
Tiga hari dirumah sakit, kini Adrian sudah diperbolehkan pulang. Mobil yang ditumpangi Adrian menyusuri jalanan yang mulai lenggang. Mobil melaju dengat cepat masuk kedalam gerbang besar dan sampailah di kediaman Malik. Adrian keluar dari mobil sementara bi Ina sudah menunggu didepan pintu dan berjalan mendekat.
"Selamat datang tuan muda."
"Pulang dan istrahatlah" Katanya pada Kevin. Adrian mengerti sahabatnya itu pasti merasa lelah, sepulang kerja harus menjemput dan mengantarnya kembali ke mansion.
Kevin yang sudah mau ikut masuk menghentikan langkah kakinya. "Baik boss. Selamat istirahat." Menunggu sampai Adrian masuk kedalam rumah. Baru ia berbalik menuju mobil yang ia kendarai tadi. Keluar dari gerbang utama.
Adrian menaiki tangga dan menghilang menuju kamarnya. Masuk kedalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat dibathup. Ia berendam menyandarkan kepala pada sisi bathup. Bayangan buram seperti film berputar dikepalanya.
Mengingat kembali kejadian lima tahun yang lalu. Saat ia masih menjaling kasih dengan Tifani. Adrian mengambil napas dalam, mungkin sudah saatnya ia membuang kenangan manisnya bersama Tifani.
Selesai mandi Adrian keluar dan melangkahkan kakinya ke ruang walk in closet. Mengambil pakaian santai dan mengenankannya.
Ia melirik paper bag yang berada diatas meja. Mengambil dan menatap jaket tersebut. Tiba-tiba seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya.
Tok..tok,
"Masuk."
Pelayan itu masuk kedalam kamar dengan langkahnya yang pelan sambil menunduk.
"Ada apa.?" Tanya Adrian dengan wajah datarnya.
"Nyonya sudah masak makan malam untuk anda tuan muda. Nyonya menyuruh saya untuk memanggil anda tuan."
"Baiklah, aku akan turun sebentar lagi."
Setelah pelayan itu pergi ia kembali menatap jaket milik orang yang menolongnya malam itu. Mengusapnya dengan lembut.
Andaikan tuhan berkehendak, aku ingin sekali bertemu denganmu. Mengucapkan terima kasihku karena sudah menolongku malam itu. Adrian.
Setelah puas menatap jaket milik Nisa. Adrian keluar kamarnya dan turun kebawah. Ia berjalan menuju ruang makan. Disana sudah terlihat ayah, ibu dan adiknya duduk dimeja makan sambil menunggu dirinya.
"Selamat malam semuanya." Sapaa Adrian.
"Malam nak." Jawab pak Gunawan.
"Malam kak,"
"Malam sayang, bagaimana keadaanmu, nak?" Tanya ibu Sinta.
"Aku baik-baik saja, mami." Jawab Adrian. Setelah itu mereka makan tanpa ada yang bersuara.
******
Nisa kembali masuk kantor dengan ceria. Seperti biasanya ia selalu bersikap ramah kepada orang yang melihat kearahnya. Ia masuk kedalam lift dan segerah menekan tombol 5 lantai dimana tempat devisinya berada.
Hari ini Adrian kembali masuk kerja setelah empat hari libur. Pria bertubuh jangkung menggunakan setelan jas berwarna navy, berjalan kearah lobby, melewati seluruh pegawai yang memberikan sambutan kepadanya dengan tatapan dingin dan langkah yang sangat elegan yang memang berperawakan pria ideal membuat hati para wanita ingin memujanya.
Walau masih terlihat sedikit luka lebam diwajahnya tapi itu tidak mengurangi kadar ketampanannya. Didampingi Kevin disampingnya Adrian melangkah menuju lift. Adrian yang baru saja masuk kantor segerah keruangannya.
Sebelum duduk dikursi kebesarannya Adrian melirik tumpukan berkas yang tersusun diatas meja. Ia menghela napas berat
"Bacakan jadwalku hari, Kevin." Perintah Adrian.
"Pagi ini boss ada meeting. Setelah itu boss akan memeriksa beberapa berkas pengajuan kerja sama dengan perusahan minyak dari Negara A." Jelas Kevin.
