Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
Bab 23


__ADS_3

Mereka pun makan bersama, bercerita dan bercanda walau terlihat sedikit canggung. Dengan susah payah Nisa menelan makanannya. Walau pun makanan yang didepannya terlihat menggugah selerah tapi bagi Nisa rasanya hambar tak ada rasa karena harus makan bersama dengan boss dingin muka tembok.


Tante Sinta dan Ririn sangat baik, tapi kenapa berbeda dengan pria yang satu ini. Sungguh sifat mereka sangat bertolak belakang. Nisa


Setelah makan siang Ririn dan Nisa pamit kembali keruangan mereka.


"Nisa...," panggil Ririn dengan nada penuh bersalah.


"Yah, ada apa Rin,?"


"Ma-af akan aku Nisa, aku sungguh tidak ada niat untuk membohongimu." Menunduk, "Aku akan jelaskan se..." tiba-tiba jari telunjuk Nisa sudah mendarat dibibir Ririn.


"Huusss, jelasinnya nanti saja yah, ini masih dikantor. Jangan bawah-bawah masalah pribadi saat bekerja." Tersenyum lembut


"Kamu tidak marah sama aku kan,?" tanyan Ririn


Nisa menggeleng kepala "Untuk apa aku marah sama sahabatku sata-satunya,"


Ririn sangat bahagia, ia pun memeluk Nisa sangat erat.


🍁🍁🍁


Setelah kejadian tersebut, Ririn kembali bekerja seperti biasanya tapi sudah dengan kondisi yang berbeda. Setelah mengetahui dirinya adalah anak kedua dari keluarga Malik, karyawan lain sangat perlakukan dirinya begitu istimewa. Sebenarnya Ririn sedikit risih dan tidak nyaman diperlakukan secara khusus.


Sedangkan Nisa tetap bekerja seperti biasanya tapi ia harus menjalani hukuman yang Adrian berikan padanya.


Hukuman yang diberikan Adrian padanya adalah setiap pagi ia harus menyiapkan teh tanpa gula untuk Adrian dan menyiapkan makan siangnya apabila ia makan dikantor. Terlihat cukup mudah tapi sangat sulit dijalani.


Ping (notifikasi pesan masuk)


Boss gila (Adrian): Hari ini saya makan dikantor, siapkan makan siang seperti biasa.


Nisa: Baik tuan.


Huff menarik napas dalam. Bangkit dari kursinya.


"Nisa kau mau kemana,?" Tanya Ririn.


"Seperti biasa," jawabnya lesu.


"Maaf yah, gara-gara aku, kamu dapat hukuman dari kak Adrian," lirihnya.


Memegan tangan Nisa "Aku akan bicara pada kak Adrian agar ia tak menghukumu lagi,"

__ADS_1


"Tak perlu, aku tidak apa-apa kok, dan berhentilah menyalahkan dirimu."


"Tapi.....," ucap Ririn.


Nisa hanya mengangguk diikuti kedipan mata dan senyum tipis dibibirnya.


Dengan segera ia bergegas menuju restoran langganan Adrian. 15 menit kemudian Nisa tiba dilobby kantor berlari terpogoh-pogoh dengan kedua tangannya memegang dua katong plastik berisi makanan.


🍃ruangan presider🍃


Tok.... tok...


"Masuk"


Ceklek


"Selamat siang tuan, ini pesanan yang anda minta." Ucap Nisa dengan napas yang masih terengah-engah.


"Hmmmmm..," jawab Adrian singkat


Seperti biasa Nisa langsung menghidangkan makanan yang ia bawa tadi diatas meja. Adrian bangkit dari kursi kebesarannnya dan berjalan menuju sofa. Sedangkan Nisa masih berdiri tempatnya, ia menemani Adrian makan setelah itu baru ia kembali bekerja. Yah, bisa dibilang seperti pelayan yang menunggu tuannya makan.


Sungguh sangat menyebalkan bukan? Nisa lebih memilih memundurkan diri dari pada harus melanyani Adrian seperti sekarang ini tapi, ia tak punya pilihan lain. Ia masih membutuhkan banyak uang untuk biaya sekolah adiknya dan ia harus melunasi hutang nya pada Adrian.


Adrian menikmati makanannya sambil memainkan handpane mahalnya itu


Dua suap.....


Tuan muda kenapa makanmu lelet sekali kaya siput sih, apa aku harus menyuapimu juga? Aku lapar, aku juga butuh makan untuk mengembalikan tenagaku. Nisa


Cacing-cacing diperut Nisa terus berteriak. Tak henti-hentinya ia menggerutui Adrian. Ingin rasanya ia menabok kepala Adrian dan lemparnya dari gedung 20 lantai ini.


