
"Baiklah, aku akan menikah" seru Adrian tegas.
Senyum kemenangan mengembang diwajah kedua orang tuanya.
Nisa tidak terima dengan keputusan Adrian.
"Tapi....." ia mencoba untuk luruskan kesalah pahaman yang terjadi, namun belum sempat menyelesaikan ucapannya, Adrian sudah memotong kalimatnya.
"Sudahlah, aku salah. Maka dari itu biarkan aku tanggung jawab." Ujar Adrian pasrah. Rasanya ia lelah jika bicara terlalu banyak, mau menjelaskan rasanya juga percuma.
Nisa mengerutkan keningnya, ia tidak paham dengan kata 'tanggung jawab' yang Adrian lontarkan.
Memangnya kau menghamili ku, sampai kau mau bertanggung jawab. Batin Nisa. Gadis itu sangat kesal dengan keputusan Adrian. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Nisa hanya diam, mengepal tangannya menatap kesal kearah Adrian. Lalu menundukkan kepalanya, saat ia mengalihkan pandangannya kearah ibu Sinta, ibu Sinta juga menatapnya dengan tatapan hangat. Hati Nisa menjadi lemah, gadis itu sangat lemah bila berurusan dengan namanya orang tua, apa lagi seorang ibu.
"Adrian, sebentar malam ajaklah Nisa untuk makan malam bersama dimansion." Ujar ibu Sinta lembut.
Adrian mengangguk. "Iyah mam."
*********
Setelah persidangan panjang, yang menguras otak, kini Adrian dan Nisa kembali dikantor. Setibanya dikantor Adrian langsung keruangan meeting.
Meeting berlangsung selama dua jam. Selesai meeting, Adrian kembali keruangannya, sementara Nisa, gadis itu berencana menemui Ririn. Ada sesuatu yang ingin ia jelaskan. Sebelumnya ia sudah bertukar pesan dengan sahabatnya, ia mengajak Ririn untuk makan siang bersama, awalnya Ririn menolak. Tapi Nisa tidak putus asa ia terus mengirim pesan bahkan menelpon sahabatnya beberapa kali.
🍂Direstoran🍂
Jam makan siang......
Nisa dan Ririn duduk dimeja paling pojok diruangan yang terlihat ramai itu, Nisa sengaja memilih meja paling sudut, agar ia bisa leluasa, tanpa ada yang mengganggu atau mendengar percakapan mereka.
Nisa memandang sahabatnya yang tepat duduk didepannya. Ririn menyilangkan kedua tangannya didepan dada, duduk tegak dengan tatapan setajam silet.
"Kau sangat jahat Nisa, apa kau sudah tidak mau berteman denganku lagi." Seru Ririn dengan raut wajah kesal. Terlihat serius seakan begitu kecewa dengan wanita yang kini duduk dihadapannya.
"Ti-tidak, Rin. Siapa yang tidak mau berteman denganmu. Aku justru sangat merindukanmu."
"Bohong! Kau pembohong.
__ADS_1
"Aku tidak berbohong......" Nisa membantah sambil menggeleng pelan kepalanya.
"Kau berbohong dan masih saja mengelak! Dua hari ini kamu kemana saja? Aku terus menghubungimu tapi kamu mengabaikan panggilanku, bahkan pesanku saja kau tidak balas." Seru Ririn.
"Kau pikir aku tidak tau? Kamu sudah kembali bekerja, bahkan kak Adrian mengangkatmu sebagai sekretarisnya. Apa karena sibuk pacaran sampai kau melupakan sahabatmu? Seru Ririn. Nisa seketika membungķam.
"Tidak. Kamu sudah salah paham, Rin. Aku mohon dengar dulu penjelasanku." Ujar Nisa sedikit memohon, Ririn hanya mengangguk .
Ririn merubah posisi duduknya menjadi lebih tegap, ia tak lagi menyilangkan tangannya, kini menaruh tangannya diatas pangkuannya.
Nisa mengambil napas dan menghembuskannya pelan. Ia menjelaskan semuanya pada Ririn, dari dirinya dipecat sampai ia di panggil kembali bekerja sebagai sekretaris, Adrian. Tapi ia juga tidak mengetahui alasan mengapa Adrian secara tiba-tiba memintanya untuk menjadi sekretarisnya. Kalau mau diukur dari segi pengalaman dan kemampuan, Nisa kalah jauh.
Tak lupa ia juga menjelaskan tentang kejadian diapartemen. Ririn hanya dengarkan, sesekali mulutnya hanya ber 'oh' ria.
