Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
Bab 36


__ADS_3

Hallo kakak readers sekalian maaf yaπŸ™ author terlambat update karena sibuk dengan dunia nyata. Terimakasi kepada kakak-kakak yang telah mendukung author 😊


☘☘☘☘☘☘☘


Nisa masih membatu di ambang pintu, tidak berani melangkah masuk didalam apartemen. Ini pertama kalinya ia masuk diruangan yang begitu mewah.


"Apa kau akan berdiri disitu sampai pagi?"


"Aah, tidak"


Nisa merasa takjub dengan dekorasi ruangan itu. Begitu luas dengan barang-barang mewah yang tertata rapi.


Disinilah Nisa sekarang diapartemen mewah, besar dilantai paling atas gedung yang hanya orang-orang tertentu yang bisa tinggal disana.


"Kau tunggu disini."


"Baik tuan."


Adrian mengayuhkan langkah gontai menaiki tangga lantai dua, beberapa menit kemudian ia kembali dan menghampiri Nisa.


"Ini," Adrian menyodorkan sesuatu kepada Nisa.


Nisa mengerutkan keningnya. "Apa ini?"


"Baju untuk kau pakai. Tidak mungkin kau tidur dengan baju yang sudah kau pakai seharian."


"Ah, iya terima kasih tuan." Nisa mengambil pakaian itu dari tangan Adrian.


"Disini kamarmu. Masuk dan istirahatlah."


"Baik tuan." Nisa membungkuk.


Nisa melangkah masuk kedalam kamar, sedangkan Adrian kembali ke kamarnya yang berada dilantai dua. Dipandanginya kamar yang luas nan mewah itu dengan fasilitas lengkap. Sangat jauh dari kamar kosannya. Sedikit sedih, betapa bersyukurnya orang terlahir dari orang kaya. Tidak merasakan sakit ataupun jatuh bangun kehidupan seperti yang dialami olehnya.


Nisa merebahkan tubuhnya di atas kasur king size yang empuk dan lembut. Haah, benar-benar nyaman. Rasanya ia enggang untuk bangkit.


"Haaaah, nyaman nya." Ucapnya sambil merentangkan kedua tangan dikasur. "Ah, aku mandi dulu, biar segar." Ia bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi, memegang handle pintu mendorong dan masuk kedalam.


Nisa begitu takjub melihat kamar mandi yang begitu mewah, biasanya iya hanya lihat di film-film. Sesekali mulutnya membentuk huruf o, kamar mandi ini bahkan lebih luas dari kamar kosnya.


"Benda ini biasanya digunakan untuk berendam, tapi bagaimana cara pakainya." Guman Nisa sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingun bagai mana cara menggunakan bath tub, secara ia belum pernah mandi dikamar mandi mewah. Tidak mungkin kan ia meminta tolong pada Adrian.


Ahah, muncul ide diotaknya. Ia mengambil ponselnya dan meminta bantuan pada om google, ia mengikuti setiap petunjuk yang diberikan om google, tidak butuh waktu lama ia langsung paham. Zaman serba canggih, semua yang tidak kita ketahui dari hal kecil sampai hal besar, bisa kita cari diaplikasi yang ada diponsel.


Setelah mengisi air kedalam bath tub, mengatur kehangatan suhunya. Setelah rasa cukup ia bangkit menanggalkan seluruh pakaiannya. Hampir satu jam berlalu. Nisa keluar dari kamar mandi.


"Aaaaaaaaah, segarnya." Nisa melangkah menuju kasur disana ada pakaian yang Adrian berikan padanya.


Ia mengambil pakaian itu, membolak-balik dan memperhatikan secara detail pakaian yang Adrian berikan padanya.

__ADS_1


Baju kaos polos berwarna navi dan celana trainin panjang hitam. Nampak kebesaran ditubuhnya, tapi ini lebih baik dari pada dirinya tidak mengenangkan apa-apa.


Setelah berganti pakaian Nisa merebahkan tubuhnya dikasur, beberapa kali ia menguap, perlahan-lahan matanya mulai sayup. Sebelum ia terlelap tenggorokannya terasa kering, dengan malas ia bangun dan menyeret kakinya keluar kamar.


Ia celingukan mencari keberadaan dapur, melewati beberapa ruangan. Nisa tersenyum lega ketika matanya menangkap ruangan yang ia cari-cari dari tadi.


"Ah akhirnya ketemu." Gumannya. Mengayuhkan langkah gontai menuju dapur apartemen. Ruangan besar itu terkesan redup padahal ada lampu yang terpasang dibeberapa sudut.


Klek, ia membuka kulkas dan mengambil botol air minum, membalikkan badan.


"Aaaaaaahhh," Nisa berteriak, saking kagetnya botol air mineral yang ada ditangannya terlepas dan jatuh dilantai.


"Ka-u! Se-dang apa kau disini.?" Ucapnya terbata-bata. Mendapati Adrian yang sudah berada dibelakangnya yang kebetulan ia juga mau mengambil air minum.


Adrian mengangkat sebelah alisnya. "Ini rumahku, jadi terserah aku berada dimana saja." Ucapnya, sembari melangkah menuju saklar dan menyalakan lampu. Setelah ruangan itu terang Nisa segerah mengambil botol yang jatuh dilantai tadi.


Pfff, hampir saja tawa Adrian lepas, melihat ekspresi lucu Nisa ditambah ia mengenangkan baju dan celana miliknya yang terlihat begitu kebesaran di tubuh Nisa.


"Kau sangat cocok mengenangkan pakaian seperti ini, kau terlihat seperti badut." Ucap Adrian tertawa kecil.


