
Deg!!
Dengan susah payah Nisa menelan ludahnya.
Adrian sudah berdiri dengan gagahnya diatas pavilium. Ia menyampaikan pidatonya dengan lugas, padat dan jelas.
"Untuk itu mari semua bersama-sama kita berkerja keras untuk meningkatkan MC Group untuk menjadi salah satu saham terbaik diNegara ini. Sekian dari saya."
Adrian mengakhiri pidatonya.
Tepuk tangan meriah dari para karyawan mengakhiri pidato Adrian. Adrian dan rombongannya keluar meninggalkan aula. Nisa masih diam mematung dikursi, ia mencoba mencerna semua apa yang ia lihat.
Sungguh suatu kebetulan, pertama Adrian dan Nisa bertemu secara tidak sengaja. Kemudian Ia kejutkan dengan fakta bahwa Adrian adalah kekasih Ririn dan sekarang mereka bertemu lagi sebagai atasan dan bawahan.
Karena penasaran dengan sosok Adrian, Diam-diam Nisa mencari informasi tentang atasannya itu. Nisa menbekap mulutnya tidak percaya setelah melihat informasi yang ia cari di mbak google. Ia menggurutui kebodohannya karena dari awal ia tidak mengenal sosok Adrian. Kalau ia tau lebih awal mungkin ia tak mau berurusan dengan namanya Adrian.
šDikantinš
Pikiran Nisa masih kemana-mana. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Ririn tapi ia tak berani. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu. Ia positif thingking, mungkin ada sesuatu yang tidak perlu ia ketahui.
Nisa mengibaskan tangannya untuk menghilangkan pikiran buruk dari otaknya.
"Kamu kenapa Nisa?"
"Ah tidak, tadi ada lalat yang lewat" ucapnya bohong.
"Oh". Ririn kembali menlanjutkan makannya.
"Rin..."
"Hmmmm.."
"Bolehkah aku bertanya sesuatu"
"Silahkan. Apa yang ingin kau tanya kan?
"Emmm itu, kenapa kamu tidak cerita kalau kekasihmu seorang CEO? Dan apakah kita diterima di MC Group karena bantuannya" tanya Nisa hati-hati, takut jangan sampai sahabatnya itu tersinggung.
Ririn berhenti mengunyah makanannya, meletakkan sendok kembali diatas piring. Diam sejenak, melihat ekspresi sahabatnya itu membuat Nisa sedikit mencuit.
"Ahh, tidak perlu dijawab kalau itu privasi" ujar Nisa.
Mungkin sudah saatnya aku berkata jujur pada Nisa, aku tidak mau terus membohonginya, jadi merasa bersalah. Ririn.
"Sebenarnya saya dan ka....." ujar Ririn tapi kalimatnya dipotong oleh suara seorang pria yang datang tiba-tiba.
"Permisi nona, anda diminta untuk keruangan CEO" ucapnya sopan.
Secara bersamaan Ririn dan Nisa mengangkat kepala.
Ririn melempar pandangannya kearah Nisa. Nisa mengangguk.
"Maaf ya Nis".
"Tidak apa-apa, pergilah jangan membuat pangeran menunggu terlalu lama" goda Nisa
"Husss, pangeran kepalamu" ucap Ririn kesal.
__ADS_1
Nisa terkekeh.
āDiruangan presiderā
Ririn masuk dan duduk disofa. Terlihat Adrian sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen.
"Kenapa kaka memanggilku" tanya Ririn.
"Apa kamu sudah makan siang?"
"Sudah, tapi baru tiga suap" ujar Ririn ketus
Adrian terkekeh mendengar jawaban adiknya itu. Ia menghentikan aktifitasnya berdiri dan berjalan menuju sofa.
Duduk disamping Ririn. "Makanlah disini, kaka sudah memesan beberapa makanan"
"Baiklah, tapi lain kali kakak tak perlu repot-repot. Aku tidak mau karyawan lain curiga"
"Mau sampai kapan kamu terus menutupi identitasmu?"
"Entalah kak, Ririn masih mau bebas"
Mengambil napas dalam "hufff, baiklah terserah kamu saja".
*****
Tak terasa sudah satu minggu Nisa berkerja perusahaan MC Group. Ia bekerja sangat rajin, ia selalu datang lebih awal dari pegawai yang lainnya.
Karena sering datang lebih awal membuat pak Maman dan pak Didi selaku security disana sudah sangat mengenal Nisa. Bahkan Nisa sering bercakap-cakap dengan mereka, tertawa dan bercanda bersama. Tak lupa juga ia sering membantu ibu Ida seorang clening service yang bertugas membersihkan taman.
"Selemat pagi pak Maman, Pak Didi" sapaa Nisa.
Nisa berjalan menuju taman, disana sudah ada ibu Ida yang sedang membersihkan taman, menyapu dan memangkas bunga-bunga.
"Selamat pagi ibu Ida"
"Selamat pagi nak Nisa"
Nisa mengambil ahli gunting pemangkas dan ia mulai memangkas bunga-bunga. Ibu Ida sering menolak bantuan Nisa tapi Nisa tetap membantu ibu Ida, baginya ibu Ida sudah seperti ibunya sendiri.