Adrian terus manyantap makanannya dengan santai seperti orang tak berdosa. Sedangkan diruangan yang sama Nisa benar-benar kelaparan. Nisa menelan salivanya beberapa kali. Membanyangkan betapa enaknya makanan yang sedang Adrian makan itu.


"Jangan menatapku terus, aku tau diriku ini tampan. Kau bukan tipe idealku jadi, jangan simpan perasaan apapun padaku karena, aku sungguh tidak tertarik padamu." Ucap Adrian penuh percaya diri


Huff, percaya diri sekali. Mana mungkin aku tertarik dan menyimpan perasaan pada pria sombong, arogan, playboy seperti anda tuan. Amit-amit cabang bayi. Batin Nisa


Nisa berdecak kesal "Cik, sepertinya anda salah paham tuan, saya tidak sedang memandangmu, atau tertarik padamu. Saya lebih tertarik pada makanan yang sedang anda makan. Kelihatannya sangat enak dan saya berniat untuk membelinya nanti." Jelas Nisa santai.


Adrian menghentikan makannya, mendongakan kepala melihat kearah Nisa.


"Apakah kau ingin makan bersamaku? Kalau kau mau, aku akan membagi makananku denganmu." Tersenyum licik

__ADS_1


"Tidak tuan, terimakasih atas tawarannya." Tersenyum kecut.


Tiba-tiba datang seorang gadis cantik, berpenampilan seksi. Menggunakan rok mini diatas lutut dan dipadukan dengan atasan baju tanpa lengan tak lupa ia memakai high heels berwana gold. Berjalan lenggak lenggok bak model.


"Kak Adrian." Ucapnya manja.


Duduk disamping Adrian dan bergelayut manja dilengannya. Adrian mengerutkan keningnya.


"Sedang apa kau disini, Tiara.?"


"Aku merindukanmu," menyandarkan kepalanya dilengan Adrian .


"Apa kau sudah makan? Kalau belum makan, makanlah bersamaku disini." Tutur Adrian dan dibalas anggukan oleh Tiara.


Mereka pun makan bersama dengan mesranya. Sesekali Tiara menyuapi Adrian.


Nisa memutar matanya malas melihat tingkah laku dua sijoli yang sedang kasmaraan itu. Ia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini. Lama-lama disini membuat ia ingin muntah saja.


"Maaf tuan, saya harus pergi." Tutur Nisa.


"Tidak, kau tetap disini." Sergah Adrian.


Nisa sangat kesal. Perutnya sudah keroncongan ditambah matanya harus menyaksikan kemesraan Adrian dan Tiara. kesabarannya benar-benar sudah habis.


"Maaf tuan yang terhormat, bukan maksudku lancang tapi mataku dan telingaku masih sangat suci untuk melihat secara langsung pasangan kekasih yang sedang bermesraan didepanku. Maka dari itu saya pamit dan silahkan lanjutkan bermesraan kalian." Nisa memutar tubuhnya dan tersenyum sinis.


Kau pikir aku ini gadis yang lemah, dan dengan seenaknya kau memerintahku sesuka hatimu? Hah, kalau salah tuan. Nisa


Adrian cukup terkejut dengan apa yang Nisa katakan, Nisa cukup berani mengatai ia secara langsung didepannya. Ia mengepalkan tangannya. Mukanya memerah karena emosi. Nisa adalah gadis keras kepala dan dengan beraninya ia telah menantang perintahnya.


Gadis keras kepala. Sepertinya aku terlalu baik denganmu. Berani-beraninya kau menantangku.


Dan bicara tidak sopan. Lihatnya saja aku akan melipat gandakan hukumanmu. Adrian


***


Jam pulang kerja, Ririn pulang bersama Adrian. Didalam perjalanan Ririn mencoba bicara baik-baik dengan kakaknya itu agar ia tak memberi Nisa hukuman tapi, Adrian tetap bersih kukuh dengan keputusannya.


Adrian mengantar Ririn sampai dimansion. Setelah itu mobilnya melaju membelah jalan yang ramai menuju apartemennya.


Masuk dilobby menuju lift.


Ting (lift terbuka)

__ADS_1


Adrian menekan passward apartemannya dan ketika masuk ia dikejutkan dengan sosok gadis yang sedang duduk disofa.


Tifani..!!


__ADS_2