
Ceklek
Adrian masuk didalam ruangannya. Tiara yang dari tadi menunggu kedatangan Adrian langsung menghampiri Adrian.
"Kak Adrian," Kata Tiara dengan suara yang sengaja dibuat seksi.
"Hmmmm," Jawab Adrian singkat.
Adrian melangkah menuju kursi kebesaraannya tanpa peduli dengan Tiara. Tiara sangat kesal, Adrian selalu bersikap dingin dengannya. Tiara tidak putus asa ia mengeluarkan segala jurus seribu bayangannya. Ia melangkah menuju meja kerja Adrian.
"Bagaimana keadaanmu kak Adrian?" Tanya Tiara.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." Ucap Adrian dingin.
"Syukurlah, aku sangat khawatir saat mendengar kabar bawah kak Adrian mengalami kecelakaan."
Adrian sengaja menutupi kejadian saat dirinya di serang oleh orang yang tak dikenal. Dan menyampaikan ke publik bahwa dirinya mengalami kecelakaan.
"Maaf, waktu itu aku tidak menjenguk kak Adrian, karena aku ada pemotretan di Negara xx." Ucap Tiara dengan memasang wajah yang sendu.
"Tak perlu minta maaf, dan lagian aku tidak kenapa-kenapa kan.? Ucap Adrian datar. "Kalau tidak ada keperluan lain silahkan keluar kerana aku sangat sibuk."
Adrian dan Tiara tak memiliki hubungan spesial. Mereka sering bertemu di acara-acara jamuan dan kebetulan ibu Adrian dan Ibu Tiara merupakan teman arisan. Kedekatan orang tua mereka menjadi peluang Tiara untuk mendekati Adrian.
Tiara begitu kesal karena Adrian mengusirnya. Ia pun keluar dan menutup pintu dengan kasar. Setelah kepergian Tiara, Adrian menyuruh Nisa masuk di ruangannya. Dan tak lama kemudian di susul Kevin
Disofa ruangan presider Adrian, Kevin dan Nisa sedang duduk disana membahas tentang kontrak kerja.
"Kevin." Panggil Adrian.
Kevin sudah mengerti maksud Adrian, ia membuka tas yang ia bawah tadi dan mengambil map berwarna coklat dari dalam sana.
"Ini boss." Kevin menyerahkan map itu kepada Adrian. Adrian mengambil map tersebut dari tangan Kevin yang duduk disampingnya.
"Ini, " Adrian melempar map itu di atas meja. "Silahkan dibaca, itu adalah kontrak kerja yang harus kamu tanda tangani.
Nisa mengambil map tersebut, membuka dan membaca satu persatu poin-poin pernyataan di surat perjanjian bermaterai itu. Lengkap sekali. Isi dari point-point tersebut antara lain, Nisa harus merahasiakan setiap masalah pribadi dan masalah perusahaan, tidak mencurangi masalah keuangan hingga menjaga kerhomatan dan norma kesopanaan selama bekerja di perusahaan. Dan di akhir kalimat. Pelanggaran berakibat pembayaran denda 10x gaji. Jadi kalau Nisa membuat pelanggaran maka ia akan di denda 350 juta.
Deg!
Nisa menelan salivanya setelah melihat angka 350 juta.
"Setuju dengan syarat yang aku berikan." Adrian melihat Nisa sambil memajukan badan nya dan mengetuk-ngetuk pena mahalnya dimeja.
"Saya setuju tuan." Ucap Nisa sedikit gugup.
__ADS_1
"Kamu sudah bisa kerja hari ini." Ucap Adrian.
"Terima kasih tuan."
"Nanti assisten Kevin yang memberi tahu kamu apa saja tugasmu dan mengajarimu semuanya."
"Baik tuan,"
"Pergilah ke mejamu dan mulailah bekerja." Ucap Adrian.
Nisa mengangguk dan memutar badannya kemudian pergi meninggalkan ruangan Adrian. Kini tiba ia dimeja kerjanya. Nisa membersihkan meja menglap dan menaruh beberapa barang-barangnya.
Sekitar pukul 9.00 Kevin datang di meja Nisa dengan tangannya memegang kardus yang terlihat didalamnya ada beberapa tumpukan berkas.
"Hei, cantik kita bertemu lagi." Ucap Kevin mencoba menggoda Nisa. Suara Kevin mengagetkan Nisa, ia bangkit dari duduknya.
"Selamat pagi pak." Ucap Nisa sembari membungkukkan badan.
"Pagi cantik." Kevin menaruh kardus yang ia pegang tadi di atas meja kerja Nisa.
