
Revan segera menuju ke rumah sakit, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ibunya. Heran sekali, kenapa Revan harus repot-repot dihubungi jika anak Davina sakit?
Biasanya, Helma tak akan mengganggu Revan, sekalipun itu adalah keadaan darurat. Saat Davina melahirkan pun, Revan tak berada disisinya. Revan bahkan muak, untuk menunggu proses persalinan tersebut.
Revan berpikir, sepertinya memang ada sesuatu, yang menyebabkan Revan harus segera datang ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, benar saja dugaan Revan, jika sudah ada keluarga besar Davina, yang tengah menunggu cucu mereka.
Revan kini tak akan banyak basa-basi lagi. Ia sudah berpegang teguh pada pendiriannya. Semua kelanjutan hidupnya, tergantung pada sampel darah yang saat ini tengah berada di tangannya.
Revan malah berjalan menuju ruang pendaftaran untuk melakukan tes DNA. Tentu saja keluarga besar Davina bingung bukan main. Bisa-bisanya Revan tak patuh dan tak hormat pada Gunadarma, Ayah Davina.
"Kenapa tak sopan sekali anak itu? Bukankah ruang rawat anak kita ada di lantai tiga? Kenapa dia malah berjalan lurus ke ruang pendaftaran? Padahal dia jelas-jelas melihat kita, kenapa doa tak menyalami kita?" istri Dharma terlihat begitu kesal.
"Aku tak peduli tentang apapun lagi, karena aku sudah bosan mendengar tentang dia. Yang terpenting, status anak dan cucu kita aman, karena kehadirannya. Memangnya, sejak kapan dia menghargai anak kita, dan menghormati kita? Selama ini, dia tak pernah menganggap kita, Ma!"
"Mama kira, setelah Carla lahir ke dunia, dia akan menyayangi Davina, dan menerima kehadiran Carla. Benar-benar tak bisa diharapkan! Mama benci sekali pada manusia tak tahu diri itu! Jika bukan karena kesepakatan ini, sudah kumiskinkan lagi dia!"
"Mama, cukup! Bahaya jika terdengar oleh Roni dan Helma. Kau ini, biarkanlah Revan! Memang kita sudah terbiasa dengan sikapnya yang seperti ini kan?"
Keluarga Gunadharma pun hanya bisa menggelengkan kepala, begitu melihat kehadiran Revan. Mana bisa Revan bersikap ramah pada mereka? Semua ini hanya rekayasa, tak mungkin jika dia akan menyayangi mereka, seperti keluarga sendiri.
Revan telah mendaftarkan tes DNA untuk bayi Livia. Serangkaian proses telah ia lakukan, dan ia hanya tingga menunggu hasil DNA tersebut.
Setelah keluar dari lab, Revan pun berjalan menuju ruang rawat bayi, tempat di mana anak Davina dirawat. Revan dengar, jika anak Davina mengalami masalah pada pernapasannya.
Revan sudah menduga hal ini akan terjadi, karena dulu pun, ia tahu, apa saja yang dilakukan Davina, agar ia bisa menggugurkan bayi itu.
"Revan! Kau ini! Kenapa lama sekali? Kenapa jam segini baru datang sih? Harusnya kau datang sejak mertuamu tadi di sini!"
"Aku tadi berpapasan dengan mereka. Tak usah berlebihan, Mama. Aku lelah, ada apa ini? Kenapa kau harus menghubungiku? Bukankah Mama juga tahu, jika aku memiliki sebuah pekerjaan di luar kota? Kenapa malah menggangguku?"
__ADS_1
"Mertuamu datang! Kau seharusnya ada di sini! Kau memang mempermalukanku!"
"Sayang, cukup. Jangan berdebat dengan Mama. Yang terpenting adalah kesehatan Carla. Aku benar-benar syok, dia harus masuk ruang NICU lagi,"
"Davina, kau harusnya sadar. Semua ini juga karena ulahmu, kan? Berapa banyak pil kau minum, agar anakmu itu keluar sejak dulu? Nyatanya, dia begitu kuat dan mampu bertahan! Hingga akhirnya, penyakit bawaan itu hadir setelah ia lahir ke dunia! Ini jelas karena efek obat-obatan yang kau minum, demi menggugurkan bayimu sendiri! Sekarang, rasakan saja akibatnya!"
"Revan! Tutup mulutmu!" Helma begitu kesal.
"Yang! Kamu jahat!" air mata Davina mulai bercucuran, karena sakit hati dengan ucapan Revan.
