
Malam harinya,
Waktu menunjukkan pukul 19.00, keluarga Malik sedang melakukan makan malam bersama, sedikit obrolan dan candaan mereka sematkan dalam makan malam tersebut.
Sepertinya rencana malam ini mereka batalkan, pasalnya sejak sore tadi, hujan turun begitu deras.
*********
Pukul 6.00 pagi. Dimansion para Art terlihat sangat sibuk, mereka menyiapkan segala keperluan yang dibutukan oleh mami Sinta dan Ririn.
"Mami, papi ayo. Cepat nanti kita bisa terlambat," teriak Ririn yang berada lebih dulu dibagasi mobil.
"Iyah nak, apa kau sudah menelpon kak Kevin,?" Seru mami Sinta yang berada di depan pintu utama, keluar menuju bagasi.
"Sudah mam,"
Pak Tono membuka pintu mobil untuk nyonya dan tuan besar, diikuti Ririn yang ikut masuk juga kedalam mobil. Beberapa Art dan pengawal mengikuti kemana tuannya pergi, mereka menggunakan mobil yang lain.
15 menit kemudian papi Gunawan dan rombongannya tiba ditempat tujuan. Disana sudah ada Kevin dan beberapa karyawan yang sudah menunggu mereka dilobby apartemen. Para karyawan berdiri berbaris menyambut kedatangan tuan besar sekaligus pemilik apartemen mewah ini. Para karyawan membungkuk hormat.
"Selamat pagi om, tante." Sapaa Kevin.
"Pagi nak Kevin," jawab mami Sinta dan papi Gunawan bersamaan.
"Apa pagi ini, Adrian tidak sibuk?" Papi Gunawan bertanya kepada Kevin.
"Sebenarnya ada rapat pagi ini, om. Tapi saya undur jadwalnya jadi jam 10."
"Berarti waktu kita hanya beberapa jam saja," mami Sinta terlihat sedikit tak bersemangat, andaikan tadi malam tidak hujan deras pasti, rencana mereka akan berjalan lancar.
__ADS_1
"Apa rapatnya tidak bisa tunda, nak Kevin?" Sambung mami Sinta.
Kevin menggelengkan kepala. "Maaf tante, ini rapat direksi dengan para pentinggi perusahaan jadi tidak bisa
Ditunda."
Mami Sinta tampak menghela napas dalam.
"Waktu kita tidak banyak. Sebaiknya kita segera keapartemennya saja." Mereka pun mangangguk, berlalu pergi meninggalkan lobby apartemen menuju lift.
Ting (lift terbuka)
Kini tibalah mereka didepan pintu apartemen milik Adrian. Ririn menyiapkan cake ulang tahun, tak lupa ia menghidupkan lilin dengan angka 28 diatas cake. Yah, hari ini adalah hari ulang tahun Adrian yang ke-28 tahun. Mami Sinta dan Ririn berencana memberikan sedikit surprise kepada Adrian.
sebenarnya sudah dari tadi malam Ririn dan maminya berencana memberikan kejutan kepada Adrian, tapi karena hujan begitu deras akhirnya mereka menundanya.
Para pengawal siap siaga berdiri dibelakang, menjaga keamanan, dan para Art berdiri berjejer tak jauh dari tempat dimana Ririn dan kedua orang tuanya berada. Sementara itu, Kevin sudah disiap dengan party papper ditangannya, siap-siap menembakkannya ketika Adrian buka pintu.
Ting nong......
Ting nong......
Beberapa kali Ririn, memencet bel apartemen tapi kakaknya itu belum juga membukakan pintu. Ririn menggerutu kesal,
Kak Adrian itu, tidur apa mati sih, umpatnya dalam hati ia mencebikkan bibirnya.
Sementara ditempat lain.......
Nisa tidur begitu nyenyak diatas ranjang king size, kasur empuk, membuat gadis itu enggang untuk bangun dari tidurnya. Ia lupa kalau sekarang ia berada diapartemen bossnya.
__ADS_1
Bel terus berbunyi, mengganggu tidur nyenyak Nisa, tubuh gadis itu menggeliat. Matanya mulai mengerjap dan menarik tubuhnya merenggangkan otot-otot kakunya. Membuka mata perlahan menetap ruangan mewah itu.
Dengan langkah malas ia pun beranjak bangkit dari kasur,melangkah gontai menuju pintu.
*****
Ting nong
Ririn terus memencet bel, setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pintu dibuka.
"Surprise, selamat ulang tahun ka........," ucap mereka bersamaan dengan senyum mengembang diwajah mereka. Mereka sangat terkejut ketika mengetahui bukan Adrian yang membuka kan pintu, melainkan Nisa.
Gadis itu juga tak kalah kaget, matanya melotot hampir jatuh, setelah mengetahui siapa yang datang. Keluarga Malik. Ayah, ibu dan Ririn, serta empat orang Art dan empat orang pengawal. Dan tak lupa ada Kevin juga, disana.
"Siapa yang datang.?" Tanya Adrian yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Nisa memutar badannya diikuti dengan kepalanya, melihat kearah sumber suara. Gadis itu sangat terkejut sampai tubuhnya ikut terjungkit, ketika mendapati Adrian yang berada tepat dibelakangnya. Bukan keberadaan Adrian yang membuat Nisa kaget sampai jantungnya mau copot, tapi penampilan Adrian.
Tidak mengenangkan baju, hanya menggunakan celana pendek santai. Dengan bagian dada yang terbuka sepenuhnya seluruh ototnya terekspos. Roti sobek itu membuat Nisa menelan salivanya. Sungguh memalukan, pikirnya.
Kenapa anda tidak pake baju, tuan.? Apa yang dipikirkan orang nanti. Bagaimana ini, pasti tante Sinta dan Ririn akan salah paham. hiks...hiks, Nisa menangis dalam hati.
Sama halnya dengan Nisa. Mami Sinta, Ririn, papi Gunawan, Kevin, dan beberapa assisten rumah tangga yang turut hadir juga tak kalah kaget. Niat mereka untuk memberi kejutan kepada Adrian karena hari ini tepat ulang tahunnya yang ke 28, tapi malah mereka yang dibuat terkejut oleh panampakan didepan mereka ini.
Kening Ririn berkerut heran, diikuti dengan kedua alisnya.
Oh Tuhan.... kenapa Nisa bisa berada apartemen kak Adrian?kak Adrian tidak pernah mengizinkan siapa pun menginap apartemennya, sekali pun itu Tifani (mantan kekasih Adrian) Apa mereka sudah resmi pacaran? Batin Ririn bertanya-tanya.
Adrian sangat menjaga privasinya, ia tidak mengizinkan siapa pun menginap diapartemennya, bahkan Tifani mantan kekasihnya. Yang Ririn ketahui, Tifani sering berkunjung keapartemen kakaknya tapi, tidak sampai menginap.
__ADS_1
Wah, sepertinya akan ada kabar menarik, boss. Kevin tersenyum sarkas.
Hening.... mereka semuaberperang dengan pikiran masing-masing. Melihat ekspresi mereka Nisa menggelengkan kepala mengisyaratkan bahwa kejadian yang sebenarnya tidak seperti yang kalian lihat.