***
Saat makan siang dikantin, lagi-lagi orang suruhan Adrian datang memanggil Ririn.
"Pergilah" ujar Nisa. Ririn bangkit dari kursi berjalan meninggalkan Nisa.
Setelah mengetahui siapa sosok Adrian, Nisa lebih memilih diam dan tidak mau mencampuri urusan Ririn dan Adrian.
Ketika hendak mau melanjutkan makannya, Nisa tak sengaja mendengar beberapa gadis dikantin sedang bergosip yang tidak baik tentang sahabatnya.
"Sepertinya gadis itu memiliki hubungan spesial dengan presider" ucap salah satu dari mereka.
"Sepertinya begitu, karena waktu itu aku pernah melihatnya keluar dari ruang presider" sambung yang lain.
"Cih, dasar gadis mur*han"
"Kelihatan polos, tau-tau gadis penggoda"
__ADS_1
Nisa sangat geram mendengar sahabatnya itu dikatai sebagai gadis mur*han dan penggoda. Berteman selama empat tahun membuat ia yakin bawah Ririn bukan gadis seperti itu. Nisa bangkit dari duduknya dan menghampiri ketiga wanita yang sedang bergosip tadi.
Berdiri didepan mereka dan berdecak pinggang "Hei nona, kalian benar-benar sangat keterlaluan. Belum tentu apa yang kalian ucapkan itu benar adanya. Kalau tidak tau apa-apa jangan suka bergosip yang tidak benar". Ucap Nisa kesal
"Siapa dirimu? Jangan suka ikut campur dengan urusan orang lain"
"Cik, aku sahabatnya. Aku tau betul sikap sahabatku dan dari penampilan saja kita sudah bisa menilai siapa disini yang gadis mura*han dan penggoda." ujar Nisa dan memandang sinis kearah tiga orang gadis didepannya. Yang menurutnya mereka menggunakan pakaian seperti kekurangan bahan
"Kau!!! Jaga ucapanmu" ujar salah satu dari mereka. Dan tanpa basa basi ia mendorong Nisa hingga membuatnya tersungkar dilantai.
Nisa tak terima baik, ia bangkit dan membalas mendorong gadis tersebut. Maka terjadi pertengkaran antara Nisa dan ketiga cewe-cewe rompong itu. Saling menjambak rambut dan mencakar. Sungguh sangat merepotkan. Bagi Nisa ia lebih memilih berkelahi dengan pria dari pada harus bertengkar dengan sesama wanita.
Beberapa orang disana mencoba melerai mereka tapi nihil mereka tak mampu. Emosi Nisa kian memuncak ingin rasanya ia menelan hidup-hidup ketiga gadis tersebut. Kevin datang untuk menghentikan mereka tapi justru ia mendapat tamparan. Entalah siapa yang menamparnya.
Diruangan presider
"Mami, ngapaian mami kesini?" Tanya Ririn.
"Apa tidak boleh mami datang untuk mengunjungi anak-anak mami?"
"Boleh kok mami sayang" ucap Ririn manja.
"Apa kalian sudah makan siang? Ini mami bawah makanan kesukaan kalian".
Ibu Sinta meletakkan satu persatu tupper ware diatas meja.
"Wah, kelihatannya enak" Ririn sudah tidak sabar dengan segera ia menyantap makanan tersebut tapi tangannya dipukul oleh ibu Sinta.
"Aaauh, sakit mami".
"Kebiasaan buruk, sebelum makan itu cuci tangan dulu" ujar ibu Sinta. Dengan wajah cemberut Ririn bangkit dari kursi menuju wastafel.
Adrian masih sibuk memeriksa tumpukan dokumen.
"Makan dulu nak, nanti baru lanjutin kerjanya" ucap ibu Sinta kepada Adrian.
"Iyah mami" Adrian bangkit dari kursi. Mereka pun makan bersama.
Tok...tok....
Kevin masuk dengan napas ngos-ngosan.
"Maaf mengganggu boss"
"Ada apa? Dan kenapa wajahmu merah seperti itu"
"Ini aku kena tampar" ujar Kevin memegang pipinya.
Adrian mengankat alisnya. "Ditampar? Memangnya apa yang terjadi?"
"Itu, dikantin terjadi keributan boss, saya sendiri tak mampu melerainya. Sebaiknya anda sendirinya yang turun tangan".
Adrian sangat geram, siapa yang sudah berani membuat keributan dikantornya. Ia pun bangkit dari duduknya berjalan menuju kantin dan diikuti Kevin dari belakang.
Dikantin terlihat kerumuan karyawan sedang menyaksikan duel sengit satu lawan tiga. Dengan bekal ilmu diri yang Nisa miliki tidak sulit untuknya melumpuhkan ketiga wanita tersebut.
"Hentikan" teriak Adrian.
__ADS_1
Seketika semua mata melirik kearah sumber suara. Semua menundukkan kepala dan memberi jalan kepada orang nomor satu dikantor itu.