
Pagi ini, seperti biasa Revan akan memulai harinya untuk pergi ke kantor. Livia pun berinisiatif memasak dan membuatkan Revan sarapan untuk yang pertama kalinya.
Livia merasa bosan dan kesal berada di rumah mewah ini, karena ia terbiasa bekerja dan bersih-bersih setiap harinya. Kedua tangan dan kakinya tak bisa diam, tentu saja ia pun merasa jenuh ketika pagi ini semuanya sudah selesai dan rapi.
Karena itulah, pagi ini Livia memutuskan untuk memasak. Livia berharap, jika Revan mau memakan masakannya. Dia akan berusaha sebisa mungkin, untuk menjadi seorang istri, walaupun tak akan pernah dianggap oleh Revan.
“Bi, hari ini biar aku yang masak untuk Mas Revan, pekerjaanku sudah selesai, jadi aku ingin memasak saja,” tutur Livia pada Bi Sari.
“Tetapi, jika Tuan muda marah, bagaimana?"
"Tidak akan, aku akan berbicara padanya nanti,"
"Baiklah kalau begitu, bahan-bahan ada di kulkas, Nona bisa tanyakan padaku, apa saja yang kau butuhkan, jika Nona tak tahu di mana keberadaannya," tutur Bi Sari.
"Baik, Bi, terima kasih banyak,"
Livia pun mengambil bahan-bahan seadanya, sesuai dengan apa yang ingin ia masak. Livia akan memasak nasi goreng, omelette dan beberapa sandwich.
Hal itu Livia lakukan, agar Revan bisa memilih, menu sarapan apa yang akan ia inginkan nantinya.
Livia berusaha berdamai dengan keadaan, ia harus melayani Revan dan berusaha untuk menjadi istri yang baik. Bukan berarti Livia ingin dicintai Revan, namun memang sudah seharusnya Livia berbuat baik padanya.
Mengingat, jika Helma telah memberikan uang yang jumlahnya sangat besar untuk keluarga Livia. Setidaknya, Livia harus memiliki rasa tahu diri, untuk tinggal di rumah ini. Sekalipun, tak ada satupun orang yang menganggap keberadaan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Livia telah selesai memasak, dan membawa masakan itu menuju ke kamar Revan.
Revan rupanya sudah bangun, dan sedang berada di toilet. Perkiraan Livia, jika Revan kini memang tengah mandi, dan setelah mandi, Revan pasti akan mencari sarapan paginya.
Livia pun segera merapikan meja makan Revan, dan menyiapkan satu porsi sarapan untuk di makan oleh Revan.
Tak lupa juga, Livia telah menyiapkan kotak bekal makan, untuk dibawa oleh Revan ke kantornya. Memang seperti kekanak-kanakan, namun Livia mencoba untuk tetap melakukan tugasnya sebagai istri, yang mementingkan kondisi perut suaminya.
Harapannya sudah terlalu tinggi, padahal Livia masih belum tahu, respon apa yang akan Revan berikan, karena dirinya memasak dan menyiapkan sarapan sendiri untuk Revan.
"Mas Revan, silakan sarapan, menu makanmu sudah siap di meja," tutur Livia.
"Hmm," jawab Revan singkat.
__ADS_1
Dalam kamar ini, benar-benar sunyi. Bahkan, terkadang jarang sekali ada pembicaraan antara mereka berdua, sekalipun mereka telah sama-sama berada di dalam kamar.
Revan duduk di meja makan khusus milimnya, lalu ia memakan menu sarapan yang telah disiapkan. Revan merasa ada yang berbeda di lidahnya, rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kenapa dengan rasa masakan ini?" tanya Revan.
"Memangnya kenapa, Mas?"
"Apakah bukan Bi Sari yang memasaknya?" tebak Revan.
"Bukan, Mas. Sarapan kali ini, aku yang memasak untukmu, apakah rasanya aneh?"
"Uhuk, uhuk, hueks, hueks," Revan mengeluarkan apa yang telah ia kunyah.
"Loh, Mas Revan kenapa? Minum dulu, Mas." Livia menyerahkan segelas air putih untuk Revan.
"Kau yang memasak ini? Ha?" tanya Revan, setelah ia minum.
"Iya, Mas. Aku yang memasaknya. Memangnya kenapa? Apakah rasanya tidak enak?"
"Ya ampun, Mas, kenapa begitu? Maaf, jika masakanku tak berkenan untukmu!" Livia menundukkan kepalanya.
"Kau ini tak perlu menyiapakan apapun! Kau tak pantas memasakanku makanan! Aku tak mau memakan masakanmu. Siapa suruh kau jadi baik seperti ini padaku? Ada angin apa memangnya ha? Aku curiga, ada hal yang kau sembunyikan dariku, dan kau mengalihkannya dengan masakan ini! Benar kan?"
"Tidak, Mas! Aku hanya tak ada kegiatan lain pagi tadi, aku jadi berpikir, untuk membuatkanmu sarapan. Sungguh, aku hanya ingin memasak saja untukmu. Jika kau tak berkenan dengan masakanku, tak apa. Namun, jangan tuduh aku yang tidak-tidak. Aku murni memasak karena meluangkan waktu pagiku sebelum kau bangun, Mas, sungguh …"
Revan terdiam. Kenapa jadi seperti ini? Kenapa Revan selalu tak memiliki pikiran positif pada Livia? Selalu saja marah dan emosi, padahal Livia sudah berniat baik padanya, dan mencoba menjadi istri sebagaimana mestinya.
