Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
38


__ADS_3

Hallo semua......, maaf karena author terlambat up, kedepannya author usahakan untuk bisa up setiap hari. Terima kasih udah mampir kekaryaku😘


Selamat membaca


Sebelumnya............


🍂 Mansion🍂


Waktu menunjukan pukul 8.30 pagi. Dikamar yang luas dan mewah terlihat seorang gadis cantik sedang bermalas-malasan, rebahan sepanjang hari tidak beranjak dari kasur padahal matanya sudah terbuka dengan lebar. Tak ada semangat sedikit pun yang terlihat di wajah cantiknya, ia lebih memilih meringkuk, melipat tubuhnya di atas rajang dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.


Sejak Nisa tak lagi bekerja dikantor, ia juga tidak pernah masuk kantor. Siapa yang berani memarahinya? Anak sultan mah bebas. Sudah dua hari, ia terus menghubungi Nisa tapi sahabatnya itu tak pernah menerima panggilannya bahkan chatnya saja tidak dibalas. Ririn sangat khawatir, sebenarnya apa yang terjadi pada sahabatnya itu?


Dua hari ini Nisa sangat sibuk. Setelah ia dipecat oleh Adrian Nisa berusaha keras untuk mencari pekerjaan baru, ia masuk keluar dari satu perusahaan keperusahaan lain, dan mengikuti berbagai wawancara sampai ia tidak sempat untuk membalas pesan dari sahabatnya.


Sebenarnya Nisa juga ingin menghubungi Ririn, tapi ia merasa tidak enak hati jika sahabatnya itu, mengetahui kondisinya saat ini. Pasalnya Ririn sudah banyak membantunya, ia tidak mau merepotkan Ririn lagi.


Hari ini, setelah ia kembali bekerja diperusahaan MC Group sebagai sekretaris Adrian, Nisa berencana menghubungi Ririn dan memberikan surprise kepadanya.


Tapi sepertinya ia harus menunda untuk memberi kejutan kepada Ririn, pasalnya pekerjaannya yang begitu menumpuk ditambah ia harus menemani Adrian meeting diluar dan lembur kerja.


******


Pikirannya benar-benar kacau, huff.... mau menemui Nisa di tempat tinggalnya tapi alamat rumah Nisa saja ia tidak tahu. Persahabatan seperti apa ini? Alamat sahabatnya saja, tidak ia ketahui.


Beberapa kali Ririn merengek untuk mengantar Nisa dikosannya tapi Nisa selalu menolak dengan alasan tidak mau merepotkan Ririn, karena Ririn terlalu banyak membantunya.

__ADS_1


Tok... tok


Suara pintu kamar diketuk beberapa kali oleh mami Sinta.


"Sayang, apa kau akan terus bermalas-malasan didalam kamar?" Suara ibu Sinta dari luar, beberapa kali ia mengetuk pintu tapi Ririn tak kunjung membukakan pintu.


"Sayang, jangan membuat papimu marah. Bersiap-siaplah dan turun untuk sarapan. Papi dan mami menunggumu dimeja makan." Ibu Sinta berlalu pergi dari kamar Ririn dan kembali kemeja makan.


Ririn menghembuskan napas kasar, maminya selalu membawa-bawa papinya sebagai senjata untuk mengancam dirinya. Ia beranjak dari ranjang, masuk kekamar mandi, sikat gigi dan membasuh wajah setelah itu ia keluar menuju ruang makan.


"Selamat pagi mami, papi." Sapa Ririn kepada kedua orang tuanya.


"Pagi, nak." Jawab papi Gunawan.


"Pagi, sayang."


"Apa hari ini kamu tidak kekantor, nak?" Tanya papi Gunawan sembari tangannya sibuk mengoles selai diatas roti tawar.


"Tidak papi."


"Kenapa sayang, apa kamu ada masalah?" Mami Sinta menatap lekat wajah anaknya.


Ririn menggeleng kepala, "tidak ada. Ririn hanya malas saja kekantor, mami."


"Yah, sudah. Terserah kamu saja sayang." Papi Gunawan dan mami Sinta tak pernah memaksa Ririn. Mereka selalu mengikuti kemauan anaknya selama itu dalam batas wajar.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan pagi, Ririn kembali lagi kekamarnya sedangkan mami dan papinya keluar menghadiri beberapa acara yang diselenggarakan oleh kerabat bisnis mereka, walaupun tanggung jawab perusahaan sudah diserahkan pada Adrian tapi, papi Gunawan masih dihargai sebagai orang yang paling berpengaruh di kota B.


******


Pukul 17.00, papi Gunawan dan mami Sinta telah kembali kemansion, mereka sekarang sedang duduk santai ditaman yang berada disamping mansion. Beberapa menit kemudian Ririn datang dengan membawah nampan berisi beberapa cemilan dan minuman. Mereka bercerita dan sesekali tertawa, sungguh keluarga yang harmonis.


"Bagaimana dengan rencana sebentar malam, Rin.?"


"Beres mi, serahkan saja padaku." Jawab Ririn, sambil tersenyum sumringan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Apa kamu sudah menghubungi kak Kevin,?"


"Iyah mam, sesuai rencana hari ini kak Adrian lembur."


"Wah, bagus dong berarti kita masih memiliki waktu untuk menyiapkan segalanya." Mami Sinta terlihat antusias,


Ririn mengangguk, "iya mam, dan pasti rencana kita akan berjalan dengan lancar, aku tidak sabar melihat ekspresi kak Adrian." Senyum kepuasan mengembang diwajah cantiknya.


Papi Gunawan hanya menggeleng kepala mendengar obrolan istri dan anaknya, ia tidak mengambil bagaian dalam obrolan tersebut, ia sibuk membaca koran sambil menikmati secangkir kopi hangat.


Ririn dan maminya bercakap-cakap cukup lama, banyak sekali pembahasan yang mereka bahas, dari pembahasan yang faedah sampai nonfaedah. Diselah-selah obrolan mereka sesekali mereka berdua tertawa bersama.


Saking asyiknya mengobrol tanpa sadar langit jingga sudah berubah mulai menghitam, sepertinya akan turun hujan. Mereka pun memutuskan untuk menghentikan obrolan mereka dan masuk kemansion.


Langit semakin gelap, dedaunan dari pohon besar yang berderet di sepanjang jalan didepan mansion bukan lagi bergoyang, tetapi sudah berjatuhan tertiup angin.

__ADS_1


Ketika musim hujan datang rasanya selalu sama, dingin dan lembab, nampaknyaa hari ini rintik hujan akan bertahan lama, terbukti sejak sore tadi rintiknya belum juga berkurang, justru semakin deras.


Malam ini Sepertinya cuaca kurang bersahabat. Langit begitu gelap tanpa bintang berkilau diatas sana. Kilatan cahaya diatas sana semakin rapat, bahkan sesekali terdengar suara gemuruh petir. Hujan turun begitu deras membahasi bumi.


__ADS_2