Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
Bab 26


__ADS_3

Malam yang sepi, bintang- bintang berkilau dilangit yang gelap. Hembusan angin malam yang dingin mulai menusuk sampai ke tulang, hingga menjalar kesendi- sendi. Ditepi jalan yang sunyi, Nisa masih terisak sampai bahunya ikut terguncang. Ia mendekap tubuh Adrian didalam pelukannya.


"Sadarlah tuan, jangan mati dulu." Ujarnya sambil menggoyang-goyang tubuh Adrian. . Walaupun Adrian sangat menyebalkan dan selalu marah-marah padanya tapi Nisa sungguh merasa iba melihat kondisi Adrian saat ini.


"Hiks, hiks. Apa yang harus aku lakukan? Kenapa bapak tua itu belum juga kembali." Lirihnya.


Tiba-tiba ia teringat Ririn.


"Ahh, aku harus menelpon Ririn. Ia harus tau kondisi kakaknya saat ini."


Nisa mencari-cari ponselnya tapi sepertinya ia lupa membawa ponsel.


Nisa memukul kepalanya pelan. "Bodoh, aku kan tidak membawa ponsel." Nisa menggerutui kebodohan dirinya sendiri.


🍃Ditempat lain.🍃


Setelah selesai mengikat kaki dan tangan pria ninja itu. Pak Joko segera cari bantuan. Tapi tak ada satu orang pun disana. Ia mulai bingun, tak tau apa yang harus ia lakukan.


"Kenapa aku bodoh sekali, kenapa aku tidak kepikiran untuk menelpon assisten Kevin." Gerutu pak Joko mengumpat kebodohannya sendiri. Karena terlalu panik pak Joko sampai lupa untuk menghubungi Kevin dan pengawal-pengawal tuannya.


Ia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Kevin


Tut.


Tut...


Tu...


Beberapa kali dihubungi tapi Kevin tak menjawab. Mungkin ia sedang tidur, pikir pak Joko. Karena ini masih jam 2 dini hari. Ia tak putus asa ia kembali menghubungi bodyguard Adrian.


Tut.. baru satu kali deringan langsung diangkat. Pengawal-pengawal Adrian memang dilatih melanyani tuannya 24 jam. Setelah panggilannya tersambung pak Joko menjelaskan semua kejadian yang mereka alami dan meminta pengawal segera datang.


Tidak butuh waktu lama, dua mobil sedang berwarna hitam pun tiba. Pak Joko datang dengan beberapa orang. Dilihat dari penampilan sepertinya mereka seorang bodyguard.


"Cepat bawah tuan muda kerumah sakit." Perintah pak Joko.


Pengawal itu pun mengangkat tubuh Adrian kedalam mobil.


"Terimakasih atas bantuan anda nona. Kalau tidak ada nona entah apa yang akan terjadi pada tuan kami." Ujar pak Joko tulus.


"Tak masalah pak. Sudah kewajibanku untuk menolong sesama."


"Luka anda harus diobati nona, bagaimana kalau kita kerumah sakit saja, " ujar pak Joko. Lalu ia melirik wajah Nisa. Disana ada sedikit luka lebam.

__ADS_1


"Tak perlu repot-repot pak, ini hanya lebam sedikit. Biar aku obati saja dirumah." ujar Nisa.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi nona." Membungkuk sopan.


" iyah,"


Pak Joko dan enam orang pengawal mengantar Adrian kerumah sakit. Setelah itu Dia pun langsung menghubungi keluarga Malik memberi tahukan tentang kondisi Adrian saat ini.


******


Dirumah sakit beberapa dokter sudah siap dengan ranjang dorong untuk menyambut kedatangan Adrian. Sekitar 10 menit menunggu kini mobil Adrian tiba dirumah sakit.


Dengan segera mereka membawa Adrian diruang UGD. Beberapa menit Kevin tiba dirumah sakit. Ia segera berlari keruangan UGD disana sudah ada pak Joko dan enam orang bodyguard.


Yah, Kevin bisa datang kerumah sakit karena pak Joko terus menghubunginya. Beberapa kali ditelpon akhirnya Kevin menjawab panggilan dari pak Joko.


"Bagaimana keadaan tuan, pak Joko." Masih dengan napas ngos-ngosan.


"Entahlah tuan, tuan muda masih tak sadarkan diri." Ucap pak Joko membungkuk.


Arrggg! Kevin mengacak-ngacak rambutnya. Ia mengepalkan tangannya memukulkannya pada tembok. Melakukan itu beberapa kali sampai darah mulai merembas keluar dari pori-pori kulitnya.


Andaikan ia mengantar Adrian pulang, mungkin kejadian ini tak akan terjadi.


{Hallo tuan...} suara berat diseberang sana menjawab.