"Rin, apa kau mau membantuku.? Aku mohon bantu aku, untuk membatalkan pernikahan ini, Kamu tau sendiri kan, kalau aku dan boss tidak memiliki hubungan apa-apa." Kata Nisa dengan ekspresi menghibah.
Maafkan aku Nisa, kalau untuk itu aku tidak bisa membantumu. Ibuku tidak akan melepaskan kamu begitu saja, dan sepertinya kak Adrian juga mencintaimu. Kalau tidak ada perasaan pasti kak Adrian tidak akan menerima pernikahan ini. Batin Ririn.
"Maafkan aku, Nisa. Untuk masalah itu, aku tidak bisa membantumu."
Nisa melemas, ia menghembuskan napas dalam.
"Aku...." suara ponsel menghentikan ucapan Nisa
"Siapa yang menelpon." Tanya Ririn
"Ah, bukan siapa-siapa" jawabnya gelagapan. Nisa mengulas paksa senyumannya.
🍃dikantor🍃
"Aish, berani sekali kau mengabaikan telponku." Gusarnya geram.
Adrian kembali menghubungi Nisa, tapi nomor gadis itu, suda tidak aktif. Adrian melempar ponselnya kasar, diatas meja.
"Ada apa? Apa kekasihmu tidak menjawab telponmu" tanya Kevin yang tiba-tiba sudah berada didepan meja kerja Adrian.
"Hei! Kalau mau masuk ketuk pintu dulu, dasar tidak sopan."
"Aku sudah mengetuk pintu, boss saja yang tidak mendengarnya." Kevin mencoba membela diri.
__ADS_1
"Dasar asissten tidak berguna." Gerutunya kesal. "Pesankan aku makan."
"Kenapa harus aku? Biasanya Nisa yang selalu menyiapkan makan untukmu. Apa boss sedang marahan denganya? Ucap Kevin yang sengaja menggoda Adrian.
"Kau!" Adrian geram. Melihat ekspresi Adrian, Kevin langsung berlalu pergi, keluar dari ruangan bossnya, sebelum ia kena amukan Adrian.
****
Setelah makan siang bersama Ririn, Nisa kembali kekantor dengan diantar oleh Ririn menggunakan mobilnya. Gadis itu baru saja, mendudukkan bokongnya dikursi kerjanya, tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
"Keruanganku sekarang" perintah Adrian yang langsung memutuskan sambungan telpon. Nisa membuang napasnya kasar, ia beranjak dari duduknya dan masuk keruangan Adrian.
"Ada apa tuan memanggilku." Kata Nisa datar.
Adrian menghentikan aktifitasnya, ia mendongak kepala melihat kearah Nisa.
"Dari mana saja kamu.?" Tanya Adrian dengan tatapan tajam.
"Bukan urusanmu." Jawab Nisa ketus.
"Tentu saja ini urusanku. Sekarang kamu calon istriku, jadi kemana pun kamu pergi kau harus memberi tahuku." Ucap Adrian tegas.
Mendengar perkataan Adrian, gadis itu memutar bola matanya jengah. Dia benar-benar sakit kepala dengan situasi sekarang ini. Ia memikirkan cara agar pernikahan ini tidak terjadi. Ingin rasanya ia melarikan diri. Pergi sejauh-jauhnya.
"Kalau tidak ada hal yang penting, saya permisi keluar, tuan." Nisa membungkuk, memutar tubuhnya. Tapi langkahnya terhenti karena Adrian mencengkram lengannya.
"Siapa yang menyuruhmu keluar." Cengkraman Adrian semakin erat.
"Lepaskan tuan, kau menyakitiku." Seru Nisa.
Adrian mencengkram lengan Nisa kuat. Nisa melepas cengkraman tangan Adrian dan melintir tangan Adrian sampai ia meringis kesakitan.
"Tuan, aku tidak ingin menyakitimu." Nisa melepaskan pelintiran tangan Adrian.
Adrian memegangi tangannya yang sedikit sakit.
Bagaimana dia bisa sekuat ini?
"Apa yang kau makan,? Batu?" Tanya Adrian yang masih heran kenapa tenaga Nisa begitu kuat.
__ADS_1
"Semua itu bukan tentang apa yang kau makan saja, tuan. Tapi harus menggunakan trik. Tuan harus belajar dari ahlinya." Ujar Nisa yang kemudian berlalu keluar dari ruangan atasannya itu.
Aku baru tahu kau segalak itu, pantas saja aku bisa tergila-gila padamu. Batin Adrian