
Suara Adrian menggelegar memenuhi hampir seluruh ruangan yang luas itu. Semua orang disana menunduk dan memberikan jalan kepada orang no satu diperusahaan itu.
Mendengar suara Adrian sontak saja membuat mereka berempat berhenti bertengkar. Mencoba merapaikan kembali wajah, rambut dan pakaian mereka yang berantakan.
Nisa mencoba menundukkan kepalanya lebih dalam, berharap Adrian tak mengenalinya. Entah semurka apa Adrian jika mengetahui ia telah melakukan kekacauan untuk yang sekian kalinya.
Tapi apa yang dipikirkan Nisa salah, walaupun ia mencoba menghindar tapi Adrian sudah sangat mengenalinya. Tatapannya tidak lepas dari wanita itu.
Kita bertemu lagi gadis bodoh. Adrian
"Kalian, ikut saya keruangan" titah Adrian. Tatapannya tidak lepas dari Nisa. Berbalik dan melangkah meninggalkan kantin.
Dengan perasaan campur aduk Nisa dan ketiga gadis itu mengekori Adrian dari belakang.
☘Diruangan presider☘
Nisa dan ketiga gadis tersebut berdiri berjejer sangat rapi. Mereka seperti anak SD yang dihukum gurunya karena tidak membuat tugas, Adrian berdiri didepan mereka. Ditempat lain diruangan yang sama terlihat ibu Sinta dan Ririn duduk disofa yang berada disisi ruangan.
Ririn begitu terkejut ketika melihat Nisa masuk diruangan bersama ketiga gadis lainnya. Dengan penampilan yang acak-acakkan. Apa yang terjadi? Ingin rasanya ia menghampiri Nisa dan menanyakan apa yang terjadi dan mengapa mareka sampai dipanggil ke ruangan kak Adrian. Tapi ia tak mungkin ia bertindak sejauh itu karena Adrian terlihat sangat marah.
Nisa meremas ujung bajunya untuk menghilangkan rasa gugup.
Nisa kenapa kau sangat ceroboh. Kenapa kau terpancing emosi?, tamatlah riwayatmu, karirmu akan berakhir hari ini dan kau ditendang dari sini. Nisa
Nisa menggerutuhi kebodohannya. Walaupun ia berpihak pada kebenaran tapi ia sudah menyebabkan keributan yang membuat heboh sejagad raya. Apakah Pekerjaan yang ia impi-impikan selama ini akan hilang dalam hitungan menit? Entahlah ia hanya bisa berharap keberuntungan berpihak padanya.
Adrian berdiri didepan mereka, melipat tangan didada dengan muka datar dan tatapan yang mematikan.
"Apa kalian pikir kantorku ini tempat taman kanak-kanak hah? Bentak Adrian
Menatap kearah Nisa "Aku gaji kalian untuk berkerja, bukan untuk membuat keributan" lanjutnya.
"Katakan, apa penyebab sampai kalian membuat keributan di kantorku?
Mereka hanya diam tak berani membuka suara.
"Baiklah, kalau kalian tidak mau menjawab. Aku sendiri yang akan cari tau, tapi setelah itu siap-siaplah angkat kaki dari sini" titah Adrian
__ADS_1
"Jan-gan pe-cat kami tuan, maaf-kan lah kami tuan" ucap salah satu dari mereka dengan suara terbata-bata. Sedangkan Nisa ia lebih memilih diam.
Dengan perasaan takut, akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri untuk membuka mulut, ia pun menceritakan semuanya kejadian tersebut.
"Maafkan kami tuan" nampak wanita itu menyatukan kedua telapak tangannya seraya meminta permohonan pada Adrian. "Maaf atas kelancangan kami tuan" lanjutnya.
Adrian sangat geram, rahangnya terlihat mengerang dan urat leher yang menegang. Ia mencoba mengontrol emosinya karena ada ibu dan adiknya disini.
"Apa kalian tau siapa yang kalian membicarakan itu?" Bicara dengan nada penuh penekan
Dia!!" menunjuk kearah Ririn.
"Dia adikku, Putri kedua dari keluarga Malik. Siapa kalian berani-beraninya mencaci adikku" lanjutnya.
Deeerrr
Bagai disambar petir disiang bolong, perkataan yang keluar dari mulut Adrian sungguh membuat Nisa bagai dihantam badai. Ia sangat terkejut sampai tanpa sadar ia mendongakan kepala melihat kearah Ririn yang duduk disofa. Matanya menatap Ririn seolah-olah meminta penjelasan.
