
Pagi hari pun tiba. Mentari masih malu-malu untuk menempakkan sinarnya, seperti enggan keluar dari perpaduanya. Sementara didalam kamar berukuran kecil Nisa sudah rapi dengan pakainnya tapi bukan untuk kekantor tapi untuk mencari pekerjaan.
Ia mengambil tas yang tergantung disisi kanan di samping meja kecilnya. Nisa memasukkan beberapa berkas, dompet dan panselnya. Tidak ada semangat sedikit pun yang terlihat diraut wajahnya.
🍃Kantor MC Group.🍃
Mobil Adrian berhenti didepan perusahaan miliknya. Didepan Adrian sudah disambut oleh beberapa pegawai.
"Kevin, persiapkan meetingnya sekarang." Pinta Adrian.
"Baik boss," Jawab Kevin
Adrian masuk kedalam ruangan meeting dan menyaksikan para pegawai mempresentasikan ide-ide mereka dan belum satu pun yang membuat Adrian tertarik. Adrian terus membanyangkan wajah Nisa.
Karena tidak ada satupun ide yang membuat dirinya tertarik. Ia pun menyuruh Kevin menghentikan meetingnya. Adrian kembali keruangannya.
"Kevin keluarlah, aku ingin sendiri dulu." Kata Adrian.
"Baik boss," Kevin lalu keluar meninggalkan Adrian sendirian.
Huff, ada apa lagi dengannya? Tidak biasanya ia bersifat seperti begini. Dari tadi kuperhatikan hanya melamun saja. Apa ini ada kaitannya dengan kejadian kemarin? Kevin.
Kemarin, setalah kejadian Nisa memukul wajah Adrian, Kevin masuk diruangan Adrian. Nisa keluar dengan wajah yang memerah sedangkan Adrian meringis kesakitan terlihat darah mengalir dihidungnya. Kevin tak berani untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Ia membantu Adrian membersihkan lukanya.
Adrian berdiri menatap luar jendela memikirkan kejadian kemarin.
Aarrg, Adrian mengusap wajahnya kasar, sejak tadi malam bayang-bayang Nisa terus menghantuinya. Merasa bersalah karena telah memecat gadis itu. Ia juga menyalahkan kecorobohannya. Karena kecorobohannya Nisa berpikir bahwa dirinya akan berbuat mesum padanya yang menyebabkan gadis itu ketakutan dan memukulnya secara tiba-tiba.
Ia juga tidak menyalahkan Nisa, semua ini adalah kesalahannya, tapi mau minta maaf saja mulutnya terasa begitu kaku.
Haah, sial! Kenapa aku terus memikirkan gadis itu. Adrian.
Suara pintu membuat Adrian tersadar dari lamunannya. Seorang gadis datang dan duduk disofa. Dia adalah Ririn.
"Kenapa kaka memecat Nisa?" Tanya Ririn berapi-api.
Adrian berbalik badan. Melangkah menuju kursinya. Ia tak menggubris pertanyaan adikknya. Ia kembali memeriksa beberapa dokumen yang perlu ia tanda tangani.
__ADS_1
"Kakak!!!" Teriak Ririn. "Nisa itu gadis pekerja keras dan baik, dalam bekerja ia tidak pernah membuat kesalahan. Kenapa kakak memecatnya?"
Adrian menghela napas kasar. "Keluarlah, kakak sedang sibuk."
"Cih, kakak jahat." Ririn keluar, bulir bening menggenang dikelopak matanya. Ia sangat menyayangi sahabatnya, baginya Nisa sudah seperti saudaranya. Ririn sangat khawatir sejak tadi Ririn mencoba menghubungi Nisa tapi tidak ada balasan dari Nisa.
*****
Siang itu dikantor MC Group. Terlihat beberapa pria paruh baya sedang berjejer diluar ruangan Adrian menunggu giliran masuk. Tampak wajah mereka sangat ketakutan. Mereka semua direktur perwakiran dari beberapa kantor cabang perusahaan Malik.
Setiap tahun memang mereka harus melaporkan setiap detail berkembangan perusahaan secara rinci.
Didalam ruangan sudah terdengar suara Adrian yang sedang membentak dan melempar dokumen diwajah orang didepannya. Terlihat juga Asissten Kevin yang berdiri menunggu perintah bossnya.
"Laporan apa ini yang kau berikan padaku.? Tanya Adrian tegas.
"Ini laporan penjualan tahun ini tuan." Jawab pria itu gugup.
"Kalian mau membuat perusahaan ku rugi?" Bentak Adrian.
"Kevin." Panggil Adrian. "Suruh mereka pergi." Lanjutnya.
Kevin pun menyuruh mereka keluar.
🍁Tempat lain🍁
Dihari yang sama dan waktu yang sama Nisa kembali mengadu nasibnya. Nisa tetap berjuang mencari pekerjaan. Ia berharap secepat mungkin ia mendapat pekerjaan. Dengan berpakaian rapi menggunakan baju dan celana hitam putih. Menggunakan tas dan map besar yang berisi surat lamaran. Ada 3 PT yang akan Nisa ikuti melalui walk interview hari ini.
