Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
Bab 28


__ADS_3

Adrian terus menatap jaket tersebut. Pikirannya kemana-mana. Sedang asyik menikmati lamunannya tiba-tiba pintu dibuka.


Ceklec (pintu dibuka)


"Selamat siang kakak." Ucap Ririn. Suara Ririn menyandarkan Adrian dari lamunannya. Dengan segerah ia memasukan jaket itu kembali kedalam paper bag.


Adrian tersenyum. "Cih, siang adekku yang cerewet."


Ririn melangkah menuju ranjang Adrian. Meletakkan paper bag yang ia dibawah diatas meja.


"Bagaimanan keadaan kakak.?" Tanya Ririn.


"Sudah sedikit mendingan."


"Syukurlah, pasti kakak belum makan kan? Ini Ririn bawain makanan kesukaan kakak, "


"Iyah, hmmmm adik yang berbakti, tahu saja kalau kakaknya yang tampan ini tidak suka makan makanan rumah sakit." Ucap Adrian .


Ririn memutar matanya malas. "Hadeh kak, dari dulu kali adikmu ini selalu berbakti padamu, kenapa baru sekarang kakak mengakuinya."


Adrian terkekeh. "Iyah, iyah sudah jangan cemberut. Cepat ambilkan makanan, kakak sudah lapar nih."


"Baiklah." Ririn mengambil paper bag dan meletakkan satu persatu tupperware diatas meja.


Ceklec (pintu dibuka)


Tak lama kemudian Kevin masuk dengan menenteng kresek ditangan kanannya.


"Hei adik kecil." Sapa Kevin. Meletakkan katung kresek diatas meja.


"Iyah kak Kevin. Apa yang kak Kevin bawah.?" Tanya Ririn menunjuk kresek.


"Oh ini, buah-buahan segar. Tadi kakak membelinya supermarket." Kevin melangkah menuju sofa.

__ADS_1


"Oh. Kak Kevin ayo makan. Mami sudah siapin juga sarapan buat, kak Kevin."


"Baiklah, aku tidak bisa menolak rezeky." Ujar Kevin mengyeringai.


Setelah makan siang, Kevin kembali dikantor. Kini Ririn yang bergantian menjaga Adrian. Adrian duduk kasur dan menyandarkan tubuhnya pada punggung kasur.


"Kakak,?" Panggil Ririn sambil tangannya sibuk mengupas buah.


"Hemmm...," jawab Adrian tanpa menoleh. Ia sibuk dengan gadgetnya.


Menarik napas dalam. "Kemarin aku melihat kak Tifani di mall. Apa kakak sudah mengetahui kedatangan nya" Tanya Ririn


Adrian mengambil nafas berat. "Iya." Jawab Adrian singkat.


"Cih, nenek lampir itu pasti sudah menemui kakak kan? " tebak Ririn.


"Sudahlah, jangan dibahas." Ujar Adrian datar.


"Apa kakak masih belum melupakan gadis itu?"


"Kakak berhentilah bersikap bodoh, masih banyak wanita di dunia ini. Lupakan nenek lampir itu, dan mulai lah membuka hati kakak untuk wanita lain." Cercah Ririn.


Tampak Adrian menarik napasnya pelan. Perkataan adikknya itu bagai tamparan buat dirinya. Memang yang dikatakan Ririn itu adalah sebuah kenyataan bahwa dirinya belum bisa melupakan cinta pertamanya itu.


"Apa kakak ingin menghabiskan seumur hidup untuk terus berada dalam banyangan-banyangan masa lalu? Ini sudah bertahun-tahun lamanya dan kakak belum melupakannya.?"


"Come on, kak! Kaka harus membuka hati untuk wanita lain. Cari wanita yang baik-baik dan menikahlah. Lagi pula mami dan papi juga sudah menginginkan seorang cucu."


Dorongan yang selalu diberikan Ririn pada Adrian untuk melupakan Tifani semata-mata hanya karena ia tidak ingin melihat kakaknya selalu berada dalam lingkaran masa lalu.


Ucapan Ririn terngiang-ngiang telinga. Adrian juga sebenarnya tidak tahu arti Tifani untuk dirinya.


🏢 Kantor 🏢

__ADS_1


Nisa masih sibuk dengan komputer dan beberapa tumpukkan kertas yang tersusun diatas mejanya. Setelah berjam-jam duduk mengotak atik didepan komputer. Akhirnya kini pekerjaannya Setelah selesai juga. Ia merenggankan otot-otatnya.


Ia melirik jam yang ada pergelangannya. Sekarang sudah saatnya jam makan siang. Hari ini ia makan siang sendiri tanpa sahabatnya. Ririn izin tidak masuk kantor karena kakaknya masuk rumah sakit.


Nisa menghela napas dalam. "Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Gumannya memikirkan kondisi Adrian.


"Ahh, kenapa aku memikirkan pria menyebalkan itu. Seharusnya aku bersyukur karena tidak ada orang yang menyuruhku sana sini. Semoga saja ia beta dirumah sakit agar aku bisa sedikit bersantai." Gumannya.


Nisa bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kantin.


Dikantin nampak ramai, hampir tidak ada meja kosong disana. Masih dengan memegan manpan, Nisa clingak clinguk mencari meja kosong yang bisa ia gunakan untuk makan. Akhirnya ia menemukan satu meja dibagian pojok ruangan yang tidak ada penghuninya. Ia pun melangkah kesana.


Nisa lebih nyaman makan sendiri, karena ia juga belum terlalu akrab dengan pegawai yang lainnya. Walaupun sudah satu bulan ia bekerja. Ia tidak ambil pusing dengan sekitarnya itulah yang membuat dirinya hanya memiliki sedikit teman.


Orang yang baru mengenalnya mungkin akan beranggapan bawah Nisa adalah gadis yang cuek dan sombong karena memang sifatnya yang masa bodoh. Tapi sebenarnya dia adalah gadis yang baik hati dan sifat aslinya akan muncul kalau ia bersama sahabatnya.


"Permisi, apa baleh saya duduk disni, nona?" Tanya seorang pria.


Nisa berhenti mengunyah makanannya, mendongakan kepala melihat kearah sumber suara. Disisi meja berdiri seorang pria tampan dengan kedua tangan nya sedang memegan manpan berisi makanan.


"Iyah, silahkan pak." Ucap Nisa datar.


"Terima kasih, " ujar pria itu, menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Nisa.


Hening tak ada yang bersuara. Nisa makan dengan lahap tanpa peduli dengan pria yang ada didepannya.


"Ehemmm, apa kau pegawai baru disini.?" Ucap pria itu basa basi.


"Hemmm," Jawab Nisa singkat.


Cute, gadis ini sungguh menggemaskan. Apa dia tidak mengenaliku? Bagas.


Pria itu adalah sahabat Adrian bernama Bagas. Ia berada di perusahaan MC Group karena ada pertemuan kerja sama antar perusahaan. Bagas pernah bertemu dengan Nisa saat direstoran. Ia ingat betul saat gadis itu membuat kekacaun. Tapi sepertinya Nisa tak mengenalinya.

__ADS_1


Tak ku sangka kita bertemu lagi disini. Bagas


Bagas tersenyum mengyeringai. Sungguh ia sudah tertarik dengan gadis yang sedang berada hadapannya ini.


__ADS_2