Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
Bab 42


__ADS_3

Adrian tersenyum tipis, menatap nanar punggung Nisa yang berangsur-angsur menghilang dibalik pintu. Gadis itu, menutup pintu dengan kasar.


Aku baru tahu kau segalak itu, pantas saja aku bisa tergila-gila padamu. Batin Adrian.


"Dasar gadis keras kepala." Gumannya tersenyum tipis.


Nisa keluar dengan wajah ketus,


"Dasar pria menyebalkan."Gerutunya kesal. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada punggung sofa, memejamkan mata dan memijat keningnya. Kepalanya benar-benar pusing memikirkan masalah yang tengah ia hadapi sekarang ini.


Hampir dua menit Nisa mendingin kan pikirannya. Setelah rasa pikirannya sudah tenang. Gadis itu, membuka mata, menghembuskan napas dan kembali bekerja. Ada beberapa berkas yang harus ia kerjakan yaitu menyusung laporan presentasi dan mengatur ulang jadwal harian Adrian.


Disela-sela tangannya sibuk membolak balik berkas, tiba-tiba suara seseorang mengejutkannya.


"Selamat siang, nona." Suara seorang wanita


Nisa mendongak kepala, gadis itu terkesiap setelah mengetahui siapa yang ada didepannya ini.


Gadis ini? Bukannya dia kekasihnya boss? Batin Nisa


"Siang. Ada yang bisa saya bantu, nona?" Tanya Nisa


"Apa Adrian ada diruangannya.?"


Nisa menatap lekat gadis itu. Putih bening, tinggi, memiliki wajah cantik glowing seperti artis-artis Korea, dan rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai. Sekilas bayangan buram seperti film berputar dikepalanya. Mengingat kejadian dimana ia menangkap basa Adrian berciuman dengan gadis yang berada hadapannya ini.


"Nona,"

__ADS_1


Suara Tifani menyadarkan Nisa dari lamunannya. "Eeeh, iyah. Boss ada diruangnya, nona." Ujar Nisa gelagapan.


Wanita itu tersenyum kecil kearah Nisa, kemudian ia berlalu, melangkah menuju pintu dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Nisa menatap punggung Tifani sampai gadis itu menghilang dibalik pintu.


Kira-kira apa yang, mereka lakukan didalam sana? guman Nisa dalam hati. Gadis itu menggigit jarinya.


"Aish.... Kenapa aku memikirkan mereka. Bodoh amat, bukan urusannku." Gumannya. Gadis itu kembali fokus pada layar komputer.


Drrrt, telepon genggam yang berada diatas mejanya berdering.


"KERUANGANKU, SEKARANG..." teriak Adrian diseberang sana. Nisa menjauhkan telpon dari telinganya.


"Ba.." belum sempat menjawab Adrian langsung memutuskan sambungan telpon.


"Dasar pria sinting." Gerutunya kesal, dengan langkah malas gadis itu menyeret kakinya menuju ruangan boss nya.


Mata Nisa membelalak, ketika masuk kedalam ruangan Adrian. Terlihat ada pecahan vas bunga, berhamburan diatas lantai keramik mahal diruangan itu.


Apa yang terjadi? Apa mereka bertengkar? Nisa membatin.


"Kau!! " Seru Adrian menunjuk kearah Nisa dengan tatapan tajam. Gadis itu menelan salivanya kasar.


"Apa kau bisa bekerja dengan baik. Kenapa kau membiarkan gadis ini masuk keruanganku." Suara Adrian kali ini terlepas dengan nada tinggi. Membuat Nisa sedikit takut.


Sesuatu seperti tercekat ditenggorokan Nisa, hingga membuat gadis itu kesulitan untuk berbicara.

__ADS_1


Apa salahku. Mereka yang bertengkar kenapa aku yang kena imbasnya. Guman Nisa seraya menarik kedua ekor matanya melirik kearah Adrian.


Nisa hanya terdiam dan menerima tatapan serta suara gusar Adrian yang ditujukan kepadanya. Ingin sekali Adrian membentakkya, namun ia merasa tak tega. Adrian mengahlikan pandangannya sembari menghembuskan napasnya dengan kasar.


"Jangan memarahinya, Rian. Dia tidak bersalah, aku yang salah." Ujar Tifani dengan mata berkaca-kaca.


"Diam! Siapa yang mengizinkan kamu bicara." Seru Adrian penuh penekanan.


"Maaf kalau kedatanganku membuatmu tidak nyaman." Kata Tifani kemudian berlalu keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Tifani. Nisa juga ingin hendak cepat-cepat keluar dari ruangan Adrian, tapi baru mau melangkah tiba-tiba suara Adrian menghentikan langkahnya.


"Siapa yang menyuruhmu keluar." Ucap Adrian dingin.


"Eh, "


"Tetaplah disini." Titah Adrian


"Saya akan meminta clening service, untuk membersihkan ruangan anda, tuan." Nisa mencari cari alasan agar ia segera keluar dari ruangan Adrian.


"Tidak perlu." Tatapan Adrian menghujam dalam kedua mata Nisa. Kemudian ia meraih tubuh Nisa kedalam pelukannya.


Nisa memberontak


"Sebentar saja, aku mohon. Ijinkan aku memelukmu, aku mohon." Ucap Adrian lirih.


"Berapa lama lagi?" Nisa menepuk punggung Adrian.

__ADS_1


"Berapa lama lagi kau akan memelukku? Lihatlah, kita dikantor bagaimana kalau tiba-tiba ada orang masuk." Menepuk semakin keras.


"Satu menit lagi, yah. Aku mohon. Aku mohon satu menit saja." Adrian tidak peduli jika ada orang yang melihat mereka. Bila perlu dia berteriak da mengatakan kepada seluruh dunia 'dia wanitaku'. Namun sepertinya itu tidak bisa ia lakukan. Saat ini bisa memeluk tubuh wanita yang dicintainya saja adalah sebuah kebahagian tersendiri.


__ADS_2