Cinta Bayangan

Cinta Bayangan
Atma


__ADS_3

Malam ini tampak bulan berbentuk sabit. Beberapa bintang juga terlihat menemani. Mereka berlomba bersinar. Jadi nampak berkelap - kelip dilangit. Terlihat sangat Indah sekali.


Lia ikut keluar bioskop untuk mengejar Atma. Vika dan Farah yang tidak mengerti, akhirnya ikut - ikutan keluar, tapi sayang, mereka kehilangan jejak Atma dan Lia.


Lia terus mengejar Atma sampai ketempat parkir. Dengan nafas terengah - engah, Lia memanggil Atma yang hendak memasuki mobilnya.


"Atma ... tunggu"


Atma yang mendengar namanya dipanggil dengan jelas, kemudian melihat kearah suara. Tampak Lia yang masih berlari menghampirinya. Atma hampir tak percaya kalau Lia mengejarnya. Akhirnya Atma membatalkan masuk kedalam mobil. Pikirannya dipenuhi kekaguman kepada wanita di hadapannya sekarang. Atma menyenderkan badannya dipintu mobil dengan menyilangkan kaki, dia akhirnya menunggu Lia berbicara. Karena terlihat sekali Lia masih kesulitan mengatur nafasnya. Keringat juga memenuhi dahinya.


"Aku minta maaf Atma. Aku beneran gak sengaja" ucap Lia setelah berhasil menguasai nafasnya.


"Ya udah, gak apa - apa" jawab Atma berusaha cuek.


"Bagaimana kalau kita kembali kedalam" lanjut Lia, karena dia ingin menebus kesalahannya.


Tapi Atma malah terlihat marah.


Menurut kamu, aku akan berdiam didalam sana dengan pakaian basah dan lengket seperti ini?" jawab Atma dengan menahan amarah.


"Bukan gitu.. Tapi.." Lia berusaha menjelaskan, tapi Atma memotong kata - katanya.


"Ya udah, aku mau pergi" lanjut Atma sambil membuka pintu mobilnya.


"Aku ikut kamu ya" ucap Lia cepat agar Atma tidak langsung menaiki mobilnya.


Ternyata benar, Atma mengurungkan niatnya untuk pergi.


"mau ngapain lagi sih dia minta ikut" dalam hati Atma.


"Mau ngapain kamu ikut?" jawab Atma tak percaya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertanggung jawab" Lia menjawab penuh harapan.


Atma terlihat berfikir. Tapi akhirnya menyetujui Lia ikut dengannya.


"Baiklah. Ayo naik" Atma mempersilahkan Lia masuk kedalam mobilnya.


Senyumnya terlihat, walaupun Lia tidak menyadarinya. Atma merasa wanita disampingnya ini wanita yang hebat, pantang menyerah, dan berani bertanggung jawab. Padahal dia baru saja mengenalnya. Jarang sekali wanita akan melakukan apa yang Lia lakukan sekarang. Terlebih lagi dengan status ekonominya. Seorang owner berani melakukan hal seperti ini. Mengejar dan meminta maaf. Lalu masih berusaha bertanggung jawab.


"Aku telpon Farah sama Vika dulu ya, Mereka pasti bingung" ucap Lia membuka pembicaraan.


Dan Atma hanya mengangguk, tanpa berpaling melihat Lia.


"Ah,, cowok ini dingin banget sie" Lia protes dalam hati.


"Hallo Far, aku pergi dulu ya sama Atma, mau cari baju. Kamu pulang aja bawa mobil aku. Besok pagi bawa aja kekantor mobilnya" suara Lia diponselnya yang sedang menghubungi Farah.


"Ohh gitu, terus nanti kamu pulangnya gimana Li?" tanya Farah.


"Iya gampanglah Far, ya udah aku tutup ya" ucap Lia ingin mengakhiri pembicaraannya dengan Farah .


"Bye" ucap Lia.


Lia kemudian menghubungi Vika, dia lalu menceritakan kejadiannya dengan Atma, dan menyuruh Vika untuk pulang duluan . Vika akhirnya menurut tanpa membantah sedikitpun.


Akhirnya mereka sampai pada satu butik khusus laki - laki yang terlihat lumayan lengkap. Lia memilihkan baju dan celana untuk Atma, tapi Atma menolak. Pilihan Lia tidak sesuai dengan seleranya. Akhirnya Atma mengambil celana gunung sedengkul warna coklat muda dengan kaos polos warna biru .


Lia berfikir "dokter koq seleranya gaul banget. aku pikir dia akan memilih baju kemeja dan celana panjang. hmmm"


Atma langsung memakai baju dan celana yang baru saja dia pilih. Lalu Lia pergi ke kasir ingin membayar belanjaan Atma. Tapi Atma menolak. Dia langsung memberikan kartu debitnya kepada kasir untuk membayar sendiri belanjaannya. Lia hanya bisa bengong, bingung atas semua sikap Atma.


"Dia tadi marah banget, koq sekarang manis banget gini sie" pikiran Lia kemana - mana memikirkan sifat laki - laki aneh yang sekarang berdiri tepat didepannya.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Atma melihat Lia bingung.


"Ya aneh aja, kenapa kamu gak mau aku bayarin belanjaannya? Kan aku yang harus bertanggung jawab" kata Lia mengutarakan keheranannya.


Atma tersenyum mendengar pertanyaan Lia Tapi dia tidak menjawabnya. Lalu melangkah menuju mobil. Lia terpaksa akhirnya mengikuti Atma.


"Tanggung jawab bukan hanya berbentuk materi nona. Dengan kamu mengejar saya, dan ikut sampai disini dengan saya, itu sudah saya anggap sebagai bentuk tanggung jawab" Atma tersenyum sambil melihat wajah Lia yang mulai tidak kelihatan bingung lagi.


"Sekarang, mau gak nemenin saya minum kopi?" tanya Atma kemudian. Lia tersenyum sambil mengangguk, menandakan dia setuju ikut Atma.


"laki - laki ini sikapnya cool. Tapi sungguh manis, sulit ditebak. Hmmm , beruntunglah Vika yang sedang dekat dengannya"


Lia tersenyum sendiri membayangkan hubungan Vika dengan Atma.


Tak lama mereka tiba disebuah kedai kopi yang cukup ramai. Atma mengajak Lia duduk disamping dinding kaca. Agar bisa melihat kesegala arah.


Pelayan datang lalu memberikan daftar menu.


"Mau pesan apa?" Atma bertanya kepada Lia.


"Hmmm , aku mocca coffe aja" jawab Lia sambil memperhatikan menu.


"Mocca coffe nya 2 ya mba" pesan Atma kepada pelayan kedai.


Menunggu pesanan datang mereka ngobrol kesana kemari. Bahkan setelah pesanan datang, mereka masih asik ngobrol.


"Ternyata dia asik juga" ucap Lia dalam hati.


Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.


"Yuk aku antar pulang" ucap Atma.

__ADS_1


Mereka beranjak dari tempat duduk masing - masing dan siap menerobos jalanan ibu kota.


\=\=\=\=<>\=\=\=\=


__ADS_2