
Adrian menancap pedal gas meninggalkan parkiran. Dan ternyata dari kejauhan mobil sedang merek Honda Jazz berwarna hitam membuntutinya dari tadi dan mengikuti mobil Adrian dari belakang.
Setelah menelpon pak Joko Adrian melempar ponselnya keseberang arah. Tiba-tiba kaca mobilnya diKendor-kendor kasar oleh beberapa orang yang tak dikenal. Merasa dirinya terancam Adrian menancap pedal gas, malaju meninggal tempat itu.
Orang-orang itu kembali masuk kemobil mereka dan mengejar Adrian. Namun karena kepalanya masih terasa berat, belum beberapa meter Adrian membantin stir mobilnya dan menepihkan kendaraannya kegaris pemisah diantara jalan raya dan trotoar.
Ciiit....
Suara remnya mendecit diikuti ban mobil Adrian meninggalkan jejak di aspal jalanan. Adrian memegan kepalanya yang teramat pusing. Kalau pun ia tetap melanjutkan untuk menyetir mungkin ia akan mengalami kecelakaan.
Ia harus menelpon pengawalnya. Ia meraba-meraba mencari keberadaan ponselnya. Tapi entahlah ponselnya kececer dimana.
Tiba-tiba
Brukk
Mobil Adrian ditabrak dari belakang. Empat pria tak dikenal itu keluar dari mobil mereka dan memecah kaca mobil Adrian. Salah satu dari mereka menyeret paksa Adrian dari dalam mobil.
Adrian memberontak "Siapa kalian? Berani-beraninya kalian menyentuhku," bentak Adrian dengan suara tinggi.
"Hahaha...," mereka tertawa meledek. "Tuan muda, jangan membantah, menurutlah dan terima kematian anda." Ucap salah satu dari mereka.
"Berani sekali kalian mengancamku. Lepaskan aku." Ujar Adrian.
Karena Adrian terus memberontak maka tanpa basa basi mereka menghajar Adrian dengan sangat brutal. Adrian tak sempat untuk membalas karena kepalanya masih teramat berat dan pandangannya kabur.
Pak Joko yang melihat kejadian tersebut berlari dan membantu tuannya itu.
"Tuan muda..!!"
Bukk
Bukk
Pak Joko menghajar salah satu dari mereka. Maka terjadi baku hantam. Niat untuk membantu tuannya tapi malah ia juga dihajar habis-habisan oleh salah satu dari penjahat itu.
Karena melihat pak Joko sudah babak belur Adrian mencoba membuka mulutnya.
"Pak Joko pergilah dan cari bantuan." Ucap Adrian terbata-bata dengan menahan sakitnya dipukul berkali-kali.
"Baik tuan" Pak Joko lari untuk mencari bantuan.
"Kejar pak tua itu, jangan biarkan dia lolos." Ucap salah satu mereka.
🍁Disisi lain🍁
Jam pulang kerja. Nisa kembali kekosannya. Hari ini ia benar-benar sangat kelelahkan. Karena ia diperintah sana sini oleh Adrian. Setelah selesai sholat isya, Nisa langsung merebahkan tubuh dikasur reok miliknya. Dan tidak butuh waktu lama ia pun langsung terlelap.
Kruyuk....kruyuk
Nisa bangun dari tidurnya karena cacing-cacing diperutnya terus berteriak minta untuk diisi makanan. Ia pun bangun mencari-cari sesuatu dikamarnya mungkin ada sesuatu yang bisa dimakan. Tapi nihil tidak apa-apa selain air galon. Stok beras dan mie instannya sudah habis.
__ADS_1
Dengan terpaksa Nisa mengambil air dan menegukknya. Berharap dengan minum dapat menahan laparnya sampai pagi esok. Ia pun kembali tidur. Ketika ia mencoba memejamkan matanya, lagi-lagi cacing-cacing diperutnya terus berteriak.