"Persiapkan meetingnya sekarang, dalam dua menit mereka semua harus ada diruang meeting." Perintah Adrian.
__ADS_1
"Baik boss."
Kevin langsung pergi untuk mempersiapkan meeting. Tak lama kemudian ia masuk kedalam ruangan Adrian.
"Boss, semua orang sudah berkumpul diruangan meeting."
"Baik."
Mereka berdua berjalan menuju ruang meeting. Ketika sampai Adrian langsung masuk dengan gaya dinginnya didepan para karyawan. Mereka semua berdiri menyapa Adrian.
"Selamat pagi, tuan muda." Sapaa mereka bersamaan.
Adrian duduk tanpa membalas sapaan mereka.
"Kevin." Panggil Adrian.
Kevin sudah mengerti, dengan sigap Kevin menyuruh mereka memulai meetingnya. Meeting pun dimulai.
Adrian hanya bersandar dikursi sambil memejamkan matanya mendengar presentasi yang disampaikan karyawannya.
"Cukup, apa yang kalian kerjakan selama ini? Bergosip?" Tanya Adrian menatap semua karyawan dengan dingin.
"Perusahaan membayar kalian untuk bekerja. Aku butuh satu proposal yang bagus. Revisi ulang proposal kalian. Yang memiliki proposal bagus akan langsung memegang proyeknya tapi bagi yang tidak memuaskan kalian langsung kupindahkan kekantor cabang." Ucap Adrian membuat semua orang yang ada diruangan merasa terintimidasi.
"Baik tuan muda." Ucap mereka bersamaan.
Mereka semua terlihat khawatir dan takut karena ancaman Adrian pada mereka. Kalau mereka sampai dipindahkan ke kantor cabang, itu berarti jabatan dan gaji mereka turun.
Setelah selesai meeting, Adrian keluar ruangan meeting menuju ruangannya sedangkan Kevin kembali keruang kerjanya. Ia duduk dikursinya disambil memeriksa beberapa berkas.
Kruyuk.... kruyuk
Ditempat lain.
Nisa sibuk memeriksa beberapa berkas.
Ping (Notifikasi pesan masuk)
Bos gila: Segera keruanganku.
Dengan langkah malas Nisa menuju keruangan Adrian. Masuk kedalam lift menekan angka 20. Tiba dilantai 20 ruangan khusus CEO. Nisa menatap sebentar kearah pintu yang bertuliskan CEO MC Group. Menarik napas dalam, ia pun mengetuk pintu.
Tok.... tok,
Adrian yang mendengar ketukan pintu langsung mempersilahkan masuk.
"Masuk,"
Ceklec (suara pintu dibuka)
Nisa segera masuk. Kakinya mulai terasa kaku dan berat. Setiap masuk kedalam ruangan Adrian, Nisa selalu merasakan hawa mematikan seperti masuk didalam kandang macan. Melangkah perlahan menuju meja Adrian yang sedang sibuk memeriksa berkas ditangannya.
Berdiri tepat didepan meja kerja Adrian. CEO angkuh itu tidak mengeluarkan sedikit kata dari mulutnya. Nisa tetap diam tanpa memandang kearah Adrian dan sedikit menunduk.
Apa pria sombong ini menyuruhku keruangannya hanya untuk berdiri.? Nisa.
Akhirnya Adrian merubah posisinya. Menarik bangkunya dekat bersandar kemeja kerjanya. Lalu tangan dilipat untuk menopang dagunya.
"Ehem," Adrian berdehem. "Apa kau tau kesalahanmu hari ini,?" Tanya Adrian.
__ADS_1
Nisa mengerutkan dahinya, berpikir keras kesalahan apa yang ia lakukan hari ini, otaknya mengingat-mengingat kembali tapi perasaan ia tidak berbuat kesalahan apapun.
"Kenapa diam," suara Adrian menyadarkan Nisa dari lamunannya.
"Eh, maaf tuan tapi, saya rasa saya tidak melakukan kesalahan apapun." Ucap Nisa penuh keyakinan.
"Cih, hari ini kau lupa membuatkan aku teh. Atas kelalaian mu dalam bekerja maka dari itu gajimu saya potong."
