CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 22. Penyanyi Dangdut


__ADS_3

Sesampainya di butik, Helma segera membelikan Livia baju-baju yang seksi dan cantik. Helma sengaja, membiarkan Livia memakai pakaian yang sedikit mencolok, agar mampu meraih perhatian Revan.


Helma akan berusaha sekeras mungkin, agar hasrat Revan pada wanita bisa kembali hidup. Helma hanya ingin, anaknya menjadi pria normal lagi seperti dahulu.


Mendapati keadaan Revan yang sekarang ini, begitu membuatnya pusing dan bingung bukan main. Helma takut, jika Revan salah arah, dan melakukan sesuatu hal yang benar-benar di luar dugaannya.


"Mama, apakah tidak salah, kenapa pakaiannya seperti ini?" Livia merasa tak suka, dengan beberapa baju yang dibelikan Helma untuknya.


"Tidak salah! Baju-Bajumu itu tidak ada yang bagus, Livia. Makanya kubelikan baju-baju ini, agar bisa kau perlihatkan di depan Revan." Helma melihat-lihat lagi baju seksi yang akan ia beli.


"Kenapa banyak sekali tank top dan pakaian you can see, Ma? Aku malu memakainya, aku tak biasa menggunakan pakaian seperti ini," Livia begitu keberatan.


"Kau pakai hanya dihadapan Revan! Jika akan keluar kamar, kenakanlah blazer panjang agar tidak membuat semua pelayan kaget. Pokoknya, hanya gunakan ini di depan Revan saja, mengerti? Ketika kau dan dia akan tertidur, pakailah, agar dia melihatmu dengan leluasa! Tubuhmu ini cantik sekali sekarang, apalagi jika kau sering merawat diri, luluran, spa, dan pergi perawatan ke dokter kecantikan, kulitmu pasti akan semakin mulus dan lembut! Kau ini sebenarnya cantik, kulitmu juga bersih, hanya saja kau kurang perawatan! Dasar tidak pernah merawat diri!" Pekik Helma.


"Karena aku sibuk mencari uang untuk ibuku, Ma. Aku juga membantu Ayah menyekolahkan adik. Mana ada waktu dan uang untuk merawat diri," balas Livia.

__ADS_1


"Ya, makanya kau harus bersyukur dipertemukan denganku! Yang akan merawatmu dan memberikan semua ini padamu! Untuk itu, kau harus bekerja keras, bagaimana caranya membuat anakku kembali normal lagi! Kau harus bisa membuatnya memiliki hasrat pada wanita lagi!" tukas Helma.


"Baik, Mama. Aku akan mengusahakannya, walau aku sendiri masih tak yakin, mampukah aku melakukannya,"


"Kau yakin! Kau harus yakin!"


"Iya, Mama, aku akan melakukan yang terbaik …"


Akhirnya, mereka pun kini telah selesai berbelanja, dan sudah kembali pulang ke rumah. Pakaian Livia kini begitu seksi, hanya saja ia menggunakan sebuah blazer, jadi tak terlihat mencolok di depan keluarga Sadewa.


Sesampainya di kamar, ia mengetuk pintu, lalu masuk ke dalam. Terlihat Revan sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya.


Begitu Livia masuk, Revan sama sekali tak menolehnya. Revan begitu sibuk dengan laptopnya, sehingga tak memedulikan kedatangan Livia.


Beberapa saat berlalu, Livia pun membuka blazer koreanya, dan nampaklah mini dress di atas lutut, yang ia kenakan, dengan potongan atas you can see.

__ADS_1


Warna mini dress itu mencolok perhatian Revan, sehingga Revan pun menatap Livia, dan terkaget-kaget, dengan penampilan Livia saat ini.


"Astaga, apa ini? Kau ini kenapa? Kenapa jadi seperti ini?" Revan berdiri, lalu mendekat kearah Livia.


"Mama yang melakukannya, Mas,"


"Hahahha, mamaku memang luar biasa. Kau akan manggung di mana? Kenapa kau terlihat seperti penyanyi dangdut, Livia? Kocak sekali! Astaga, parah, parah, kenapa ondel-ondel bisa masuk ke dalam kamarku," Revan tertawa puas, melihat perubahan Livia saat ini.


Namun Livia sadar betul, jika mulut dan hati Revan sepertinya tidak sinkron. Livia bisa melihat dari sorot matanya, yang sepertinya kagum dengan penampilannya, namun mulutnya enggan mengakui hal itu sama sekali.


"Tapi Mas, matamu sepertinya mengatakan kalau aku cantik! Benarkan?" Livia terkekeh.


"Hah? Apa? Kau gila! Mana ada seperti itu! Jangan ngarang! Kau tak ayal bak penyanyi dangdut di mataku! Hahahah," lagi-lagi Revan menyembunyikan ketakjubannya dengan sebuag tertawaan yang sama sekali tidak lucu.


"Kau gengsi ya?" batin Livia dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2