
Beauties Salon n' Spa …
Salon mewah dan mahal ini menjadi tempat yang digunakan oleh Helma untuk mendandani Livia. Helma ingin Livia tampil cantik dan menggoda.
Mendengar kata Revan menyukai laki-laki, tentu saja hal itu tak bisa dibiarkan begitu saja. Helma benar-benar muak, dan tak terima. Ia emosi, hingga akhirnya mereka berdua sampailah di tempat ini.
Salon kepercayaan keluarga Sadewa, yang hasilnya selalu mengesankan dan tak pernah mengecewakan. Livia dipermak habis-habisan, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki tentunya.
"Mama, apakah ini tak terlalu berlebihan?"
"Tidak! Ini adalah jurus jitu untuk merayunya! Kau harus terlihat cantik, kau harus terlihat menawan dihadapannya! Setelah dari salon ini, kita akan pergi ke butik, kau juga harus memakai pakaian yang seksi dan mencolok! Revan harus jatuh cinta padamu! Revan harus kembali mencintai wanita! Kau tak boleh gagal, kau tak boleh membiarkan Revan semakin jatuh dalam kesesatan itu!" Helma begitu menekan Livia.
Livia tentu saja bingung bukan main. Bukankah sebuah penyakit g a y itu akan sulit disembuhkan? Livia saja tak yakin, jika ia bisa membuat Revan jatuh padanya.
__ADS_1
Dan kenyataannya, Helma malah mendesak Livia agar membuat Revan bisa tergoda padanya. Mana bisa? Hal ini tentu saja membuat Livia bingung sekaligus takut. Jika dirinya tidak berhasil membuat Revan jatuh cinta padanya, bagaimana? Apakah Livia akan dibuang dari keluarga ini, dan ia harus mengganti semua uang yang pernah dikeluarkan Helma?
"Aarrgghh, tidaaaaak!" teriak Livia tiba-tiba, saat ia sedang di manicure oleh pegawai salon.
"Astaga, Livia, kenapa kamu? Kenapa tiba-tiba kamu berteriak begitu? Jangan membuatku malu! Dasar norak kamu!" sentak Helma.
"Ya ampun, maaf, Ma, maaf … aku tidak fokus barusan, maaf sekali, Ma, maafkan aku,"
Berbeda dari Livia yang sebelumnya, yang terlihat seperti gadis kampung dan tidak paham mode. Kini, Livia sangat cantik, dengan rambut yang dicurly, dan diwarnai dengan sedikit warna terang.
Langkah selanjutnya, tinggal memilihkan beberapa pakaian yang cantik dan modis, untuk dikenakan oleh Livia. Setelah selesai dari salon, Livia dan Helma pun berangkat menuju butik tempat Helma dan Gita membeli baju-baju branded mereka.
Sekretaris Helma, Bima Nugraha, begitu kaget dan terkejut, melihat penampilan Livia saat ini. Livia benar-benar cantik dan berbeda dari sebelumnya. Bima sungguh tak menyangka, ternyata Livia bisa secantik ini jika dipoles lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Waduh, Nyonya, ini Nona Livia? Sungguh? Kenapa cantik sekali? Wah, ternyata jika didandani seperti ini, Nona Livia berbeda sekali! Tuan muda pasti akan semakin klepek-klepek kalau begini. Saya saja, sampai takjub melihatnya," Bima berdecak kagum pada kecantikan Livia saat ini.
"Kamu ini! Memang dasar ya mata keranjang! Gak bisa sedikit saja lihat cewek cantik, langsung deh nyambar itu mulut! Kita doakan saja, semoga Revan bisa tertarik pada Livia! Aku sudah membayar mahal wanita ini, masa aku tak mendapatkan hasil apapun," keluh Helma.
"Tentu saja, Nyonya. Saya akan berusaha mendoakan yang terbaik untuk Tuan muda. Dia pasti jatuh hati pada Nona, percayalah padaku. Tuan muda hanya gengsi saja, Nyonya. Waktu yang akan menjawab mereka nantinya. Tenang saja,"
"Kuharap begitu. Aku hanya ingin Revan kembali normal, dan dia tak digunjingkan orang-orang lagi. Aku sudah lelah dengan semua drama ini, aku ingin mengakhirinya."
"Iya, Nyonya, saya mengerti kekhawatiwan Anda. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Hal itu tidak baik untuk kesehatan Anda. Nyonya, kita akan ke maba sekarang?" Bima mengalihkan pembicaraan.
"Pergi ke butik langgananku! Segera!"
"Baik Nyonya, siap, laksanakan," Bima mengangguk-angguk, lalu melajukan mobilnya menuju tempat kedua yang diinginkan oleh Helma.
__ADS_1