"Apa.!! Mana bisa begitu tuan. Dan lagian saya tidak tau kalau hari ini anda masuk kerja." Protes Nisa tidak terima gajinya dipotong karena hanya masalah sepele.
"Kau,! Berani-beraninya kau membangkang. Kalau kau tidak terima gajimu dipotong, silahkan ke ruangan HDR mengambil surat pengunduran dirimu sekarang."
Cih, kau benar-benar pria yang sangat kejam. Untung kau bossnya disini. Kalau tidak, sudah dari tadi aku lanyangkan satu bogem tepat diwajah dinginmu itu. Nisa mengumpat Adrian dalam hati.
"Berani melototi ku."
"Tidak tuan."
"Belikan aku makanan untuk makan siang. 15 menit harus sudah tiba disini. Kalau terlambat gajimu saya potong." Ancam Adrian.
Aku menyesal pernah menolongmu tuan. Pria tak ada hati sepertimu pantas mati dan tenggelam dilautan nereka. Nisa
"Baik tuan," Nisa berbalik dan melangkah dengan menghentak-hentakan kakinya dengan keras dilantai melampiaskan segala kekesalannya pada Adrian karena seenaknya mengancam dan memotong gajinya.
Setelah Nisa keluar dari ruangan Adrian. Beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk."
Seorang wanita cantik langsung masuk dan berjalan kearah Adrian yang sedang duduk dikursi kerjanya. Adrian menyipitkan matanya memandangi wanita yang masuk kedalam ruangannya.
"Siapa yang menyuruhmu masuk, Tifani.? Terdengar suara Adrian sangat dingin. Tifani memasang senyum tak tau diri. Ia mencoba menenggelamkan rasa tidak nyamannya ketika mendengar nada suara Adrian.
"Maafkan aku, Adrian. Sepertinya karena dulu aku sudah terbiasa masuk saja dan bertemu denganmu, aku lupa membuat janji."
Tifani perlahan mendekat dengan langkah gemulai. Wajahnya diatur sepolos mungkin tak lupa ia memasang senyuman manis yang dulu berhasil membuat Adrian mencintainya setengah mati.
"Katakan cepat apa keperluanmu. Karena sungguh aku sangat sibuk."
"Cepatlah,! Sebentar lagi aku ada meeting." Sebenarnya meeting sudah selesai.
"Aku datang bertemu denganmu hanya untuk meminta maaf." Ujar Tifani. Adrian menyerngitkan keningnya mendengar ucapan Tifani.
"Kenapa kau meminta maaf? Apa kesalahanmu?" Ucap Adrian datar.
"Aku sangat menyesal, Rian. Bertahun-tahun aku memikirkan cara agar bisa datang dan mengucapkan permohonan maafku padamu." Tifani mendekati Adrian dan perlahan-lahan duduk disamping laki-laki itu.
"Sudah kumaafkan, jadi kau boleh pergi. Tau pintu keluarnya kan.?" Ujar Adrian dengan nada dingin dan datar. Tifani kehabisan akal matanya mulai berkaca-kaca, ia terisak pelan dengan wajah menunduk, membuat Adrian menoleh kearahnya.
"Aku mohon padamu, bisakah kita mulai dari awal lagi, Rian? Aku tau aku melakukan kesalahan. Tapi aku akan melakukan apapun untuk memperbaikinya."
Adrian menatap dengan alis terangkat. Tidak mengerti dengan maksud wanita ini. Kebersamaan mereka sudah lama berakhir lima tahun yang lalu dan wanita inilah yang menghianatinya.
Tifani mengulurkan tangan memegan wajah Adrian, dengan mata sendu menatap kearah mata Adrian. Kedua manik itu kembali beradu tatap.
"Aku masih mencintaimu, Rian." Lalu dengan perlahan Tifani memajukan bibirnya. Menyantuhkan bibirnya padà bibir Adrian. Wanita itu mencium dan ******* bibir Adrian sangat mesra. Adrian hanya diam dan tak bereaksi.
Suara pintu yang diketuk tidak terdengar oleh dua insan yang sedang berbagi ciuman. Hingga membuat Nisa langsung saja membuka pintu karena ketukannya tidak direspon. Ia mengira Adrian sedang tidak ada diruangannya.
Langkah Nisa berhenti tiba-tiba.
__ADS_1