Nisa selalu positif thingking, mungkin ada alasan tertentu yang menyebabkan Ririn menyembunyikan identitasnya. Tapi kenapa waktu itu Adrian dan Ririn mengaku sebagai pasang kekasih dan apakah dirinya diterima di perusahaan MC Group karena bantuan dari Ririn?
Pertanyaan konyol itu seolah-olah melayang-layang dipikiran Nisa. Ia tidak tenang ia harus menanyakan sendiri pada Ririn. Tapi mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.
"Maafkan aku Nisa" lirihnya.
Ibu Sinta yang duduk disamping Ririn, mendengar anaknya itu menyebut nama Nisa membuat ibu Sinta melirik pada keempat gadis yang posisi mereka tidak jauh dari sofa.
Tapi ia tak bisa melihat dengan jelas karena posisi mereka berdiri menyamping.
Menunjuk kearah tiga wanita didepannya. " kalian Saya pecat" tutur Adrian dengan suara tegas.
Melirik kearah Nisa"Dan kau, aku akan menghukummu atas kekacauan ini" lanjutnya.
Nisa merasa lega karena ia tak dipecat dan apapun hukuman yang akan ia dapat, ia akan menerimanya dengan lapang dada.
Berbeda dengan tiga gadis yang berada disamping Nisa mereka menangis minta pengampunan tapi nampaknya Adrian tidak memberi ampun kepada orang yang sudah mencaci adiknya.
"Cepat keluar dari ruanganku" titanya.
__ADS_1
"Baik tuan" ucap mereka bersamaa.
Ketika hendak melangkah keluar tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya.
"Nisa, apakah itu dirimu?"
Merasa namanya dipanggil dengan ragu-ragu ia
Berbalik. Memicingkan matanya
Tante Sinta? Sedang apa tante disini. Nisa
"Wah, benar itu kamu" ucap ibu Sinta, berjalan menghampiri Nisa.
Tersenyum kecut "Tante Sinta" gumannya.
Ibu Sinta sudah berdiri didepan Nisa dan memeluknya. Nisa berdiri kaku dan tidak membalas pelukan ibu Sinta. Otaknya kembali bertanya-tanya. Sedang apa tante Sinta disini? Dan apa hubungan tante Sinta, Ririn dan Adrian. Ingin sekali ia menanyakan itu tapi ia tak punya nyali untuk bertanya. Huff entah kejutan apa lagi yang akan ia dengar.
Sedangkan diruangan yang sama Ririn dan Adrian saling melempar pandangan. Bingun dengan sikap mami mereka yang tiba-tiba memeluk Nisa.
Melepaskan pelukan sambil tersenyum "Nisa, tante senang bisa bertemu lagi denganmu" ucap ibu Sinta.
"Iyah tante, Nisa juga senang bisa bertemu lagi dengan tante" tersenyum kaku.
"Pasti kamu belum makan kan? Ayo kita makan sama-sama" menarik tangan Nisa.
"Nisa sudah makan tante" tolaknya halus.
Walaupun sebenarnya ia masih lapar tapi ia lebih memilih cepat-cepat keluar dari ruangan megah dan nyaman ini tapi membuat sesak didada.
"Jangan menolak, tante tau kamu pasti belum makan siang dengan baik" menarik tangan Nisa dan memuntunnya menuju sofa.
Nisa mendudukkan bokongnya disofa yang empuk itu dengan posisi ibu Sinta disamping kirinya dan diseberang meja terlihat Adrian dan Ririn duduk berdampingan. Lagi-lagi ia meremas jari-jarinya untuk menghilangkan rasa gugupnya.
"Oyah Nisa, kenalkan ini kedua anak tante" menunjuk kearah Adrian dan Ririn.
Nisa terkejut, matanya melotot tidak percaya. Terlalu banyak kejutan hari ini sehingga membuat kepalanya menjadi pusing.
__ADS_1
"Oyah, nak kenalkan ini Nisa. Dia orang yang telah menolong mami waktu" lanjutnya.
Terlihat senyuman tipis dibibir seksi Adrian. Senyuman terima kasih karena sudah menolong orang yang paling berarti dan hidupnya dan terlintas di otaknya memikirkan ekspresi menggemaskan Nisa saat melawan perampok-perampok itu.