Ia pun bangun kembali. Mengambil jaketnya dan keluar mencari makanan. Kini tibalah ia diwarung 24 jam. Karena sudah keroncongan Nisa memutuskan untuk makan ditempat.
Karena sudah tengah malam diwarung itu nampak sepi. Hanya terlihat sekitar 10 orang disana. Satu orang kasir, dan tiga pelayan, enam orang lainnya pelanggan yang sedang makan termaksud Nisa. Rata-rata mereka adalah laki-laki. Nisa tak peduli karena sudah kelaparan ia makan dengan lahapnya.
Setelah selesai makan ia pun langsung membanyar tagihannya dikasir.
"Berapa bang,?" Tanya Nisa.
"35 ribu mbak,"
Nisa merogok saku jeketnya dan mengambil uang disana.
"Ini uangnya, makasih ya bang."
"Iyah, sama-sama mbak," ucap pria itu mencoba mengoda Nisa dengan mengedip sebelah matanya.
Nisa bergidik ngeri dengan segerah ia keluar dari warung itu. Ketika sedang berjalan pulang. Dari kejauhan ia melihat pria tua sekitar umur 50 an dikejar-kejar oleh pria yang menggunakan penutup wajah, menggunakan pakaian serba hitam membuat penampilannya seperti ninja.
Pasti pria bertopeng itu mau melakukan kejahatan pikir Nisa. Ketika pak Joko sudah melewati Nisa dan pria ninja itu terus mendekat dan dengan sigap Nisa menyandung kaki pria itu dan membuat ia jatuh diaspal.
"Aaaaw sial," pria itu meringis kesakitan.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." Ucap Nisa meledek.
"Gadis tengik, berani sekali kau menyandung kakiku. Karena kau sudah lancang. Maka dari itu jangan salahkan aku kalau aku berbuat kasar padamu." Ancam pria itu.
"Hahaha....," Nisa tertawa sinis. "Baiklah, kalau begitu ayo maju." Ucap Nisa menggerakan tangannya.
Pria ninja itu mengambil pemanasan, menggerak-gerak kan kepalanya kiri dan kanan.
Kyaaa
Satu pukulan siap mendarat ditubuh Nisa. Dan dengan lincahnya Nisa menghindar. Nisa membalas menghajar pria itu dengan melayangkan satu bogem mentah pas diwajah pria itu.
Bukk
Pria itu Meringis kesakitan memegan wajahnya sendiri. Ketika pria itu lengah Nisa kembali melanyakan tendangan dan pukulan bertubi-tubi. Tidak butuh lama pria itu roboh bagai pohon kelapa yang tumbang.
Masih dengan napas yang ngos-ngosan Nisa berjalan kearah pak Joko "Bapak baik-baik saja kan.?" tanya Nisa
"Iyah, nona Terimakasih atas bantuannya." Ucap pak Joko membungkuk.
"Aahh, tak perlu seperti itu pak" Nisa menahan tubuh pak Jokoh.
"Tolong, tolong saya nona." Ucap pak Joko dengan terbata-bata.
"Tenanglah, katakan apa yang bisa ku lakukan untuk menolong anda?"
"Tolong bantu tuan saya, disana ada beberapa orang yang tak dikenal sedang memukul tuan saya, nona."
__ADS_1
"Baiklah, tunjukan padaku dimana tempatnya. Tapi sebelumnya bapak bereskan dulu pria ini." Menunjuk kearah pria ninja yang sudah bergeletak tak sadarkan diri diaspal.
"Apa yang harus ku lakukan dengan pria ini nona?" Tanya pak Joko polos.
Nisa memijat keningnya "Ikat pria itu jangan biarkan dia lolos, mungkin ia bisa kita jadikan bukti."
"Baik nona."
Setelah itu Nisa segerah menuju TKP dimana Adrian berada. Disana ia melihat tiga orang pria sedang menghajar seseorang.