"Kau menghancurkan mood pagiku! Aku lebih baik berangkat kerja sekarang! Aku pergi!"
"Mas, tunggu,"
"Apa lagi?" Revan berbalik melihat Livia.
"Aku sudah bawakan kotak bekal ini untukmu. Sayang bukan jika tak dimakan? Jika kau tak suka, tak mengapa, Mas. Tetapi, bisakah kau berikan kotak bekal ini pada Sendi? Kurasa, aku membuatnya terlalu banyak, jadi sayang jika harus aku buang. Beberapa juga sudah aku bagikan pada asisten rumah tangga yang lain. Berikan saja untuk Sendi, apakah kau tidak keberatan?" tutur Revan.
"Apa? Bekal? Baiklah! Berikan padaku! Aku akan memberikannya pada Sendi. Kau, jangan paksa aku untuk mau memakan masakanmu, ya! Aku takut jika kau akan meracuniku, demi merebut hartaku!" tunjuk Revan.
__ADS_1
"Ya ampun, Mas. Aku membagi-bagikan masakanku pada semua asisten di rumah ini juga. Aku tak sejahat itu, kenapa kau selalu saja menuduhku yang tidak-tidak sih?" Livia sedikit kecewa, dengan apa yang dilontarkan oleh Revan.
"Ya, aku kan harus tetap waspada! Sudah, jangan bicara lagi! Kau menghabiskan waktu berhargaku! Aku harus segera pergi, daripada di sini terus denganmu!" Revan mengambil tas kerjanya, lalu turun dari kamarnya.
Revan tak menoleh lagi pada Livia. Entah mengapa, rasanya Revan selalu tak pernah bisa untuk berbuat baik sedikitpun pada Livia.
Selalu saja Revan kesal dan emosi pada gadis itu. Padahal, Livia tak pernah membuatnya kesal. Namun Revan terus saja menyudutkannya, dan menuduh Livia yang tidak-tidak.
"Selamat pagi, Tuan. Siang ini kita akan meeting dengan CEO dari Saturnus Grup. Dan nanti malam, kau ada acara makan malam bersama Ketua Dandi dari Wijaya Grup. Kita akan sibuk hari ini, semoga harimu indah, Tuan muda," sapa Sendi, begitu Revan keluar dari kamarnya.
"Aku tahu! Ayo berangkat!"
"Baik, Tuan," Sendi membungkukkan badannya.
Revan berjalan cepat menuju ke mobilnya, entah kenapa rasanya ingin segera berada di dalam mobil, karena akan ada hal yang ingin ia lakukan.
Sesampainya di mobil, Revan langsung membuka kotak bekal yang Livia berikan padanya, untuk Sendi. Revan tak habis pikir, kenapa tadi bisa-bisanya ia berkata yang tidak-tidak pada Livia?
Hati dan mulutnya selalu tak sejalan, ketika Revan bersama Livia. Aneh, memang aneh. Namun, ketika tak ada Livia, Revan baru sadar, akan semua itu.
"Apa itu Tuan? Kotak bekal? Tumben sekali? Apa Nona Livia yang menyiapkannya untukmu? Apa kau sudah mulai bisa menerima Nona Livia? Syukurlah jika seperti itu," Sendi tersenyum lembut.
"Sial! Siapa yang menerimanya? Tidak! Aku tak menerimanya sedikitpun! Aku hanya lapar, dan tadi aku tak bisa berkonsentrasi makan, karena jika dihadapannya, aku selalu kesal dan emosi! Lihatlah menu sarapan ini, kenapa terasa asing di lidahku?" tutur Revan.
"Ada apa dengan masakannya? Apakah kau suka, Tuan?"
"Ini enak! Sangat enak! Makanan rumahan yang baru pertama kali aku rasakan. Berbeda dengan masakan yang selalu dibuat chef kita! Ada sebuah perbedaan, yang entah kenapa malah membuat masakan gadis bodoh itu menjadi lain."
"Makan saja, Tuan, kau bisa menikmatinya selama dalam perjalanan kita menuju kantor," jawab Sendi lagi.
"Ya, aku pasti akan memakannya! Tadi pun aku ingin memakan lagi makanan ini, namun karena dihadapannya, aku harus menjaga harga diriku! Apalagi ketika aku tahu, jika dialah yang memasaknya!"
"Tuan muda, jika kau menyukai masakannya, kau seharusnya bisa menurunkan harga dirimu sedikit saja. Hal itu tak akan membuatmu terkesan murahan menurutku, kau hanya perlu belajar untuk menerima kebaikannya, karena kurasa, gadis itu adalah gadis yang baik, Tuan,"
"Cih! Mana ada seperti itu! Aku tak sudi berbaik hati padanya! Orang miskin seperti dia, dikasih hati nantinya bisa-bisa minta jantung, paru-paru, lambung, usus, dan sebagainya! Aku harus tetap menjunjung tinggi harga diriku, untuk tidak mudah jatuh dirayu oleh semua perlakuannya!" Revan bersikeras.
Sendi menghela napas panjangnya, dalam hati, ia berucap, "teruslah menjunjung tinggi harga dirimu, sampai nanti harga diri itu bobrok dan jatuh, karena sebuah rasa yang mengalir setiap harinya. Bersiaplah, Tuan muda, sejauh apa kau bisa mengandalkan egomu untuk terus menghadapinya …."
__ADS_1