{Hallo, aku punya tugas untukmu. Selediki orang-orang yang telah mencoba melakukan pembunuhan terhadap tuan muda. Aku tunggu secepatnya.} Titah Kevin


{Baik tuan.}


Tak lama kemudiam keluarga malik sampai di rumah sakit. Mereka bergegas menuju ruang UGD.


"Apa yang terjadi nak Kevin? Kenapa anakku sampai masuk rumah sakit,? Tanya ibu Sinta terisak.


"Menurut informasi yang diberikan pak Joko. Adrian dikeroyok oleh beberapa orang yang tak dikenal, tante." Ujar Kevin dengan nada rasa bersalah.


Sudah hampir 2 jam Adrian ditangani oleh para dokter. Akhirnya dokter keluar pada detik selanjutnya. Ibu Sinta, pak Gunawan dan Ririn lah yang menghampiri dokter. Sedangkan yang lainnya tetap berdiri ditempat mereka masing-masing.


"Bagaimana keadaan putraku, dok.?" Tanya pak Gunawan.


"Tuan muda Adrian baik-baik saja." Ucap dokter. Membuat semua yang menunggu Adrian menghela napas lega.


"Dan tuan muda sudah bisa dijenguk setelah dipindahkan." Lanjutnya.

__ADS_1


"Terima kasih, dok." Ujar ibu Sinta tulus.


*****


Mentari telah bersinar menerangi bumi, menembus kaca transparan dan melewati gorden yang sengaja dibuka oleh suster. Tangan Adrian bergerak membuat ibu Sinta sontak kaget langsung berdiri memencet tombol yang ada disamping tempat tidur Adrian.


Dokter dan para perawat segera datang keruangan Adrian untuk mengecek keadaannya.


Ibu Sinta, bapak Gunawan dan lainnya masih menunggu hasil pemeriksaan dokter diluar ruangan. Mereka nampak begitu gelisah. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya dokter keluar.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" Tanya ibu Sinta cemas.


"Alhamdulillah pasien sudah sadar sepenuhnya namun kondisinya masih belum kondusif dan sangat lemah."


"Baiklah dok, terima kasih. Apa kami sudah bisa menjenguknya.?" Tanya bapak Gunawan.


"Tentu saja. Kalau begitu saya permisi dulu tuan." Kata dokter tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.


Keluarga Malik masuk kedalam ruangan Adrian sedangkan Kevin dan lainnya menunggu diluar. Terlihat Adrian masih dalam kondisi lemah. Alat-alat medis yang ada ditubuhnya masih terpasang. Setidaknya matanya kini telah terbuka.


"Sayang, bagaimana keadaanmu.?" Tanya ibu Sinta lembut.


"Aku baik-baik saja mami.? Ucap Adrian lemas.


🌺Dikosan Nisa🌺


Matahari mulai menampakkan sinarnya. Nisa masih meringkuk dengan selimut yang menutupi tubuhnya, hanya menyisahkan bagian kepalanya saja.


Kriiiiiing...


Nisa tersekiap manakalah bunyi alarm jam wekker berdering kencang.


"Jam berapa sekarang? Mataku masih berat untuk terbuka, sejak kapan aku menjadi pemalas seperti ini.?"


Sepertinya Nisa masih enggan untuk bangkit dari kasurnya. Matanya masih ngantuk ditambah sekujur tubuhnya terasa remuk karena kejadian semalam.


Nisa meraba-raba mencari ponselnya. Diraihnya ponselnya itu, menghidupkan dan melihat pada layarnya pukul berapa sekarang ini.


"Astaga.....sudah jam tujuh, sebenarnya aku ini tidur atau pingsan?" Nisa mendengus kesal, dengan dirinya sendiri. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Rasa kantuk yang sempat menggelayuti matanya seketika hilang. Tubuhnya berlari kecil meraih handuk dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Selesai mandi Nisa bergegas memakai pakaian. Hari ini Nisa mengenangkan baju kemeja warna kuning berlengan panjang. Dipadu dengan celena kain skinny berwarna biru muda sangat pas ditubuhnya. Rambut panjangnya diikat gaya ekor kuda dan hanya menyisahkan sedikit anak rambut dibagian pangkal telinga dan tengkuk lehernya. Tak lupa ia memakai pelembab bedak untuk menutupi sedikit memar dibagian sudut bibirnya.


Nisa melirik jam kulit yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. "Astaga, kalau begini ceritanya aku pasti telat." Menepuk jidatnya sendiri.

__ADS_1


Tergesa, setengah berlari Nisa meraih dan mengenangkan sepatu kets warna coklat. Benar-benar tabrak warna, tetapi Nisa masa bodoh.


__ADS_2