"Hentikan, apa yang kalian lakukan? Kalian bisa membunuhnya?" Teriak Nisa.
Suara Nisa berhasil membuat tiga pria itu menghentikan pukulan mereka. Berbalik badan dan melihat kearah Nisa.
"Hah, ternyata hanya seorang gadis " Cibir mereka.
Berdecak pinggang. "Memangnya kenapa kalau aku hanya seorang gadis? Apa kalian pikir aku tidak cukup kuat untuk membuat tulang-tulang kalian patah?"
"Hahahaha....," tertawa meledek
"Kenapa kalian tertawa? Memangnya ada yang lucu?"
"Hei, gadis kecil jangan ikut campur dengan urusan kami. Sebaiknya anda pergi dari sini, sebelum kami melakukan kekerasan padamu."
"Oh, apa sekarang kalian mengancamku?" Nisa melipat tangan didada. "Apa kalian tidak sadar kalau sekarang kalian tinggal bertiga? Dimana teman kalian yang satu? Tanya Nisa santai.
Mereka saling melempar pandangan. Benar saja teman mereka yang mengejar pak Joko belum juga kembali.
"Sepertinya kita harus melenyapkan gadis ini. Akan berbahaya kalau kita melepasnya begitu saja." Bisik salah satu dari mereka.
"Iyah, tapi bagaimana kalau bos marah? Bos kan hanya menyuruh kita lenyapkan tuan muda Adrian." Tambah yang lain.
"Kita tak punya pilihan lain, gadis ini bisa jadi ancaman buat kita."
"Kenapa mereka berbisik-bisik? Pasti mereka sedang merencanakan sesuatu." Guman Nisa. Ia mengernyitkan alisnya, berpikir keras kira-kira apa yang ketiga pria itu rencankan.
Ketiga pria itu mendekat kearah Nisa. Langkah demi langkah mereka pun semakin mendekat. Nisa sudah siap dan memasang kuda-kuda.
Tanpa basa-basi lagi Nisa langsung menghajar tiga orang bertopeng ninja itu. Mereka bertarung sangat sengit 1 lawan 3. Nisa hanya lebam sedikit ia berhasil mengalahkan tiga pria tersebut dengan membidik titik-titik kelemahan mereka. Karena kelincahannya tidak salah kalau ia dinobatkan sebagai sabuk hitam tingkat 8.
Ketiga pria itu sudah dipenuhi luka lebam.
"Sepertinya gadis ini bukan gadis biasa. Ayo kita pergi dari sini. Kalau tidak mungkin kita yang akan mati." Ucap salah satu dari mereka.
Dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki, ketiga pria itu melangkah menujuh mobil mereka. Menancap pedal gas dan melaju meninggalkan Nisa.
Nisa masih memiliki hati nurani untuk melepaskan ketiga pria itu. Setidaknya ia sudah menangkap salah satu dari mereka untuk dimintai keterangan.
Disisi jalan ada pria lain tergeletak tak sadarkan diri. Dengan ragu-ragu Nisa melangkahkan kakinya kearah pria tersebut. Dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui siapa pria itu. Nisa menutup mulut dengan kedua tangannya.
Adrian pingsan tak sadarkan diri dengan dipenuhi luka lebam disekujur tubuh. Wajah tampannya sudah tak berbentuk lagi. Darah segar tak henti-hentinya mengalir dari hidung dan sudut bibir seksinya.
__ADS_1
Kemeja putih yang Adrian gunakan berubah warna menjadi merah. Nisa mengangkat kepala Adrian diatas pangkuannya. Ia melepas jaket hoodie yang ia kenangkan dan membungkus tubuh Adrian.
"Tuan, bangunlah tuan. Jangan mati dulu." Nisa terisak air matanya mulai merengsek keluar. Bulir mening mengalir diwajah mulusnya yang berakhir dijatuh diwajah Adrian.