
Adrian menelan salivanya beberapa kali.
"Pak Joko!!!" Panggil Adrian.
"Iya tuan," pak Joko yang berada agak jauh dibelakang Adrian segerah mendekat.
"Apa kamu yakin dia orang yang menolongku malam itu.?" Tanya Adrian.
"Iya tuan muda. Saya ingat betul wajah gadis itu."
Deg..!!
Lagi-lagi Adrian menelan salivanya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Perasaannya campur aduk, senang karena bertemu dengan orang yang ia cari-cari selama ini tapi, di lain sisi ia begitu gugup setelah mengatahui orang itu adalah Nisa.
Ada apa denganku? Kenapa aku begitu gugup. Adrian
Nisa asyik menikmati roti yang ia beli tadi, tanpa ia ketahui disisi lain Adrian terus menatapnya. Dengan langkah hati-hati Adrian menuju kearah Nisa yang sedang duduk dibangku halte. Duduk disamping Nisa tapi dengan jarak dua bangku kosong yang memisahkan mereka.
Untuk menyapa saja Adrian bingun harus mulai dari mana.
"Ehem.," Adrian berdehem. Yah, Adrian memulai percakapannya dengan berdehem, tapi sepertinya deheman Adrian tidak mempan, karena Nisa tidak menoleh, ia terus menikmati makannya tanpa menoleh kanan kiri.
"Ehem, ehem," kali ini Adrian berdehem beberapa kali, tapi usahanya kali ini juga gagal. Nisa tidak melihat kearahnya sedikit pun. Bukan karena ia tuli, tetapi ia berpikir mungkin orang yang berada disampingnya ini sedang sakit tenggorokkan.
Adrian begitu kesal, ia berdehem berkali-kali sampai tenggorokannya sakit tapi Nisa tak menoleh sedikitpun kearahnya. Adrian harus memikirkan cara lain. Ia mengambil napas dalam dan membuangnya pelan.
"He-i," satu kata yang keluar dari mulut Adrian. Seorang pengusaha muda yang selalu memenangkan tender, yang selalu perfeck saat tampil didepan publik dan sudah terbiasa menyampaikan pidato diatas podium yang di saksikan oleh ribuan pasang mata. Tapi kini mulutnya terasa kaku saat berhadapan dengan seorang gadis biasa.
Nisa mengangkat kepala, mendongak kesamping ia terkejut, matanya membelalak ketika mengetahui Adrian duduk tidak jauh darinya.
Uhukk.....,uhukk
Saking terkejutnya Nisa tersedak, ia mengambil botol air mineral yang berada didalam tas dan meneguknya.
"Sedang apa tuan disini?" Tanya Nisa bingun.
Aduh, aku harus bagaimana? Aku tidak sedang berkencang, tapi kenapa aku gugup sekali. Adrian
"Ah itu, aku ada janji dengan klien tapi sepertinya ia tidak jadi datang." Ucapnya bohong, sambil melihat arloji yang ada pergelangan tangannya.
Nisa mengerutkan dahinya. Sejak kapan ada orang bertemu klien di halte? Nisa.
"Oh," Jawab Nisa singkat. Begitulah karakter Nisa, tidak banyak bicara dengan orang yang belum akrab denganya. Bicara secukupnya dan menjawab seperlunya saja.
Kenapa aku baru sadar, selain keras kepala gadis ini juga sangat dingin. Adrian
Dari semua wanita yang pernah mendekati Adrian, semuanya pasti akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Terlebih Adrian memiliki penampilan dengan aura yang kuat di tambah ia adalah pewaris tunggal keluarga Malik, tentu banyak wanita yang berlomba-lomba mendekati pria berdarah dingin itu.
Namun itu tidak berlaku bagi Nisa. Wanita itu selalu terlihat cuek. Hal ini yang membuat Adrian berpikir bahwa ia benar-benar tertarik pada wanita itu.
Nisa tidak peduli ia kembali melanjutkan makannya seharian mencari pekerjaan membuat tenaganya benar-benar terkuras.
"Lalu sedang apa kau disini." Tanya Adrian basa basi.
__ADS_1
Nisa menatapnya kesal, pertanyaan konyol apa itu. Orang berada dihalte sudah pasti sedang menunggu bus. Nisa
"Sedang menunggu bus." Jawab Nisa ketus.
"Oh." Adrian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menghadapi Nisa jauh lebih menakutkan dari pada membujuk invertos asing. Adrian tersenyum tipis.
Adrian melihat penampilan Nisa dari ujung kaki sampai kepala. Menggunakan pakaian formal. Apakah dia sedang mencari pekerjaan? Adrian.
Tiba-tiba muncul ide diotaknya. Adrian tersenyum sedikit manis dan sedikit penuh kelicikan. Melihat wanita di sampingnya itu membuat Adrian berpikir ide cermelang.
"Apa kau sedang mencari pekerjaan? Sungguh sulit mencari pekerjaan dizaman sekarang ini. Kalau kau mau aku bisa membantumu." Tawar Adrian tanpa basa basi.
"Terima kasih atas kebaikan hati anda tuan, tapi maaf saya tidak butuh bantuan anda." Nisa dengan respon yang cepat langsung menolak tawaran Adrian.
Mendengar ucapan Nisa yang berani menoloknya membuat Adrian geram.
"Cih, kau masih memiliki hutang padaku, apa kau sudah lupa itu?" Adrian mencoba mencari kelamahaan Nisa.
