Cinta Adrian & Nisa

Cinta Adrian & Nisa
Bab 30


__ADS_3

Ah... aku bisa sakit mata melihat pemandangan tidak senonoh ini. Nisa.


Nisa membalikkan tubuhnya. Menghindar tak mau melihat adegan yang mengotori matanya.


Apa mereka tidak bisa melihat tempat. Kalau mau berbuat mesum setidaknya carilah tempat yang aman. Ini dikantor siapa saja bisa masuk keluar. Apa seperti ini cara orang kaya pacaran? Dasar tidak tahu sopan santun. Nisa


Tifani yang mencium Adrian tampak terkejut ketika matanya menangkap kedatangan Nisa. Dan segera ia memisahkan dirinya dari tubuh Adrian. Ia menatap dan segera menyimpan keterkejutanya karena tertangkap basa oleh Nisa.


Adrian juga nampak terkejut.


"Ehem." Adrian berdehem,


Nisa berbalik. "Maaf tuan, tadi saya sudah mengetuk pintu. Tapi tidak ada respon jadi saya langsung masuk saja. Maaf atas kelancanganku tuan." Ujar Nisa menunduk.


Semoga saja bos mesum ini tidak marah. Habislah aku kalau sampai ia marah dan memotong gajiku lagi. Nisa.


"Cepat siapkan makanan untukku " perintah Adrian.


"Baik tuan." Nisa merasa lega, bahkan ia melakukan gerakan mengurut dadanya. Sepertinya dirinya aman.


Nisa menyajikan satu persatu makanan yang ia beli direstoran untuk Adrian diatas meja. Adrian menunggu Tifani bergerak agar pergi dari kantornya. Tapi kelihatannya gadis itu enggan untuk pergi.


Nisa meletakkan satu persatu makanan diatas meja. Jaraknya dan Adrian cukup dekat membuat Adrian bisa mencium bau parfum milik Nisa.


Bau parfum ini samar-samar mengingatkanku pada orang itu. Mungkin kah dia.....,? Ah, tidak mungkin gadis ini orangnya. Adrian.


Ia melihat lekat kearah Nisa, benarkah Nisa yang menolongnya malam itu? Untuk memastikan ia harus menanyakan langsung pada Nisa.


"Kalau tak ada lagi keperluanmu. Segeralah pergi dari sini." Ucap Adrian mengusir Tifani.


"Apa kita bisa bertemu di....," Belum selesai ucapan Tifani tapi sudah dipotong oleh Adrian.


"Tidak. Hentikan semua usahamu untuķ bertemu denganku. Sudah ku katakan aku memaafkanmu. Jadi pergilah dari sini."


Tifani bangkit dari duduknya, ia melirik pada Nisa yang berdiri disamping sofa. Tatapan jengkel karena Nisa sudah mengacaukan aksinya untuk merebut kembali hati Adrian. Tifani berjalan dengan menatap tajam kearah Nisa dan akhirnya ia keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Kenapa ia menatapku seperti itu.? Nisa.


Adrian duduk disofa menyilangkan kaki dan menyandarkan tubuhnya diatas kursi. Ia tersenyum penuh kesombongan. Nisa yang melihat Adrian tersenyum membuat ia bergidik ngeri.


"Kau!" Adrian menggerakan jari seperti memberi isyarat agar Nisa mendekat.


"Saya tuan,?" Tanya Nisa menunjuk dirinya sendiri.


"Iyah, siapa lagi kalau bukan dirimu. Tidak ada orang lain diruangan ini selain kita berdua." Ucap Adrian tersenyum licik.


Nisa bergidik ngeri, ia enggan untuk mendekati Adrian. Nisa diam tidak bersuara. Adrian sangat geram karena Nisa mengabaikannya.


"Apa aku harus kesitu untuk menyeretmu."


"Ah, tidak perlu tuan." Dengan langkah malas Nisa berjalan kearah sisi sofa dimana Adrian duduk.


"Duduklah," perintah Adrian menepuk-nepuk sofa disampingnya.


Apa aku tidak salah dengar. Nisa.


Adrian menghela napas kasar. Kenapa wanita ini sangat keras kepala. Wanita-wanita diluar sana berlomba-lomba hanya untuk bisa duduk disampingku. Kenapa dia berbeda? Adrian.


"Jangan sok jual mahal, duduklah ada sesuatu yang ingin ku tanyakan." Ucap Adrian datar.


Nisa tersenyum getir. Hah, dia mengataiku sok jual mahal? Yang benar saja. Berbagi udarah denganmu dalam satu ruangan saja aku tidak sudi, apalagi duduk disampingmu. Nisa


"Kenapa kau diam saja. Apa kau tuli?"