"Aku lelah, aku akan pulang!"
Revan berlalu, diikuti oleh Sendi, yang turut setia padanya. Davina kaget bukan main, karena Revan kini benar-benar acuh dan tak peduli lagi sama sekali pada dirinya.
Helma pun kaget bukan main, karena Revan baru kali ini bersifat seperti ini padanya. Biasanya Revan memang cuek, namun jarang sekali mengatakan hal yang sangat menyakitkan seperti barusan.
.
.
Revan begitu antusias untuk datang lagi ke rumah sakit. Namun kali ini, bukan untuk menjenguk anak Davina. Ada satu hal yang telah ia tunggu-tunggu, sejak beberapa hari yang lalu.
Apalagi kalau bukan hasil tes DNA anak Livia. Revan sudah sangat antusias akan hal ini, karena hari ini, akan menjadi hari, di mana ia akan menentukan kehidupan yang sesungguhnya.
Revan sudah berjanji pada dirinya sendiri, jika memang anak Livia itu adalah anaknya, Revan akan melepaskan semuanya, dan berjanji, akan bertanggung jawab penuh pada Livia. Sekalipun, harus melepaskan semua harta dan kekayaannya.
Akan tetapi, jika bayi itu bukanlah bayinya, maka Revan akan memberikan semua keputusan pada Livia. Revan tak akan memberatkan Livia, dan akan menghargai semua keputusan Livia.
"Revan, ayo cepat! Lihat anakmu sekarang juga! Dia tengah kritis, dia dalam keadaan darurat! Beberapa Dokter tengah masuk dan memeriksanya! Kau harus ada disamping Davina, untuk menguatkannya!"
"Keluarga Gunadarma di mana? Mereka datang lagi tidak?'
__ADS_1
"Mereka tak ada! Jangan pikirkan mereka, tapi kau saja pikirkan anakmu!" sentak Helma.
"Keluarganya saja sudah tak peduli, bagaimana dengan aku? Mama, lebih baik kau ikut aku sekarang! Ayo!" Revan pun mengajak Helma untuk pergi ke ruang lab.
"Eh, eh, kau mau ke mana? Revan! Lepas! Bagaimana dengan Davina?" Helma kebingungan.
Sesampainya di ruang laboratorium, Helma jelas semakin bingung saja. Entah apa yang Revan lakukan. Bertanya pada Sendi pun, hanya mendapat bungkaman dan senyuman saja.
"Kenapa kau membawaku ke sini?"
"Diamlah, Mama."
Revan menemui petugas lab, dan menanyakan hasil lab yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.
"Atas nama Tuan Revandio ya?"
"Ya, betul. Aku orangnya. Bagian mana yang harus aku tanda tangani?"
"Baik, tunggu sebentar ya,"
Revan membawa sebuah amplop besar, dan hal itu tentu saja membuat Helma heran dan kebingungan. Apa maksud Revan? Batinnya.
"Apa sih ini? Kau tes lab apa?"
Revan tak menjawab ucapan Helma. Ia lantas membuka amplop yang masih tersegel itu. Revan berdoa dalam hatinya, dan berharap yang terbaik untuk semuanya.
Setelah Revan membaca hasil tes DNA tersebut, matanya refleks langsung berkaca-kaca, saking ia syok dan tak percaya. Di sana, tertera bahwa hasil DNA Revan dengan Bayi Ny. Livia, dinyatakan 99,9% cocok.
Itu artinya, bayi Livia memanglah anak Revan. Hal ini jelas terbukti, karena tes DNA bukanlah main-main. Rasa bahagia itu tak bisa lagi Revan bendung, air matanya jatuh tanpa ia sadari. Tangan dan kakinya gemetar hebat, saking tak kuasanya Revan menahan diri.
"Dia anakku! Dia adalah anakku, Mama! Aku harus menemuinya! Aku harus segera menjadi Ayah untuk anakku! Mama, aku harus pergi sekarang!" Revan memeluk Helma, dan menciumi ibunya tersebut.
__ADS_1
"Revan! Kau gila! Apa-apaan ini, ha? Apa maksudmu?" Helma sangat tak mengerti, kenapa Revan bersikap seperti ini.
Mungkin Helma tak tahu, dengan kejadian sembilan bulan yang lalu, yang terjadi antara Revan dan Livia, sebelum Livia benar-benar pergi meninggalkan rumah keluarga Sadewa.