Selain mesum, kau juga sangat perhitungan. Nisa
"Aku akan membayarnya nanti."
"Kapan? Tunggu sampai dinegara ini turun hujan salju.?
Nisa menatap jengkel kearah Adrian. "Aku akan membayarmu langsung. Kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan." Ucap Nisa sedikit emosi.
"Maka bekerjalah denganku. Jadilah sekretarisku." Ucap Adrian spontan.
"Sekretaris." Ucap Nisa mengulangi perkataan Adrian. Ia sedikit kaget. Ia menatap kearah Adrian mencari kebohongan dimata Adrian tapi sepertinya ia berkata jujur karena tidak ada kebohongan yang terlihat disana. Dua manik itu kembali beradu tatap.
Nisa menelan salivanya. Berpikir sejenak, memikirkan berapa banyak gaji yang ia dapat jika menerima tawaran Adrian. Gaji yang ia dapat sebagai karyawan staff biasa 7 juta perbulan. Jadi jika ia menjadi sekretaris Adrian maka gajinya naik lima kali lipat berarti....?
35 juta???
Deg! Mata Nisa berbinar-binar, bekerja dimana pun ia tidak akan menerima gaji sebesar itu. Ini kesempatan emas untuknya. Tapi kalau ia menerima tawaran Adrian berarti ia harus bertemu dengan boss mesum ini setiap hari.
"Hemmmm," Nisa berpikir sejenak.
"Bukannya kau sedang membutuhkan uang untuk biaya obat ibumu dan juga biaya sekolah adikmu." Suara Adrian menyadarkan Nisa dari lamunannya.
Nisa terkejut. Dari mana dia tau tentang kehidupan ku, apa dia membuntuti ku? Nisa.
Lagi-lagi Adrian mengetahui kelemahannya kalau ia memang sedang membutuhkan uang. Tidak ada pilihan lain, selain menerima tawaran Adrian. Toh, ia juga sudah mencoba mencari pekerjaan dimana-mana tapi tidak ada satu pun yang menerimanya.
Ia menerima tawaran Adrian bukan karena ia tergiur dengan gaji yang besar tapi ia melakukan itu semua semata-mata demi ibu dan adikknya. Dengan gaji yang lumayan besar ia akan memberikan kehidupan yang layak untuk ibu dan adikknya.
Nisa menghela napas dalam. "Baiklah, aku terima tawaran anda tuan."
Adrian tersenyum penuh kemenangan. "Kita sepakat, mulai besok kau sudah bisa masuk kerja."
"Baik tuan."
"Ini sudah larut malam, tidak baik seorang wanita pulang sendiri, maka dari itu aku akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
"Tidak perluh tuan, saya sudah terbiasa pulang sendiri."
"Tidak ada bantahan."
Adrian bangkit dari duduknya, berjalan menuju mobil. Menyadari Nisa masih mematung di tempatnya membuat Adrian gemas.
"Hei, kenapa diam saja? Apa kau akan tidur disitu.?" Ucap Adrian kesal.
"Iyah, iyah. Dasar tidak sabaran." Nisa menggerutu, melangkah dan membuka pintu depan mobil.
"Siapa yang menyuruhmu duduk didepan?" Ucap Adrian.
"Ya ampun tuan, lalu aku harus duduk dimana? Dibagasi?" Nisa melotot.
Tidak mungkin dia menyuruhku duduk di belakang kan? Jika itu terjadi mungkin dia sedang mengalami gangguan kejiwaan. Nisa
"Kecilkan matamu, duduk di belakang." Suara Adrian hampir tidak terdengar. Nisa masih mematung berdiri disamping mobil.
"Hei, apa kau tuli?" Ucap Adrian kesal.
"Di belakang, apa kau yakin tuan?" Nisa tidak percaya.
"Hmmmm, sekarang kau sekretarisku jadi biasakan dirimu untuk selalu berada di dekatku."
"Baiklah," Karena tidak ada pilihan lain, Nisa memutuskan untuk membuka pintu mobil dan duduk manis disamping Adrian.
Mobil melaju, hening tidak ada yang bersuara. Sesekali Nisa memalingkan pandangan matanya seolah tidak percaya dengan situasi yang terjadi. Laki-laki yang ia benci setengah mati, justru berada disampinnya.
Aku akan terus mengikatmu, dan membuat dirimu berada di sisiku selamanya. Walau terdengar sangat kejam dan ambisius tapi aku tidak akan melepaskanmu begitu saja bahkan jika banyak orang yang menentang. Adrian
Pak Joko menancap pedal gas melaju ke alamat yang ditunjukkan oleh Nisa. Setelah sampai tujuan Nisa langsung turun dari mobil. Diikuti Adrian yang juga ikut keluar.
"Terima kasih atas tumpangannya tuan." Ucap Nisa menunduk.
"Hmmm, dimana dirumahmu?" Tanya Adrian.
"Di ujung gan sana tuan."
"Aku akan mengantarmu sampai didepan tempat tinggalmu."
Ya Tuhan, ada apa denganya? kenapa sikapnya jadi sok manis begini, biasanya juga selalu marah-marah. Nisa membantin.
•
•
•
•
•
🍁Selamat membaca. Mohon maaf kalau ada banyak taypo dan salah-salah kata maklum hanya amatiran bukan profesional😂😂
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komennya ya❤❤