"Cih, yah, yah aku seperti badut dan kau pangerannya disini." Gumannya kesal karena Adrian selalu menghinanya


"Tapi saya menyukainya sangat nyaman kulit. Apa boleh saya membawanya pulang?."


"Cik, bawa saja kalau kau suka."


"Hmmmm, tapi ini kelihatannya sangat mahal."


"Tentu saja, baju yang kau pakai harganya mencapai 13 juta." Ucap Adrian sombong. Baju kaos yang dipakai Nisa adalah merek D&G. Merek ini disebut sebagai salah satu merek termahal. Kaos ini jauh lebih stylish dan dibuat dengan cetakkan unik yang terkenal karena teksturnya yang lembut dan nyaman di kulit.


Mata Nisa terbelalak, mulutnya mengangah. Bagaimana tidak harga satu kaos bisa membeli satu unit motor metic. Yah walaupun hanya motor bekas.


"Astaga, harga kaos ini 13 juta? Yang benar saja. Dipasar malam harga kaos ini sekitar 50 ribu rupiah, itu pun belum ditawar, jika ditawar mungkin akan lebih murah lagi harganya." Nisa menggelengkan kepala tidak percaya.


Adrian tersenyum tipis mendengar celoteh Nisa yang membandingkan harga kaos branded dengan kaos kw yang dijual bebas dipasar-pasar tradisional. Ia yang dari kalangan atas menganggap 13 juta belum lah seberapa.


Nisa menyeret kakinya menuju meja makan, menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Adrian. Membuka tutup botol air mineral dan meneguknya perlahan-lahan.


Satu teguk


Dua teguk


Tiga teguk


Adrian tidak menyia-nyiakan pemandangan indah yang ada hadapannya. Ia terus menatap setiap lekuk wajah Nisa. Ia baru menyadari betapa cantiknya gadis yang berada didepanya sekarang ini. Walau tanpa polesan make up tapi tidak membuat kecantikannya luntur.


Menggunakan kaos longgar berlengan pendak membuat kulit putih dan mulus Nisa berkilauan dibawah sinar lampu. Selama ini Nisa tidak pernah menggunakan pakaian terbuka saat berpergian. Ia selalu menggunakan pakaian sopan dan tertutup.


Jantung Adrian berdegub kencang. Beberapa kali ia menelan salivanya. Benar-benar menggoda. Ia segera membuang pandangannya ke segala arah.

__ADS_1


"Ehem, " Adrian beranjak dari duduknya. "Istirahatlah, ini sudah larut malam." Ucap Adrian kemudian melangkah meninggalkan Nisa yang masih duduk di meja makan.


"Tunggu tuan." Nisa berlari kecil menuju Adrian.


"Ada apa?"


"Anu itu, dikamar.....?" Ucapnya ragu-ragu.


Adrian mengangkat sebelah alisnya. "Dikamar?? Tunggu.... tunggu jangan bilang kalau kau ingin tidur bersamaku?"


"Yaaaah..... siapa juga yang ingin tidur bersama mu. Dasar menyebalkan." Ucap Nisa sedikit menaikkan volume suaranya.


"Lalu??"


"Itu dikamar, suhu ruangannya sangat dingin. Saya tidak tahu cara membuat suhu ruangannya menjadi normal." Ucap Nisa menunduk merasa malu, pasti sekarang Adrian akan meledek dirinya. Ia tidak terbiasa tidur dengan suhu dingin.


"Dasar kampungan, begitu saja tidak tau." Ucap Adrian menggelengkan kepala.


"Cih, memang saya dari kampung." Ucapnya cemberut.


Dikamar, Adrian mengambil remote AC dan menjelaskan kepada Nisa bagaimana cara pakaia nya. Nisa hanya mengangguk.


"Apa kau sudah paham?"


"Iya," jawabnya mengangguk.


Adrian segera keluar dari kamar Nisa. Berlama-lama disana akan membuat hasratnya sebagai pria normal akan bangkit.


Hufff, menghela napas panjang, "apa kau sedang mengujiku.??" Gumannya sambil mengelus dada.


Terik matahari mulai bersinar terang cahayanya seakan mengintip kearah kamar mewah itu. Sinar bias cahaya matahari itu menembus dinding kaca jendela, memantulkan sinarnya dengan gagah menerangi setiap sudut kamar.


Nisa bergerak kecil dari posisi tidurnya yang miring diatas ranjang king size yang terletak megah ditengah kamar mewah tersebut. Tubuhnya yang tampak mungil berbalut dengan untaian selimut menutupi tubuh.


Ting nong


Ting nong


Beberapa kali bel apartemen berbunyi.


"Hemmmm," matanya mulai mengerjap dan menarik tubuhnya merenggangkan otot-otot kakunya. Membuka mata perlahan menetap ruangan mewah itu.


Ting nong


Bel kembali berbunyi.


"Iyah, iyah" Nisa beranjak dari tidurnya. "Siapa si, pagi-pagi begini sudah bertamu." Gerutunya. Nisa berjalan sempoyongan menuju ruang tamu, penampilannya masih acak-acakan. Belum mencuci muka, rambut panjangnya belum dirapikan, masih berantakan khas orang baru bangun tidur. Melangkah perlahan, sesekali ia menguap.


Memegan handle pintu menarik dan membuka pintu.

__ADS_1


"Su........" ucap mereka terputus setelah mengetahui siapa yang membuka kan pintu. Mereka sangat terkejut begitu pun dengan Nisa matanya melotot hampir jatuh setelah mengetahui siapa yang datang.


__ADS_2