Hari ini Nisa mendatangi walk interview terbesar, banyak perusahaan yang mencari kandidat untuk staff mereka masing-masing. Namun disana ramai sekali bahkan sudah banyak yang mengantri. Mereka semua datang dari lulusan. Ada yang diploma (d3), SI, dan bahkan S2. Persaingan cukup ketat. Nisa sedikit pesimis, tapi ia ingin mencobanya. Mudah-mudahan 3 dari yang ia coba ada satu yang menerimanya. Itulah harapan Nisa.
Nisa pun menunggu antrian demi antrian. Tetap sabar dikurumuan para pencari kerja. Sudah 2 perusahaan yang Nisa lalui dalam wawancara. Dua-dua tidak diterima. Rasanya disaat itu Nisa mau menangis, kesal, kecewa bercampur menjadi satu. Tapi tidak ada yang bisa Nisa lakukan selain berusaha, berdoa dan bersabar.
Ya Allah tinggal satu lagi harapanku. Segalahnya kupasrahkan kepadamu. Karena engkau tau yang terbaik untukku. Nisa
Pukul sudah menunjukkan 14.00 siang. Istrahat satu jam sudah cukup untuk membuat Nisa segar dan kuat lagi. Kemudian berjalan dan mengantri lagi di satu PT yang akan Nisa coba. Setelah lama bangat mengantri bahkan sampai sore. Akhirnya Nisa selesai wawancara. Namun hasilnya ditolak.
Hiks, kembali gagal. Padahal sudah menunggu lama dalam antrian sampai-sampai melewatkan sholat ashar dan magrib. Nisa
__ADS_1
Hari ini sangat melelahkan hingga Nisa tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Nisa pun berjalan menuju halte. Sebelumnya gadis itu membeli roti dan minuman cup air mineral yang dijajakan pedagan kaki lima, karena perutnya mulai lapar. Nisa duduk dihalte menunggu kedatangan bus.
Ya Tuhan, berikanlah aku kekuatan untuk bisa keluar dari kesulitan hidup ini dan berikanlah kesempatan sekali lagi untuk aku membahagiakan keluargaku. Nisa
Pak Joko memacu mobil dan meninggalkan perusahaan. Kini mobil bergerak melewati beberapa bangunan mewah dan menjulang tinggi seperti ingin menyentuh permukaan langit. Mobil terus melaju menembus hiruk pikuk jalanan kota. Gegap gempita mulai terlihat disani sini jalanan kota.
Pak Joko mengendari mobil dengan kecepatan sedang, karena jalanan begitu padat. Ditengah mengendarai mobil, pak Joko tidak sengaja menangkap sosok yang menolongnya malam itu.
Tin.... tin.... tin..
Kendaraan lain membunyikan klason tidak henti-hentinya. Karena pak Joko tiba-tiba menghentikan mobil.
"Kenapa berhenti? Ayo jalan." Ucap Adrian kesal.
"Baik tuan muda." Menyadari kesalahannya pak Joko kembali menancap pedal gas.
Pak Joko yakin yang ia lihat dihalte itu adalah orang yang menolong tuannya. Ia harus memberitahu tuannya, tapi pak Joko tidak punya nyali karena dilihat dari wajah Adrian sepertinya ia lagi bad mood. Setelah berpikir panjang akhirnya pak Joko memutuskan untuk membuka suara mulut.
"Maaf tuan muda, anu itu.!! Saya melihat Orang yang menolong anda tuan muda." Ucap pak Joko ragu-ragu.
"Kenapa bapak tidak bilang dari tadi! Dimana orangnya?" Adrian melihat kearah jendela.
"Itu tuan, saya melihatnya dihalte."
"Putar balik, cepat." Perintah Adrian.
"Baik tuan."
Mobil Adrian putar balik menuju halte. Pak Joko menepihkan mobil disisi jalan.
Nisa bingun kenapa mobil mewah tiba-tiba berhenti tepat didepannya. Nisa menyapu pandangan disekitar, tapi tidak ada orang lain selain dirinya disitu. Ia tidak peduli, ia kembali melanjutkan aktifitasnya memakan roti yang ia beli tadi sambil menunggu bus.
Jantung Adrian berdetak kencang tidak sabar ingin bertemu dengan sosok malaikat yang menolongnya malam itu. Pak Joko keluar lebih dulu membuka pintu untuk tuannya. Adrian turun dengan gaya angkuh menggunakan kemeja tiga potong berwarna abu-abu yang nampak pas dibadannya, seperti didesain khusus untuknya. Yang membuat penampilannya begitu sempurna.
Deg..
Jantungnya kali ini berdetak lebih kencang ketika mengetahui siapa sosok itu.
__ADS_1