
Tifani..!
"Sedang kau diapartemenku,?" Tanya Adrian.
"Aku..... aku merindukanmu Rian." Bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Adrian.
"Stop, jangan mendekat! Cepat pergi dari sini sebelum aku berbuat kasar padamu." Bentak Adrian
"Sebenci itu kah dirimu padaku, Adrian?" Mata Tifani mulai berkaca-kaca.
"Tidak bisakah kau memaafkan ku dan kita mulai semua dari awal." Lanjutnya.
"Tidak, tidak ada maaf untuk seorang penghianat sepertimu." Sergah Adrian.
"Kau? Apa sekarang kau menyesal, Tifani? Sudah ku bilang jangan menyesal dan meminta maaf karena itu sudah sangat terlambat. Luka dihatiku sudah kering dan membekas." Menekan dadanya sendiri dengan kuat. "Aku tidak akan pernah kembali padamu." Lanjutnya.
"Iyah, Aku sungguh menyesal, aku mohon beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Rian." Tifani merai pergelangan tangan Adrian.
Postur tubuh Adrian yang tinggi membuatnya harus menundukkan kepala untuk melihat bola bening berwarna hitam milik Tifani. Begitupun dengan Tifani ia sampai mendongakkan kepala untuk menetap Adrian.
Dua manik itu kembali beradu tatap. Tapi dengan tatapan yany berbeda. Tifani menatap penuh penyesalan. Sedang Adrian menatap penuh kebencian.
"Tapi sayang, tidak ada lagi ruang untukmu dihatiku jadi, pergilah dari kehidupanku." Menepis tangannya Tifani.
"Kau bohong Rian, kau masih mencintaiku. Buktinya password apartemenmu masih menggunakan tanggal lahirku."
"Itu, karena aku tidak memiliki waktu untuk mengubahnya. Aku akan mengubahnya nanti jadi, segeralah angkat kaki dari sini." Titah Adrian.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang tapi, akan ku pastikan. Aku kan merebut kembali hatimu." Ucap Tifani dan berjalan keluar meninggalkan Adrian.
Adrian diam tak bergeming, menatap nanar punggung Tifani yang berangsur-angsur menghilang dibalik pintu.
Aarrggg!!. Adrian berteriak histeris, membanting semua barang-barang yang ada ruangan itu. Ia mengusap wajahnya kasar dan mengacak-acak rambutnya. Adrian tersungkur. Duduk sembari menyandarkan tubuhnya ditembok.
Flashback on
Singkat cerita tentang Adrian dan Tifani.
__ADS_1
Tinafi adalah cinta pertama Adrian. Mereka kuliah di universitas yang sama. Beberapa bulan berkenalan akhirnya mereka memutuskan untuk menjaling hubungan.
Menjaling kasih selama tiga tahun membuat Adrian yakin untuk segera melamar kekasihnya itu setelah mereka lulus kuliah. Adrian bekerja keras membantu ayahnya diperusahaan. Untuk membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa ia mampu dan siap untuk Nikah mudah.
Kerja keras Adrian tidak sia-sia, terbukti selama dua tahun perusahan berkembang sangat pesat. Ketika hatinya sudah mantap untuk melamar Tifani tapi sayang takdir berkata lain. Adrian harus menelan pil pahit atas penghianatan Tifani.
Ia sendiri yang menangkap basah kekasihnya itu sedang bermesraan dengan seorang pria bule dikamar hotel.
Flashback off
☘Perusahaan☘
Seperti biasa, pagi-pagi Nisa sudah sibuk dipantry menyiapkan teh untuk bossnya. Berjalan menuju ruangan presider dengan membawa mampan. Ketika hendak mengetuk pintu Nisa mendengar Adrian sedang memarahi seseorang. Suaranya begitu keras sehinggga Nisa diluar pun bisa mendengarnya.
Nisa berdiri didepan pintu. Ia tak berani untuk masuk. Mondar-mandiri sekitar 5 menit. Akhirnya dengan ragu-ragu ia mengetuk pintu. Tapi belum sempat diketuk.
Ceklec (pintu dibuka dari dalam)
Dua orang pria sekitar umur 40-an keluar dari ruangan. Sepertinya mereka baru saja kena amukan kemarahan Adrian. Itu terlihat jelas diwajah mereka, sangat pucat seperti tak ada darah. Pria yang bertubuh gembul sesekali menyeka keringat didahinya.
Nisa berdiri disamping pintu menunduk kepala sebagai tanda hormatnya, biarpun bagaimana kedua pria itu merupakan kepala bagian departemen.
Adrian duduk disofa. Memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa. Belum kering luka yang digoreskan Tifani lima tahun yang lalu . Dan kini ia datang menggores kembali luka itu.
"Se_lamat pagi tuan, ini tehnya," ucap Nisa terbata-bata.
