CEO & Gadis Pelunas Hutang

CEO & Gadis Pelunas Hutang
Bab 29. Ada Yang Marah


__ADS_3

Revan dan Livia tengah menaiki motor kembali dan sepertinya mereka akan kembali pulang. Mereka berdua tak sadar, jika ternyata, ada yang mengikutinya dari belakang.


Seorang pria yang berada di luar kota, yang selama ini selalu menunggu kabar dari Livia. Pria yang begitu merindukannya, wallau diantara mereka belum ada ikatan pasti sedikitpun.


Namun rasa itu semakin berkecamuk, ketika disaat-saat yang tak pernah disangka, pria itu nelihat wanita yang selama ini dicarinya. Apalagi, wanita itu ternyata tengah bersama pria lain.


Niat hati akan datang ke rumah Livia lagi, rupanya dia mendapat jackpotnya kali ini. Akhirnya dia turut mengikuti ke mana Livia pergi, dengan tujuan, agar tak kehilangan jejaknya lagi.


Dia adalah Bayu, pria yang dulu menyatakan cinta pada Livia, dan mereka baru saja berpacaran selama satu bulan. Memang tak ada yang spesial, karena selama satu bulan itu, mereka hanya sibuk bekerja dan hanya sering berjumpa jika sudah selesai waktu bekerja.


Akan tetapi, tetap saja rasanya luka itu membekas, dan Bayu tak terima diperlakukan seperti itu oleh Livia. Setidaknya, Livia seharusnya bisa menemui Bayu terlebih dahulu, sebelum semuanya terlambat seperti ini.


"Pria itu kah yang menjadi suami dari Livia? Kelihatannya biasa saja! Hanya menggunakan motor sport seperti itu, kenapa Livia mau? Jika hanya dengan motor seperti itu saja, aku juga mampu menyicilnya ke dealer! Livia, hatiku sakit karena ulahmu! Kenapa kau tega melakukannya?" ucap Bayu dalam hati, sembari tetap melajukan motornya untuk mengikuti Livia dan Revan.


Revan melajukan motornya jadi sedikit pelan, dan tidak ngebut seperti awal saat mereka berangkat dari kediaman Revan. Livia heran, kenapa tiba-tiba Revan jadi lemas seperti ini? Apa yang terjadi sebenarnya?


"Mas Revan, kalau lelah, pinggirkan saja dulu motornya, kita berhenti dulu,"


"Aku lapar! Aku akan mencari restoran!"


"Oh, pantas saja kau memelankan motormu. Beda seperti saat kita berangkat tadi, kau seperti pembalap yang akan membunuhku,"

__ADS_1


"Habisnya aku tak disuguhi makan oleh keluargamu!" pekik Revan.


"Mas Revan pasti tak akan mau, makan makanan di rumahku. Karena itulah aku membiarkan ayah dan Lingga untuk tidak menyiapkan apa-apa untukmu,"


"Benar juga! Makanan di rumahmu pasti tidak hygenis seperti di rumahku!"


"Kan, apa kataku," 


"Ayo kita makan di restoran sebrang sana! Makan bebek goreng sepertinya pilihan yang nikmat, ditambah lagi sambal dan juga lalapannya. Sudah lama sekali aku tak makan makanan seperti itu! Ayo!”


“Ternyata kau juga suka makanan daerah ya? Kukira orang kaya tak pernah memakan makanan seperti itu,”


“Sok tahu sekali,kau. Jelas aku suka memakan sambal dan lalapan, namun aku tak mau memakannya. Aku harus makan seperti itu di restoran! Restorannya pun harus jelas. Harus ada lesehannya, agar aku betul-betul menikmati makanan yang akan aku makan nantinya!” 


Revan hanya mendelik kesal atas ucapan Livia. Rasanya Revan enggan berbicara lagi dengan Livia. Saat restoran itu mulai terlihat, Revan semakin mempercepat laju motornya, untuk memasuki kawasan restoran tersebut.


Revan dan Livia masih belum juga menyadari, jika mereka diikuti dari belakang oleh Bayu. Bayu sudah emosi, sejak awal ia coba tahan rasa kesal itu, kala melihat pria yang tengah membonceng Livia.


Saat motor itu belok ke arah restoran, Bayu pun refleks berbelok kearah restoran tersebut. Bayu kali ini harus menemui Livia, dan menanyakan semua isi hatinya pada Livia. Bayu juga ingin melihat reaksi Livia, bagaimana jadinya jika Livia melihat dirinya.


Beberapa saat berlalu, Bayu menantikan masa-masa mudahnya untuk bisa menemui Livia. Kali ini, sepertinya Livia akan ke toilet, dan Bayu akan mencegatnya, saat Livia keluar dari toilet.

__ADS_1


Bayu berjalan menuju pintu masuk toilet wanita. Beberapa menit kemudian, Livia keluar dari toilet, daan saat Livia keluar dari pintu depan toilet, tangannya ditarik oleh Bayu, dan dipaksa berlari menuju belakang restoran. 


Livia ingin menjerit, namun saat ia akan melakukan perlawanan diri, Livia begitu kaget bukan main, karena pria yang menariknya, adalah pria yang selama ini ia rindukan.


"Ya ampun, K-Kak, K-Kak Bayu, k-kau," tangan dan kaki Livia mulai lemas.


"Ke mana saja kau? Jadi ini, pemgkhianatan yang kau lakukan Livia?"


"Kak Bayu, Kak, aku bisa jelaskan," tangan Livia gemetar hebat, meski begitu, Bayu enggan melepaskan cengkeraman tangannya. Tangannya tetap memegang kuat tangan Livia.


"Semuanya sudah jelas. Aku lelah mendengar penjelasan, tega sekali kau Livia!"


"Kak, ini tak seperti yang kau bayangkan! Maafkan aku, Kak Bayu …"


Bayu tak kuasa menahan tangisnya. Hatinya benar-benar hancur dan terluka karena perbuatan Livia. Ingin rasanya Bayu memeluk Livia, namun Bayu kini sadar diri, jika Livia sudah menjadi istri orang.


"Kenapa kau mau menikah dengannya?"


Munculah sebuah pertanyaan menyakitkan bagi Livia. Ia sendiri bingung harus menjawab apa dan bagaimana.


Namun tiba-tiba …

__ADS_1


"Livia! Apa maksudnya ini, ha? Aku tunggu kau sejak tadi, rupanya kau malah asyik pegangan tangan bersama pria lain! Dasar wanita gatal! Lepaskan tangan itu!" Sentak Revan benar-benar emosi.


__ADS_2