Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
40


__ADS_3

"Adrian," pak Gunawan menajamkan suaranya, hingga menusuk kegendang telinga siapa pun yang mendengarnya.


"Papi......," Adrian terkesiap saat melihat keberadaan papinya disana, bukan hanya papinya saja, tapi mami dan adikknya juga.


"Astaga kak Adrian, apa yang kau lakukan." Ririn seketika menutup mulutnya yang menganga, ini benar-benar diluar dugaannya.


🍃Ruang Tamu🍃


Adrian sudah mengenangkan baju kaos polos berwarna putih, duduk disamping Nisa, sementara ibu Sinta, pak Gunawan dan Ririn duduk diseberang meja berhadapan dengan mereka. Suasana tegang, Adrian dan Nisa seperti sedang berada diruang persidangan. Tatapan tajam dari ibu Sinta, papi Gunawan dan Ririn membuat Nisa bergidik ngeri.


Acara pagi ini gagal total. Kevin kembali ke kantor, para pengawal masih tetap siap siaga diluar apartemen sementara para, assisten rumah tangga kembali ke masion.


Ada Beberapa wajah kehidupan yang bisa dilihat diruangan ini. Raut wajah penuh rona malu milik Nisa, bagaimana tidak ia tertangkap basa menginap dirumah laki-laki yang bukan muhrimnya.


Yah, walau mereka tak melakukan hal-hal yang aneh. Sementara disisi lain, disamping gadis yang hampir mati karena menahan malu, duduk pria tampan dengan tatapan dingin. Adrian terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apa-apa. Toh, memang tidak terjadi apa-apa diantara mereka. Sementara ayah, ibu dan adikkya menetap mereka penuh selidik.


Suasana tegang. Nisa terus menunduk meremas ujung bajunya sampai terlihat kusut. Untuk mengangkat kepalanya saja ia sangat malu, apalagi membuka suara, menjelaskan bahwa semua ini tidak seperti yang mereka lihat.


Berbeda dengan Nisa, Adrian terlihat begitu santai kaya vantai.


Ibu Sinta menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya dipunggung kursi, ia memejam mata dan memijat pangkal hidungnya, sedangkan pak Gunawan duduk tepat disamping istrinya, mereka terlihat sedang berdiskusi kecil, tak ada suara hanya gerakan-gerakan bibir yang bisa dilihat, Ririn yang duduk hanya terpisahkan satu kursi dari orang tuanya pun tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


Ada interval sekitar lima menit akhirnya mereka telah selesai berdiskusi. Sepertinya mereka telah mengambil suatu keputusan penting, itu terlihat dari raut wajah pak Gunawan dan ibu Sinta yang begitu serius.


"Apa ini? Jelaskan kepada papi kenapa kau bisa bersama dengan wanita didalam apartemen." Teriak pak Gunawan,

__ADS_1


"Sudah lah pah," Mami Sinta mencoba menenangkan suaminya.


Sementara Nisa, gadis itu benar-benar bingun dan ketakutan, akan apa yang terjadi saat ini.


"Adrian, papi dan mami sudah putuskan bahwa kalian harus segera menikah." Ujar pak Gunawan dengan wajah serius.


"Apa!!!!" Seru Nisa dan Ririn bersamaan. Nisa sangat terpukul, matanya melotot tidak percaya. Berbeda dengan Nisa, pria disampingnya ini, nampak tak ada ekspresi kaget sedikit pun, yang terukir wajah tampannya. Ririn juga tak kalah terkejut.


"Tid-ak. Tan-te, tuan anda sudah salah paham. Saya dan tuan muda tidak memiliki hubungan apa-apa " Nisa mencoba menjelaskan.


"Keputusan tante dan om sudah bulat, nak. Kalian sudah tinggal satu rumah, tidak baik wanita dan pria tinggal satu atap tanpa adanya ikatan pernikahan." Pak Gunawan berbicara tegas diikuti tatapan tajam.


"Mau taruh dimana muka mami dan papi, nak. Hiks....hiks...." terisak pelan. "kalau sampai rekan bisnis papimu dan media tahu, bahwa anak dari keluarga Malik melakukan kumpul keboh. Mami sangat malu." Sambung ibu Sinta sembari terisak.


Melihat ibu Sinta menangis, Nisa merasa sangat bersalah, gadis itu menyalahkan dirinya. Seharusnya ia tidak ceroboh menerima tawaran Adrian, untuk menginap disini, ia sudah mendatangkan masalah kepada keluarga Malik.


Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan, hiks... Nisa menangis dalam hati.


Apa yang di katakan pak Gunawan, ada benarnya tapi mereka sudah salah paham. Dirinya dan Adrian tidak tinggal satu atap, ini pertama kalinya ia menginap di apartemen bossnya, itu pun karena terpaksa, pasalnya daerah kosannya tergenang banjir.


Nisa sangat kesal dengan Adrian pasalnya pria itu terlihat santai. Setidaknya jelaskan kepada kedua orang tuamu agar mereka tidak salah paham, dan pernikahan konyol ini tidak terjadi, pikir Nisa.


Karena sangat geram Nisa menginjak kaki Adrian.


"Aaawww.." Adrian meringis kesakitan. Ia menatap kearah Nisa dengan raut wajah kesal, kedua manik itu kembali beradu tatap. Adrian paham dengan tatapan gadis itu, tatapan seolah-olah ingin mencabik-cabik dirinya. Dengan segera pria itu mengalihkan pandangannya kearah ayah dan ibunya.

__ADS_1


"Ehem. Papi, mami. Kami tidak ....." Adrian menggantung kalimatnya, tatapan pria itu berahli ke Nisa, menatap lekat pujaan hatinya.


"Kami tidak tinggal bersama pah, semalam hujan dan tempat tinggal Nisa tergenang banjir, jadi aku membawahnya ke apartemenku," ujar Adrian mencoba menjelaskan.


Mendengar penjelasan Adrian, Nisa menghembuskan napas lega, gadis itu bahkan melakukan gerakan mengelus dadanya.


"Kenapa kau membawa Nisa keapartemenmu, nak? Kenapa kamu tidak membawahnya dimansion.? Mamih tidak masalah kalau kau membawah Nisa kerumah."Perkataan ibunya membuat Adrian diam, apa yang dikatakan ibunya itu benar adanya. Tapi ia tidak berpikir sampai disitu.


"Dan kita mana tahu apa saja yang kau lakukan dengan Nisa didalam apartemen." Seru ibu Sinta yang terus menyudutkan Adrian.


"Mam, Adrian tidak melakukan apapun dengan Nisa. Mamih tidak percaya dengan Adrian.?" Serunya namun masih bicara dengan nada sopan.


"Semua orang akan percaya dengan apa yang mereka lihat, bukan apa yang mereka dengar."


"Mam, aku tidak melakukan apapun terhadap Nisa, aku bersumpah." Adrian membantah.


"Sekarang papi mengerti, itu sebabnya kamu tidak mau menikah karna kau mau meniru gaya hidup teman-temanmu yang bebas yang hanya bersenang-senang dengan wanita, begitu?"


"Pa!" Adrian meninggikan suaranya, merasa keberatan akan dituduhan yang dilayangkan papinya.


Adrian nampak menghembuskan napas dalam, menjelaskan kepada orang tuanya hanya membuang-buang tenaga saja.


"Baiklah, aku akan menikah." Seru Adrian tegas.


Deg!

__ADS_1


__ADS_2