Suara Nisa menyadarkan Adrian dari lamunannya. Ia membuka mata dan melihat kearah Nisa. Muka dingin dan tatapan tajam membuat Nisa menelan salivanya bebebrapa kali. Keringat dingin mulai bercucuran didahinya. Tangannya mulai dingin dan gemetar. Baru kali ini ia merasakan hawa mematikan ketika berada didekat Adrian, biasanya ia tak pernah se takut ini ketika berhadapan dengan Adrian.
Adrian mengambil cangkir yang berisih teh dan meminumnya. Belum pun satu tegukkan Adrian kembali meletakkan cangkir diatas meja dengan kasar.
"Kenapa kau memberi ku teh yang sudah dingin. Apa kau ingin membuat perutku sakit?" Bentak Adrian.
Nisa mengangah, perasaan teh nya masih panas.
"Kenapa diam saja, cepat ganti tehnya."
"Baik tuan." Nisa memutar tubuhnya dan Dengan langkah seribu ia melangkah menuju pintu.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Apa penyakit jiwanya kambuh? Atau stok obatnya habis? Dasar orang aneh masih sepagi ini tapi sudah marah-marah." Gerutu Nisa.
Nisa kembali kepantri dan membuat teh. Tapi lagi-lagi Adrian menyuruhnya untuk mengganti dengan teh yang baru. Ini sudah yang kedelapan kalinya Nisa membuatkan teh untuk Adrian, tapi Adrian terus menolak dan tak mau meminum teh buatan Nisa.
Nisa tetap sabar menghadapi sikap Adrian. Membantahnya sama saja membawah dirinya dalam bahaya. Ia tak mau kehilangan pekerjaan yang ia impi-impikan selama ini.
*****
Diklub malam yang cukup terkenal dikota B. Tampak Adrian sedang duduk sendirian diruangan VIP. Botol-botol kosong bergeletak diatas meja. Ia memejamkan matanya seolah-olah sedang tertidur di tengah hinggah binggar musik yang bergema. Sejak kepergian Tifani lima tahun yang lalu Adrian tak pernah membuka hatinya kepada wanita lain.
Tak berapa lama pintu ruangan itu pun terbuka. Dan ternyata Kevin yang datang. Kevin tahu Adrian sedang frutasi karena kedatangan Tifani. Selema ini Kevin selalu menjaga Adrian karena sebagai pewaris utama Malik Copration Group. Banyak sekali orang yang menginginkan kehancuran Adrian.
Didalam dunia bisnis musuh terbesar adalah orang yang berpura-pura dekat dengan kita. Karna itu Kevinlah yang berusaha menangani semua masalah disaat Adrian sedang terpuruk seperti saat ini.
Kevin duduk disamping Adrian dan merampas botol minuman yang ada ditangang Adrian.
"Sudah cukup Adrian! Tidak ada gunanya kau terus minum-minum seperti ini." Cercah Kevin.
"Kembalikan botolnya, Kevin."
"Tidak! Ayo kita pulang. Aku akan mengantarmu." Kevin bangkit dan memampah tubuh Adrian.
Adrian menepis tangan Kevin "Kau pikir aku mabuk? Aku masih bisa jalan sendiri, Kevin" bangkit dari duduknya.
Adrian berjalan keluar menuju parkiran dan diikuti kevin dari belakang. Kevin berencana untuk mengantarnya pulang tapi, Adrian bersih keras tak mau menerima tawaran Kevin.
Mobil mewah milik Adrian melaju meninggalkan parkiran. Kevin masih berdiri ditempatnya melihat mobil Adrian yang berangsur-angsur menjauh dan hilang dari pandangannya. Setelah mobil Adrian hilang dari pandangannya barulah ia masuk kedalam mobilnya.
Adrian memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Untunglah jalanan sudah mulai sepi. karena sudah tengah malam jadi, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Mungkin karena pengaruh alkohol Kepala Adrian terasa pusing dan pandangan nya mulai kabur. Adrian menepihkan mobilnya tepi jalan. Ia memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya pada punggung kursi mobil, berharap rasa pusing dikepalanya itu bisa hilang.
Tapi bukannya menghilang. Rasa pusing pada kepalanya malah bertambah. Ia merasa kepalanya begitu berat sampai ia tak sanggup lagi untuk menyetir. Ia pun merogok saku celananya mengambil handpone dan menelpon pak Joko.
30 menit kemudian pak Joko tiba di alamat yang diberikan Adrian. Ia celingukan kesana kemari mencari keberadaan tuannya itu tapi nihil pak Joko tak menemukan tanda-tanda kehidupan sana.
Pak Joko terus berjalan menyusuri jalanan yang sepi. Dari kejauhan ia melihat empat orang pria sedang mengeronyok seseorang. Walaupun samar-samar tapi, pak Joko yakin bawah yang sedang dikeroyok itu adalah tuannya.
__ADS_1
Ia pun berlari menujuh kearah kerumuan tersebut. Dan ternyata dugaan nya itu benar. Tuannya sedang hajar oleh keempat pria yang tidak dikenali.