CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 25. Ingin Ikut?


__ADS_3

"Mas Revan, kenapa tidak beli makan di luar? Bukankah masakanku tidak enak?"


"Aku terpaksa memakannya! Aku sudah terlanjur lapar, dan akan memakan waktu lebih lama jika aku pergi ke luar, atau memesan secara delivery!"


"Maaf ya, aku memang tak bisa memasak, Mas." Livia menunduk.


"Kenapa harus meminta maaf? Apakah kau melakukan kesalahan? Ngomong-Ngomong, kenapa kau tak makan? Bukankah tadi sebenarnya kau akan makan sendiri? Apakah nasinya habis karena kau berikan padaku?" 


"Tidak, Mas. Hanya saja, aku memang ingin menunggumu selesai makan. Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, habiskan saja dulu makanannya, Mas," tutur Livia.


"Katakan saja sekarang! Tak perlu menunggu aku selesai makan!"


"Aku tak ingin mengganggu jadwal makanmu. Jadi akan kutunggu saja di sini,"


"Dengan kau berkata seperti itu saja, sebenarnya kau sudah menggangguku! Mau apa lagi? Ya sudah, katakan saja sekarang!" tukas Revan memaksa.


Livia menghela napas panjangnya, ia sendiri bingung, apakah ia memang harus mengatakannya segera mungkin pada Revan? Bagaimana jika Revan tak membolehkannya?


Jujur saja, Livia sangat takut mengatakannya. Karena dahulu Revan pernah berkata, jika ia tak boleh keluar dari rumah besar ini lagi. Kecuali, jika Revan yang memintanya pergi.


Inilah hal yang membuat Livia merasa tak nyaman untuk mengatakannya. Haruskah Livia memendamnya? Tapi rasanya tak mungkin. Karena Livia benar-benar merindukan ibunya.

__ADS_1


Sudah lama Livia tak bertemu ibunya. Ingin rasanya saat ini juga, ia memeluk dan menciumj ibunya. Sesak dadanya, jika Livia sudah teringat pada keluarganya, terutama ibunya sendiri.


Hal yang sepertinya akan sulit ia lakukan, yaitu bertemu dengan keluarganya sendiri. Karena ada Revan dalam hidupnya, kini Livia harus lebih mementingkan Revan, daripada keluarganya sendiri.


"Kenapa diam? Tak jadi bicara?"


"J-jadi, Mas," jawab Livia gugup.


"Yasudah cepat katakan! Apa yang ingin kau bicarakan?"


"B-begini, Mas … ibu sudah pulang dari rumah sakit. Ibu ingin bertemu denganku. Ibu tahunya, jika aku masih bekerja di luar kota. Bolehkah aku pulang sebentar untuk menemui Ibu?"


"Hanya itu saja?"


"Hah? Apa? Maksudmu, Mas?"


"Ya, hanya itu saja yang ingin kau katakan?" Revan memeperjelas lagi.


"Iya, itu saja. Bagaimana jawabanmu, Mas? Apakah kau mengizinkanku? Hanya sebentar, Mas. Hanya satu sampai dua hari saja, kok,"


Revan mengangguk, ia tahu, jika Livia memang tak akan mungkin lama-lama di rumah orang tuanya, karena Livia jelas terikat dengannya. Terikat pernikahan palsu, yang tentu saja tak bisa pergi berlama-lama begitu saja.

__ADS_1


"Boleh, tapi dengan satu syarat!" tegas Revan.


"Syarat? Syarat apa, Mas?"


"Aku ikut ke rumah orang tuamu!" pinta Revan.


Deg. Livia jelas kaget bukan main. Kenapa pula syaratnya harus seperti itu? Jelas-Jelas itu adalah hal yang tak mungkin. Karena keluarganya pernah memberi tahu, jika ibunya jangan diberi tahu tentang pernikahan Livia.


Dodi takut, jika keadaan Isma akan syok dan drop kembali, jika Isma tahu, kalau ia sembuh karena pengorbanan Livia yang menikah dengan Revan.


"Apa Mas? I-ikut ke rumah orang tuaku? T-tapi, t-tapi, Mas, i-itu tak mungkin," Livia menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa? Kenapa tak mungkin? Jika aku tak ikut, maka kau tak boleh pulang! Aku harus memastikan kau pulang, dan tidak bertemu dengan pria manapun!" sentak Revan.


"Mas …" Livia bukan keberatan karena ketakutan Revan, tapi Livia takut, jika Revan akan bertemu dengan ibunya.


Pasti akan banyak pertanyaan pada Revan. Ibunya pasti ingin tahu siapa Revan, dan inilah yang Livia takutkan. Kenapa pula Revan harus berkata ingin ikut dengannya? Ini sangat memusingkan sekali bagi Livia.


"Kau boleh pulang, dengan catatan aku yang akan mengantarmu, titik. Jika kau tak ingin aku ikut denganmu, maka kau tak diperbolehkan untuk pulang. Sekian, Livia!" penuturan Revan benar-benar membuat Livia bingung bukan main.


Ya Allah, bagaimana jika dia bertemu dengan Ibu nanti? Kasihan Ibu, jika ia tahu yang sebenarnya terjadi pada diriku … batin Livia, sembari menghela napas panjangnya.

__ADS_1


__ADS_2