
Pagi ini Lia dibangunkan oleh dering diponselnya. Sengaja dia selalu Full volume saat mau tidur. Biar langsung bisa bangun kalau ada yang menelpon. Ya, Lia termasuk wanita yang sangat sulit bangun pagi. Kadang dengan bunyi alarm saja hanya bisa membuatnya mengubah posisi. Biasanya mba Yuli yang akan membangunkannya. Atau suara ponselnya yang kencang dan bunyi berkali - kali yang mungkin bisa membangunkannya.
"Ya...." jawab Lia dengan suara masih parau tanpa melihat lagi siapa nama yang tertera di ponsel nya.
"Hai, nona manis... Hmmm, pasti baru bangun" ternyata Anton yang berhasil membangunkan tidurnya kali ini.
"Eh iya Ton, duh maaf aku baru bangun. Ada apa Ton" jawab Lia yg terkejut saat mengetahui bahwa Anton yang menelponnya.
"Pasti cantik kalau bangun tidur" goda Anton pada Lia.
"Ah, kamu pagi - pagi udah gombalin aku" ucap Lia sambil berusaha bangun.
"Aku jemput kamu ya Lia? ada hal penting yang mau aku bicarakan" Anton melanjutkan kata - katanya yang terdengar agak serius.
__ADS_1
"Oke, aku siap - siap dulu ya. Jam 10 aja jemputnya" jawab Lia, kemudian mereka mengakhiri panggilan teleponnya. Lia bergegas menuju kamar mandi dan segera bersiap - siap.
Setelah rapih, Lia menuju rang makan yang sudah terlihat mba Yuli di sana. Mba Yuli membuatkan Lia sarapan nasi capcay udang dengan perkedel. Mamahnya sudah berangkat sangat pagi, Vika dan Rico juga sudah berangkat dari jam 8 pagi. Sang papah masih berada diluar negeri, entah kapan akan kembali.
Tak lama bel pun berbunyi, Saat dibuka oleh mba Yuli, ternyata Anton yang berada didepan pintu. Mba Yuli akhirnya mempersilahkan Anton masuk keruang tamu. Tapi Lia menyuruhnya masuk keruang makan dan ikut sarapan bersamanya. Awalnya Anton menolak, tapi melihat Lia penuh harap, akhirnya mereka sarapan bersama.
Setelah menikmati sarapan pagi, Akhirny Anton mengajak Lia kesebuah kedai kopi langganannya. Dia memesan kopi hitam, dan Lia memesan capuchino. Mereka menikmati hidangan kopi sambil membahas masalah yang sedang dihadapi oleh Anton.
"Li, aku udah gak mengerti harus bagaimana menghadapi Serena. Dia makin mendekati hari pernikahan, sikapnya malah semakin aneh. Aku jadi tidak bisa bergerak. Aku semakin dikekang olehnya" cerita Anton kepada Lia.
"Aku cape Li. Aku sudah berusaha menjadi laki - laki yang bisa membahagiakannya. Tapi semuanya nol dimatanya. Sampai kapanpun aku gak akan bisa jadi laki - laki yang bisa mengerti dia. Karena aku sendiri gak bisa mengerti apa maunya dia" lanjut Anton sambil memegang rambut dengan kedua tangannya, lalu menunduk.
"Aku berfikir akan membatalkan semuanya Li, bagaimana menurut kamu?" lanjut Anton.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa mengerti keadaan kamu ini Ton, aku sendiri tidak pernah bisa mengerti laki - laki".
Lia pun bingung harus bagaimana. Dia selalu menjadi konsultan cinta buat para kliennya, tapi dia sendiri tidak bisa bijak dalam menghadapi masalah percintaannya.
"Aku juga gak tau harus bagaimana ya Ton. Tapi mungkin sebaiknya kamu bicarakan dengan Serena dengan kepala dingin. Ajak dia makan malam. Mungkin karena kesibukan kalian mempersiapkan pernikahan ini, kalian jadi lupa dengan perasaan kalian masing - masing" jawab Lia sebisa mungkin menjadi orang yang bijaksana.
Padahal dia sendiri tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan. Dia sama sekali tidak mengerti bagaimana keinginan laki - laki. Bagaimana bicara sama laki - laki dengan hati. Selama dia berpacaran, dia yang selalu ditinggalkan. Dia yang selalu merasakan sakit. Padahal Lia selalu setia, selalu menuruti apa yang pasangannya inginkan. Tapi semua percuma, selalu saja dia yang ditinggalkan.
"Ayolah Ton. Kebahagiaan kalian tinggal selangkah lagi" ucap Lia masih dengan kata - kata bijak. Lalu memegang tangan Anton. Dan Anton pun membalas menggenggam tangannya. Memang inilah yang biasa mereka lakukan, karena mereka merasa bersahabat, mereka hanya ingin menguatkan satu sama lain.
Waktu berjalan sangat cepat, Farah sudah menelponnya berkali - kali, karena ada masalah dengan kliennya yang lain.Katanya telah terjadi pertengkaran calon pengantin yang berakibat pembatalan acara.
Lia sudah biasa menghadapi masalah ini. Dia sangat menyadari tidak mudah masuk kedalam hati orang - orang yang sedang emosi. Padahal, memecahkan masalah yang melibatkan rasa cinta, dimulai dari masuknya kata - kata yang bisa diterima hati.
__ADS_1
Dan Lia sangat tidak ingin sahabatnya mengalami hal ini.
\=\=\=\=<>\=\=\=\=