"Ini adalah dokumen-dokumen yang harus kamu pelajari." Lanjutnya.
Mata Nisa membelalak ketika melihat begitu banyak berkas yang harus ia pelajari, ia menelan salivanya beberapa kali. Kevin mengambil kursi dan duduk di sampingnya.
"Ok, mari kita mulai." Kevin mengeluarkan satu persatu dokumen-dokumen itu dan menjelaskan secara terperinci manfaat dan kegunaan setiap dokumen-dokumen. Nisa hanya mendengarkan, mengangguk jika ia mengerti dan bertanya jika ada sesuatu yang tidak ia pahami.
*****
Adrian keluar dari ruangannya.
"Kau ikut aku." Ujar Adrian. Nisa menatap Adrian sebentar, setelah itu pandangannya kembali pada berkas-berkas yang menumpuk di hadapannya.
"Apa telingamu bermasalah.?"
"Tidak tuan. Memangnya kita mau kemana, tuan?" Tanya Nisa
"Bertemu klien."
"Kenapa aku? Bukannya anda akan pergi bersama pak Kevin.? Ujar Nisa masih fokus pada berkas-berkas didepannya.
Aku sangat sibuk, apa kamu tidak bisa lihat itu tuan. Nisa
Adrian menatap Nisa tidak percaya. Kenapa Nisa yang akan memutuskan bukannya dia boss nya disini.
"Kau sekarang sekretarisku jadi kau yang akan menemaniku setiap bertemu klien."
__ADS_1
Nisa menghela napas kasar. "Baik tuan." Nisa pasrah. Hari ini ia menemani Adrian bertemu dengan klien walau pekerjaannya juga belum selesai.
Meeting dan makan siang berjalan dengan lancar ini semua berkat Nisa yang cakap. Klien Adrian malah tertarik berbicara dengan Nisa dibandingkan dengan dirinya. Adrian akui Nisa patut diberi dua jempol hampir semua kerja sama dibicarakan kepada Nisa. Adrian sampai bingun siapa boss sebenarnya. Dirinya atau kah Nisa.? Setelah bertemu klien Adrian dan Nisa kembali kekantor.
🍃Kantor🍃
Adrian terlihat sibuk di ruangan kerjanya dengan tumpukan berkas yang harus ia tanda tangani ataupun direvisi. Sepertinya hari ini mereka akan lembur.
Pukul 17.00
"Kamu boleh pulang." Ucap Adrian kepada Nisa yang baru saja mengantarkan beberapa berkas.
"Tapi tuan...," Ujar Nisa ragu-ragu.
"Ada apa..?"
"Hmmm, pekerjaan masih banyak dan besok akan ada rapat direksi saya ingin membantu anda akan lebih cepat kita mengerjakaan bertiga." Ucap Nisa sambil melihat Kevin.
Kevin tersenyum seringai tanda setujuh dengan ucapan Nisa.
"Baiklah," Adrian juga setuju.
Mereka mengerjakan semuanya didalam ruangan Adrian. Kevin yang sudah lama menjadi assisten pribadi CEO terlihat cekatan dan lihai mengerjakaan semuanya. Adrian juga terlihat fokus melihat layar komputer didepannya. Sedangkan Nisa mendapatkan pekerjaan mengcopy dan menyusun beberapa berkas.
Adrian melirik alrloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kevin." Panggil Adrian
"Yah boss."
"Beli makanan buat kita." Perintah Adrian sambil mengeluarkan dompet dan memberikan kartu kepada Kevin.
Kevin langsung mengambil kartu dan pergi meninggalkan Adrian dan Nisa.
Sesekali Adrian melihat Nisa. Nisa terlihat sibuk menyusun dokumen, dia yang duduk didepan Adrian, tanpa ia sadari Adrian terus menatapnya.
"Istrahat dulu." Ucap Adrian membuat Nisa kaget.
"Ah, tidak perluh tuan. Sedikit lagi selesai." Jawab Nisa sambil tangannya sibuk menyusun beberapa berkas.
Dengan cepat Adrian memegang kertas yang ada di tangan Nisa. Nisa kaget melihat Adrian yang hampir saja menyentuh tangan nya. Sesaat mereka saling bertatapan.
Nisa tersadar, ia langsung menurunkan pandangannya dan melepas kertas yang di pegangnya. Seperti kehilangan akal Adrian terus menatap Nisa yang salah tingkah, ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, ia terus menikmati wajah cantik sekretaris barunya itu.
Nisa merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Adrian tersadar dengan segera ia memalingkan pandanganya, kembali melihat layar kompeter di depannya.