kukirimkan padamu setelah prosesnya selesai. Kuharap, pagi buta sebelum Revan terbangun, kau sudah enyah dan menghilang dari rumah ini. Jangan beritahu Revan atas apa yang baru saja kubicarakan padamu!” tegas Helma.
“Baik, Mama, aku mengerti. Aku akan membereskan barangku sekarang juga, mumpung Mas Revan pergi dan belum pulang.”
“Ya, segera kau lakukan! Lalu jangan lupa, untuk menyembunyikan barang-barangmu, agar Revan tak melihatnya nanti!”
“Baik, Mama, aku ke kamar dulu, ya,”
Padahal, selama ini, bukankah inilah yang ditunggu-tunggu oleh Livia? Bukankah inilah momen terbaik saat Helma mengusirnya? Kenapa rasanya jadi berat sekali bagi Livia untuk meninggalkan rumah ini? Apakah semua ini karena Revan?
Livia dengan sigap membereskan dan merapikan semua barang-barangnya, agar sebelum Revan kembali, semuanya sudah selesai dan Revan tak curiga sedikitpun.
Setengah jam berlalu, akhirnya Livia sudah memasukkan semua barang dan bajunya ke dalam koper, setelah itu Livia menyembunyikan kopernya di bawah kolong ranjang mewah milik Revan.
Melihat jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan anehnya, kenapa Revan belum kembali? Ke mana sebenarnya Revan pergi?
__ADS_1
Livia tak ingin memusingkan hal tersebut, ia lantas beranjak menuju sofa besar yang selalu digunakannya untuk beristirahat.
Livia tak pernah berani menyentuh, apalagi tidur di kasur Revan. Hal itu sangat lancang baginya, dan selama pernikahan pun, Livia memang selalu tidur di sofa besar ini. Untungnya sofanya empuk dan luas, jadi Livia tak merasa kesempitan untuk tidur di tempat ini.
.
.
Tepat pukul dua belas malam, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Terlihat Revan masuk ke dalam kamar sembari sempoyongan dan matanya nampak teler. Jika diamati, sepetinya Revan tengah dalam keadaan mabuk. Mulut dan kemejanya bau alcohol, dan sepertinya, saat ini pun, kesadarannya mulai menurun, akibat pengaruh alcohol yang telah merasuki tubuhnya.
“Aarrghh, akhirnya sampai juga. Kukira aku tak akan sampai di rumah ini! Hmm, hei gadis bodoh! Kenapa kau memejamkan matamu? Sambutlah suamimu ini! Aku baru pulang! Aku begini karenamu, bodoh! Bisa-bisanya kau tidur dengan nyaman, semenara aku, tak bisa tidur karena memikirkan kegilaan keluarga ini! Aargghhh, kenapa gadis bodoh itu terlihat begitu menawan ketika tertidur?”
Revan berjalan masih begitu sempoyongan, berusaha mendekati sofa, tepat di mana Livia tengah terlelap saat ini. Livia sepertinya sudah tidur dengan nyaman, karena ia tak sadar, dengan Rvan yang telah kembali.
Revan memegang dan mengusap kaki jenjang Livia yang begitu mulus dan putih. Revan sudah benar-benar mabuk, dan sepertinya ia tak sadar dengan apa yang telah ia lakukan barusan. Setelah itu, Revan malah menggendong Livia, dan membawanya menuju kasur empuk miliknya.
“Kau tak boleh kedinginan, kau harus tidur di kasur hangatku. Ah, iya juga, apakah kau ingin aku hangatkan juga malam ini? Ternyata tubuhmu bagus juga! Kenapa aku baru melihatnya sekarang? Padahal sudah lama kau hidup bersamaku! Apakah aku boleh mencobanya? Mungkinkah rasanya akan begitu lezat dan nikmat?” Revan berbicara tak tahu arah, dengan mata yang merem melek saking mabuknya.
Tanpa sadar, karena pengaruh alcohol yang begitu kuat, Revan tiba-tiba membuka satu-persatu kancing baju Livia, dan melakukan apa yang tak semestinya ia lakukan malam ini.
__ADS_1
Bersambung ….