"Tidak tuan." Dengan terpaksa Nisa duduk disofa yang sama dengan Adrian tapi dengan jarak yang terpisah jauh. Nisa duduk diujung kursi bagian kiri sedangkan Adrian diujung bagian kanan.


"Kenapa kau duduk disitu? Mendekatlah kemarih." Pintah Adrian.


"Iyah," Nisa menggesar duduknya. Tapi masih dengan jarak yang jauh.


Adrian terlihat kesal. "Buang pikiran kotormu tentang diriku. Aku sungguh tidak tertarik dengan gadis jelek seperti dirimu. Jadi mendekatlah sebelum aku marah."

__ADS_1


Cih, aku cukup tau diri tuan. Sepertinya tuhan benar-benar mencintai dirimu, dia memberikan segalahnya padamu, ketampanan, kekuasaan dan kekayaan. Tapi kenapa kata yang keluar dari mulutmu tidak pernah ada manis-manisnya. Anda seperti si pahit lidah. Nisa hanya mampu membantin tanpa bisa menyuarakannya.


Nisa kembali menggeser bokongnya. Kini jarak antar dirinya dengan Adrian cukup dekat. Adrian tersenyum puas. Ia terus menatap kearah Nisa. Nisa yang menyadari Adrian terus menatapnya membuat ia tak nyaman.


"Maaf tuan, apa yang ingin anda tanyakan," ujar Nisa gugup.


Suara Nisa menyadarkan Adrian dari lamunannya. Tapi Bukannya menjawab, Adrian malah mendekatkan wajahnya kearah Nisa. Makin lama makin mendekat. Kini jarak antara keduanya hanya beberapa inci.


Bukk


Secara refleks Nisa meninju wajah Adrian. Sebenarnya Adrian mendekatkan wajahnya kearah Nisa hanya untuk memastikan bau parfum yang digunakan Nisa.


"Aaaaaahh, " Adrian meringis kesakitan. Menutup wajahnya dengan tangan kanannya, terlihat darah segar mengalir dari hidung mancungnya.


Ah, aku pasti sudah gila! Bagaimana sampai aku memukulnya. Nisa


"Haaah! Maaf tuan, maafkan saya."


"Kau berani memukulku!" Kamu SAYA PECAT."


*****


Nisa terbangun dari tidurnya, membuka mata perlahan dan mengerjapkan beberapa kali. Nisa duduk diatas kasur menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan dan menyandarkan kepalanya pada dinding kamar.


Nisa mengingat kembali kejadian kemarin. Dimana ia memukul wajah Adrian yang ingin berbuat mesum pada dirinya dan kini ia telah kehilangan pekerjaan karena dipecat. Ia duduk terdiam, pandangan matanya melayang jauh. Bulir bening menetes membasahi pipi Nisa. Sesekali ia tersenyum. Mentertawakan takdirnya yang begitu kejam mempertemukannya dengan Adrian.


"Tidak. Aku tidak akan menyerah, aku harus mencari pekerjaan baru. Demi ibu dan adikku." Gumannya ia mengusap air matanya dengan tangannya.


Setelah menyemangati dirinya sendiri. Nisa melirik sebuah jam bulat dengan backgraund boneka doraemon yang tergantung rapi di dinding kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi. Terlalu dini untuknya bersiap-siap mencari pekerjaan, tapi matanya tak mau terpejam lagi. Akhirnya Nisa lebih memilih bangkit dari kasurnya.


Nisa melangkah menuju kamar mandi. Haaah, Nisa menghela napas berat. Entah sudah berapa banyak Nisa menghelaan napas, yang pasti sudah tidak bisa dihitung dengan sepuluh jarinya.


Nisa meraih gayung berwarna biru itu dan mengambil segayung air dan menyiramnya keatas kepalanya. Haaachhii, Nisa menggigil sampai suara bersinnya begitu keras. "Aih, apakah ini air yang baru keluar dari kulkas? Dingin sekali."


Haaachhii...., ia kembali bersin. "Bisa mati kedinginan aku." Nisa mempercepat gerakakn tangannya. Melakukan gerakan berulang mengambil air lalu menyiramkannya keseluruh bagian tubuhnya.

__ADS_1


Beeerrr..., Nisa menggigil haaachhiii..., entalah sudah berapa kali Nisa bersin. Ia menggosok bagian ujung hidungnya dengan jari telunjuk, membuat ujung hidungnya memerah.


__ADS_2